My Girl [Part 4]


“ini agasshi…” ucap seorang pelayan toko seraya menyerahkan kue pesananku.

“ne, kansahamnida” balasku dengan menyerahkan beberapa lembar uang.

Sudah 2 hari kibum dirawat. Dan sampai sekarang ia belum juga sadar dari masa kritisnya. Baru kali ini aku sempat mengunjunginya lagi. Bus yang membawaku ke rumah sakit sampai. Aku berjalan menuju kamar 310. Dari depan kaca aku tidak melihat kim ahjumma. Apa ia sedang keluar?.

Aku masuk kedalam dan duduk disampingnya. Selang infuse dan perban di kepala dan tangan masih terpasang dalam tubuhnya. Aku meletakkan kue telur di meja samping. “kibum-ah…cepatlah sembuh, aku masih punya Utang 2 permintaan padamu…”

Tapi orang yang aku ajak berbicara masih mendiamkanku. Setelah mengetahui semuanya, aku merasa sangat iba dengan kibum. Siapa yang percaya jika kibum adalah adik tiri siwon oppa. Yah…dia adik tirinya. Aku baru mengetahuinya kemarin, siwon oppa menceritakan semuanya padaku…

Flashback…

”siwon-ah, ppali…”

Aku melihat seorang ibu berumur sekitar 40 tahun berlari kecil menghampiri pintu operasi.

”siwon oppa?!”

”hyechan?!!”

“kau yang menolong kibum?!” Tanya ibu tersebut,

“n..ne, aku teman sekelasnya…”

CKREK

Pintu operasi terbuka,

“anda keluarganya?” Tanya sang dokter

“iya, saya ibunya, bagaimana keadaan kibum?”

“dia masih dalam masa kritis, ia terlalu banyak kehilangan darah, kita hanya bisa menunggunya pulih…tapi anda sudah bisa melihatnya sekarang, permisi”

“andwae, kibum-ah…” ibu itu menangis, dengan sigap siwon merengkuhnya kedalam pelukannya. Aku hanya bisa melihatnya dalam diam, aku masih bingung dengan semua ini.

“kibum pasti sembuh omma…” ucap siwon oppa pelan

‘mwo?! Omma? Apa sebenarnya hubungan kibum dan siwon oppa? ’ banyak pertanyaan berkecamuk dalam hatiku.

—–

Ibu itu masuk kedalam ruang perawatan kibum. Aku masih duduk didepan pintu kamar operasi. “hyechan-ah..” panggil siwon oppa dan duduk disampingku.

“oppa…”

“jeongmal gomawo kau sudah mau menolong kibum…”

“itu kewajibanku, kita ini kan teman…tapi…apa hubungan oppa dengan kibum?”

“ehmm…kibum adikku” ucapnya pelan

“a..adik?”

“ne, adik satu ayah…”

“…”

“kau pasti kaget mengetahui aku dan kibum punya hubungan kan?”

Aku hanya membalas dengan anggukan,

“5 tahun yang lalu, ayahku membawa seorang anak ke dalam rumah kami…ayah bilang dia adalah adikku…aku senang mempunyai seorang adik, apalagi dia lelaki, aku menyambutnya dengan ramah, tapi sayangnya, tidak dengannya…”

Siwon oppa menyandarkan tubuhnya ke dinding, dengan kedua tangan dilipat di dadanya. Aku masih mendengarkan dengan seksama, meski aku masih kaget dan bingung…

“dia sangat membenci aku dan ibuku…dia mengira ibuku telah menghancurkan keluarganya dan membuat ibunya meninggal…”

“meninggal?”

“ne, ibu kandung kibum meninggal karena serangan jantung setelah mendengar kabar bahwa perusahaannya bangkrut dan juga ia telah dimadu dengan ayahku…”

“oppa…” bulir air mata mulai keluar dari pelupuk mataku,

“seharusnya aku dan ibuku yang marah, bertahun-tahun kami semua dibohongi oleh ayah…tapi semua ini karena masalah perusahaan ayah, untungnya aku dan ibuku menerima kibum dengan baik, ibuku selalu mencoba untuk meluluhkan hatinya, tapi selalu diacuhkan oleh kibum…aku tahu kibum sangat kesepian, karena itu dia melampiaskan kesepiannya dengan berkelahi, membuat onar dan masih banyak lagi…meski kibum tidak pernah menganggapku sebagai kakak, tapi aku selalu menyayanginya…”

“…apa, orang lain tahu kau dan kibum kakak-adik?”

