My All Is In You

Apa yang kau rasakan jika kau mempunya seorang anak yang cacat? apa kau akan membenci dan menjauhinya? mungkin iya, Tapi tidak bagiku. Aku mencintai dan menyayangi anakku, malaikat kecilku. Buah hati yang selama 5 tahun aku tunggu bersama dengan istriku, dan ini adalah kisahku…

***

Seoul International Hospital…

“yeobo…aku takuutt…” lirihnya yang sudah terbaring di ruang ICU

“kau pasti bisa jagiya, aku selalu berada disampingmu” aku berusaha untuk menenangkannya dan mengusap pelan rambutnya

“sudah siap nyonya…” ucap salah satu suster, dan hanya dibalas anggukan darinya. Kulihat istriku dibawa kedalam ruang operasi. Ia tidak bisa lahir dengan normal, karena bayi kami kelilit tali pusarnya.

—–

Aku terus menunggunya. Semua keluargaku maupun istriku menunggu dengan cemas bercampur bahagia karena di keluarga besar ini akan ada suara tangisan bayi yang selama ini kami tunggu. 5 tahun kami menanti kehadirannya dan hari ini lah kebahagiaan kami lengkap.

2,5 jam kemudian…

CREK

Pintu kamar operasi terbuka, aku langsung menghampiri dokter yang baru saja keluar.

“bagaimana istri dan anak saya dok?”

“selamat tuan, keduanya selamat dan anak anda perempuan”

“terimakasih tuhan..”

“keundae…”

“kenapa dok?”

“mari ikut ke ruangan saya…” ucap sang dokter mendahuluiku dan aku mengikutinya dari belakang dengan diikutik keheranan dari semua keluargaku.

Di ruang dokter…

“maaf saya tidak mengetahuinya dari awal”

“maksud dokter?”

“apa istri anda pernah merokok atau pernah terjangkit penyakit?”

“tidak dok, istri saya sangat sehat, memang ada apa dengannya dok?” aku mulai cemas

“istri anda sehat, tapi ada virus yang menyerang anak anda, ia lahir cacat…”

“m..mwo? cacat?”

“ne, maafkan saya tuan..”

“apa dia sudah mengetahuinya?”

“belum, istri anda masih dalam pengaruh biusnya”

—-

Aku berjalan gontai keluar ruangan. Anakku cacat. Apa reaksi yang akan aku terima jika shin ji mengetahuinya. Aku berjalan ke ruangan bayi. Kulihat papan nama bertuliskan namaku dan istriku, orang tua dari anak tersebut. Dia terlihat sehat, tapi aku tidak tahu dimana letak kecacatannya.

“sungmin-ah…” panggil ibuku dari belakang

“ne omma…”

“shin ji sudah siuman, dia mencarimu”

“arraseo”

“ada apa denganmu? Kenapa kau terlihat sedih nak?”

“aniyo omma, aku baik-baik saja…”

“sungmin-ah, jangan berbohong pada omma…” aku pandang wajah ibuku dan memeluknya erat. “mianhae omma…” ucapku lirih,

“waeyo?”

“mianhae jika tidak bisa memberikan omma cucu yang sehat” aku tak kuasa menahan air mata ini

“apa maksudmu?”

Dengan berat hati aku menjelaskan apa yang terjadi. Ia memang shock tapi omma menyemangatiku untuk tetap menerima anakku. Ini hanya cobaan dari yang kuasa.

“kau pasti bisa sungmin-ah, omma percaya padamu” ucap omma

“jeongmal gomawo omma…”

***

3 tahun kemudian…

“om..ma..a..a..a..” rengek rinchan kecil yang bergeleyot manja di kaki shin ji

“aah, sungmiiiin ini nih…” teriak shin ji yang lagi asik dengn laptopnya

“ne~ sebentar..” aku yang sedang sibuk didapur menghampiri keduanya dan mengambil rinchan ke pelukanku

“urusin tuh anakmu…” ucapnya ketus. Aku hanya menggelengkan kepalaku, percuma jika menyahutinya, dia akan makin membenci rinchan.

“rinchan sayang, main sama appa saja yaa…”

Aku berusaha menenangkannya, tapi ia terus saja memanggil ommanya

“aduuuh, mending kau ajak keluar deh, aku enggak bisa konsentrasi nih, besok  deadlinenya”

“ne~, aku ke taman, ayo rinchan pakai mantelmu”

Di taman…

Aku menurunkan rinchan dan ia berjalan dengan besi yang menyangga di kaki kecilnya ke lingkaran bermain yang dipenuhi salju. Ia sangat senang dengan salju. Bermain dengan lincah, padahal hanya bermain sendiri. Dia adalah rinchan, anak yang divonis cacat sejak lahir. Shin ji baru mengetahui bahwa anaknya cacat setelah rinchan berumur 1 tahun. Sejak itu shin ji membencinya dan sama sekali tidak mau melihatnya. Sikap shin ji padaku juga sangat berubah, ia memang sedikit membenciku karena merahasiakannya. Tapi karena rasa cinta yang masih tersisalah kami bisa bertahan. Kadang aku ingin menangis melihat rinchan merengek pada shin ji hanya untuk minta digendong. Dengan sabar aku mengurus rinchan dengan segenap kasih sayang yang aku punya. Aku tidak memandang kecacatan dalam diri rinchan, meski ia terlahir lumpuh dan keterbelakangan mental. Di mataku rinchan anak yang manis dan pintar.

“uuh…uuuh..ap…paaa.aa…a” rengeknya, aku segera menghampirinya

“kenapa sayang?”

“uuh, ni..” ia menunjuk ke bawah tali sepatunya yang terlepas

“ooh, tali sepatumu lepas, sini appa betulkan…nah sudah rapi kembali deh, hha”

“ehehehehee” tawa rinchan, lalu ia memelukku erat. “saranghaeyo rinchan…” bisikku.

***

3 tahun kemudian…

Ini adalah hari pertama anakku bersekolah. Ia aku sekolahkan di sekolah khusus.

“jagi, nanti kita bisa mengantar rinchan bersama?” tanyaku sambil menyiapkan makanan

“aku sibuk, sudah ya..aku jalan” ia pun berlalu, kulihat raut kesedihan di wajah rinchan

“rinchan-ah, mungkin omma sangat sibuk, appa akan mengantarmu ke sekolah, okei?” ucapku dan hanya dibalas anggukan pelan darinya.

Sesampainya di sekolah…

“nah, kita sudah sampai…rinchan-ah nanti appa tinggal ya dan sepulangnya akan di jemput oleh halmeoni oke?”

“ne appa…”

***

Untungnya keluargaku bisa menerima kekurangan dari rinchan dan ibuku sangat menyayanginya. Kadang aku berpikir sampai kapan aku terus begini, hidupku hanya untuk rinchan. Ayah dan ibuku sering mengusulkan agar aku berpisah saja dengan shin ji, tapi aku masih mempertahankannya karena rinchan, aku masih ingin mencoba agar shin ji bisa menerima anak kandungnya. Dengan usaha yang selama ini aku coba, akhirnya sedikit membuahkan hasil. Shin ji bisa meluangkan waktunya untuk berjalan denganku dan rinchan ke taman bermain. Hari itu rinchan terlihat sangat bahagia.

Author POV

“jagi, tunggu disini sebentar ya…” ucap sungmin pada shin ji

“kau mau kemana?”

“ke belakang sebentar, kalian duluan saja ke mobil, ini kuncinya, nah rinchan sama omma dulu ya..”

“ne appa…”

Dengan berat hati shin ji menggandeng rinchan. Ia berjalan menuju parkiran. Karena dipikir sungmin masih lama, ia duduk di bangku dekat parkiran. Rinchan berlarian dengan riang, sesekali ia mengajak shin ji untuk ikut bermain bersamanya.

“omma, main…”

“aku lelah, kau saja sana main..” ucap shin ji, ia memejamkan matanya sejenak

Rinchan terus bermain hingga ke tengah jalan, saat ia hendak mengambil boneka yang terjatuh, mobil dengan kecepatan tinggi melintas dihadapannya dan rinchan pun terlempar jauh.

CCIIIIITTTT, BRAAKK

“RINCHAAAANN” teriak shin ji histeris, ia berlari mendekati gadis mungil yang sudah tidak berdaya.

—–

Seoul International Hospital…

Sungmin duduk lemas di depan ruang ICCU, didalamnya rinchan sedang berjuang untuk hidup. Dan sedangkan shin ji ia terus berdiri dan menangis, ia merasa bersalah karena lalai menjaga rinchan.

“sungmin-ah…” ibu sungmin yang baru saja datang menghampiri sungmin dan memeluknya

“omma…rinchan…” isak sungmin di pelukan ibunya.

CKREK

“bagaimana anak saya dok?” tabya sungmin cemas

“kondisinya masih sangat kritis, tapi saya sudah berusaha semampu saya, dan hanya do’a yang bisa menolongnya” ucap sang dokter

Sungmin menoleh dan menghampiri shin ji…

PLAK !!

“sungmin” sentak ibunya yang melihat sungmin menampar shin ji

“kau puaskan?! kau senang kan rinchan jadi sakit?! Atau bahkan kau berharap rinchan tidak selamat?!” bentak sungmin

“oppa…mian..mianhae” isak shin ji sambil menunduk, ia tidak berani menatap wajah sungmin, tidak pernah sungmin membentaknya apalagi menamparnya

“aku hanya minta tolong untuk menjaganya sebentar saja, tapi…dia itu anakmu, ANAK KANDUNGMU!!” emosi sungmin makin memuncak

“mianhae…” tangis shin ji semakin kencang

“AKU MENYAYANGINYA MELEBIHI DIRIKU, BAHKAN AKU MENCINTAINYA MELEBIHI CINTAKU PADAMU!! APA PANTAS SEORANG IBU BERBUAT SEPERTI ITU PADA ANAKNYA?!!” teriak sungmin

shin ji terduduk lemas, ibu sungmin menghampiri sungmin, berusaha untuk menenangkannya.

“selama ini aku sudah bersabar, aku terima kau masih belum menerimanya, aku terima kau membenci diriku karena telah membohongiku tapi apa tidak ada rasa kasihan dari hatimu untuk rinchan? Meski kau selalu membencinya, dia tetap menyayangimu karena kau ibunya…” lirih sungmin, shin ji masih tidak bicara, ia hanya menangis.

“sudah sungmin-ah…lebih baik kau berdoa untuk keselamatan rinchan” ucap ibu sungmin dan menggiring sungmin duduk, sungmin menutup wajah dengan kedua tangannya. Ia sudah lelah dengan semua ini hari yang dia pikir adalah hari bahagia untuknya dan rinchan malah berakhir seperti ini.

—–

Shin ji berjalan lunglai ke rumahnya, ia menyesal karena telah menelantarkan rinchan. ia menyesal karena telah membenci sungmin. Ia masih mencintai sungmin dan juga menyayangi rinchan.

Shin ji masuk ke kamar rinchan, kamar yang selama 6 tahun ini tidak pernah ia masuki. Semua yang mendekor kamar ini sungmin dan rinchan sendiri. Dilihatnya kertas dengan 3 gambar. sungmin, rinchan dan shin ji.

“rinchan…” ucap shin ji tangisnya makin kencang, apalagi setelah ia melihat tulisan dibalik kertas tersebut ‘rinchan sayang omma…’

“maafkan omma nak…aku bukan ibu yang baik untukmu…maaf…maaf…” isak shin ji, sambil memeluk gambar tersebut.

***

Di rumah sakit, sungmin terus berada disamping rinchan. tak hentinya ia berdoa untuk keselamatan rinchan. dan dari depan pintu shin ji berdiri memandangi keduanya. Ia ingin memohon maaf pada sungmin dan terutama pada rinchan.

Semalaman sungmin menunggu disamping rinchan dan shin ji dengan setia menunggu diluar, ia terlalu takut untuk menemui sungmin. Saat sungmin keluar kamar, ia sedikit terkeju melihat shin ji yang masih menunduk.

“mau apa kau disini?” Tanya sungmin ketus

“aku tahu aku memang salah, aku bukan ibu yang baik…tapi apa masih ada kesempatan bagiku menebus kesalahanku?” Tanya shin ji

“jika tidak ada insiden ini kau tidak akan berubah kan?” ucap sungmin lalu meninggalkan shin ji, tapi tangannya di tahan oleh shin ji dan ia berlutut dihadapan sungmin

“maafkan aku…aku akan lakukan apa saja untuk menebusnya, aku tidak mau kehilangan dirimu…dan juga rinchan, aku mohon sungmin, beri aku kesempatan untuk menjadi istri dan ibu yang baik” mohon shin ji dengan isak tangis. Sungmin merasa sedikit lega karena shin ji akhirnya sadar, tapi untuk menerima shin ji itu tidak mudah, sungmin tak tahu apa masih ada cinta untuk shin ji

“ku mohon sungmin, beri aku kesempatan…”

***

Lee Sungmin POV

2 bulan kemudian…

Sudah 1 bulan rinchan keluar dari rumah sakit. Aku sangat lega dan bersyukur karena rinchan-ku telah kembali. Aku mencoba untuk memberikan kesempatan pada shin ji untuk menebus kesalahannya pada rinchan dan aku melihatnya, shin ji mencurahkan perhatiannya untuk rinchan, mengantarnya kesekolah, menyiapkan sarapan untukku dan rinchan dan masih banyak lagi. kulihat raut kebahagiaan terpancar dari wajah rinchan. ini  lah yang selama ini aku impikan, rinchan bisa dekat dengan ibunya. dan aku…aku akan mencoba untuk mencintai shin ji lagi.

Itulah kisahku, menyedihkan memang, tapi pada akhirnya aku bisa merasakan kebahagiaan keluarga yang lengkap. Aku akan lakukan apa saja untuk kedua orang yang paling aku sayangi didunia ini. Rinchan dan istriku, shin ji.

FIN

Cuap-Cuap author :
haluuu~~ hehe,
i’m back again !! mian jika judulnya rada enggak pas ama jalan ceritanya, abis saya juga bingung mau dikasi judul apa, tapi kayaknya yang cocok ‘oh mama, oh papa??’ hehe, ff ini terinspirasi dari episode starking yang pesertanya itu anak tuna netra, tapi suara mereka keren banget dan aku liat anak-anak suju sampai terharu !! dan menurut aku yang paling cocok meranin tokoh ini sungmin *author lagi sukaa banget ama abang sungmin :P* oh ya ff ini juga bikinnya ngebut, bikin dari jam 9 -10 malem trus lanjutin tadi 1 jam, ngebuuutts, semoga suka yaaa… *seperti biasa, leave a comment after you read this fanfic *bener gak bahasanya?? hehe* \(^.^)/

31 thoughts on “My All Is In You

  1. dhikae berkata:

    crtanya mngharukan eonn…
    aku jdi pgn T.T
    umin… kw appa yg baik skali ^^b
    i love this ff…
    da pljaran yg bs dipetik dri ff ni…🙂
    good job eonnie

  2. hyunnie berkata:

    hwaaaa..
    aku nangis siang2..
    mengharukan ceritanya..
    penyesalan memang selalu datang belakangan..
    setidaknya selalu ada kebahagiaan dibelakang kesedihan..
    nice ff..
    ^^

  3. hyunnie berkata:

    hwaaaa..
    aku nangis siang2..
    mengharukan ceritanya..
    penyesalan memang selalu datang belakangan..
    setidaknya selalu ada kebahagiaan dibelakang kesedihan..
    nice ff..
    ditunggu ffnya lgi ya..
    ^^

  4. Annyeong,
    aq reader baru
    ikt.An komen y…

    Hiks,kisahmu mnyedihkan skali yeobo…Kalo si shin ji udh g bsa dharapkan lgi,km blh kmbali k aq*d gantung teukie*
    salut bgt ama sungmin,kau bnr2 ayah yg trbaik,yeobo*dpelototin teukie*
    nice ff,mnyentuh n mnggugah nurani qta2 sbg calon ortu

  5. wah..sungmin oppa…gentle bgt ahh…

    khas appa >,<

    hahahaaha..

    FF ini bagus..wah FF disini sgt berwarna…tapi rata2 ttg Future

    banyak plajaran yg bs diambil..

    btw,,jangan2 ini authornya udah pngalaman..mngurus anak..ahhhahha

  6. moon ri yoong berkata:

    ceritanya sedih banget. tapi sungmin begitu sabar jadi bapak. yampun jadi pengen suami seperti sungmi atau sungmin sendirinya juga boleh deh. heheheheheh

  7. KyuRei berkata:

    eonni… baguss.. sukses buat saeng agk mewekk..
    hrusnya sungminnya dikejemin lg sm shin ji nyaa.. ^_^
    itu saran saengg…

  8. pumkinslover berkata:

    sedih ih… eonni bikinnya kok yang sedih sedih sii =.=
    T^T;;
    hikkkssuu
    min yg baik.. jadi suamiku ajah sini
    #eh? hehhehehe

  9. taeminuna berkata:

    ikutan sedih. sekalipun punya kekurangan ga seharusnya shinji jd kejam gt sm anak kandungnya.
    Untungnya rinchan msh punya bpk yg waras *hug minnie*

  10. ff nya menyentuh banget. sampai nangis akuuu*lebay
    syukur lah eomma nya sadar,masa anak yg di tnggu2 begitu dah lahir di telantarin -_-
    aku suka gaya sungmin di ff ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s