“ani…aku sengaja merahasiakannya…saat kau mengajaknya bermain basket, aku senang, setidaknya dia mendapat teman yang baik sepertimu…hmm, sudah malam, kau tidak mau pulang?”

“eh? Ne…aku pulang ya oppa…”

“aku antar?”

“aniyo, kau disini saja, mungkin ahjumma memerlukanmu, dan semoga kibum cepat keluar dari masa kritisnya ya oppa…”

“ne, gomawoyo hyechan-ah..”

End of flashback

”hyechan?” Choi ahjumma membuyarkan lamunanku, ia baru saja datang.

”eh…annyeong ahjumma…”

”annyeong, sudah lama datangnya?” tanyanya.

”belum, baru saja datang” balasku lalu berdiri, mempersilahkan ia duduk,

”terima kasih hyechan-ah…”

”ne?”

”kau mau berteman dengan kibum, kata siwon…kau sekelas dengan kibum?”

”i..iya ahjumma…”

”boleh aku minta tolong padamu?”

”ne, sebisa mungkin aku akan membantu”

”temani kibum…mungkin hanya kamu orang yang dekat dengannya..kibum memang susah untuk terbuka dengan orang lain, tapi kau mau kan?” pinta ahjumma sambil menggenggam kedua tanganku

”ne ahjumma, sebisa mungkin aku akan menjadi temannya…”

***

Aku menyusuri jalanan dan duduk di taman. Aku ingat, di taman ini pertama kali aku bertemu dengan kibum. Dia yang baru saja habis berkelahi, dengan kegalakannya, hmm…aku jadi rindu dengan cueknya. ”aish! Kenapa aku jadi memikirkannya terus…” ucapku sendiri sambil menggelengkan kepalaku.

”hyechan!”

”sungmi-ya…”

”sedang apa kau disini?”

”ani..baru saja aku sampai, kau sedang apa?”

”oh, aku habis belanja…bagaimana keadaan kibum?” ucapnya dan duduk di sebelahku,

”belum juga sadar…” jawabku lesu

”lalu keluarganya?”

”ehm…sungmi-ya, apa kau percaya jika siwon oppa dan kibum…kakak-adik?”

”MWO?! Kau serius?”

”sstt, biasa aja kali…”

”hya! Bagaimana aku tidak kaget, mereka adalah orang dengan kepribadian yang sangat berbeda”

”memang, mereka hanya 1 ayah”

”tapi kenapa disekolah mereka saling diam?”

”hubungan mereka tidak akur…”

Aku menceritakan semuanya pada sungmi. Orang yang aku ceritakan hanya bisa menganga lebar (*O*)?

”aigo~ seperti drama saja, ckckck”

”hmm, ya…begitulah, sudah ya…aku pulang…”

”ne, hati-hati kau…”

”annyeong” pamitku pada sungmi

***

BLAM!

Ku lihat Choi ahjumma keluar dari kamar kibum dengan wajah yang lesu. Ku hampiri ia dan duduk disampingnya…

”ahjumma…”

”hyechan?”

”ne…waeyo ahjumma? apa kibum sudah sadar?”

Ia hanya menganggukkan kepalanya pelan, ”boleh aku lihat?”

”silahkan, sepertinya ia tidak mau aku bantu…”

Aku berdiri dan masuk ke dalam kamarnya, ku lihat kibum sedang berusaha makan dengan tangannya yang masih di perban,

”mau ku bantu?” tawarku, tak ada jawaban darinya, ia terus berusaha memegang sumpit. Ku ambil sumpit dan mangkuk yang ada di hadapannya, ”hei! Aku mau makan!” bentakknya

”sampai kapan kau mau begitu? Buka mulutmu!” suruhku, tapi ia malah membungkamkan mulutnya,

”AISH! Aku tahu kau lapar, aku hanya mau membantumu, ayo cepat buka mulutmu!”

Ia membuka mulutnya sedikit, aku langsung menyuapinya. Baru 4 suapan ia sudah mengeluh kenyang. ”ayo makan lagi”

”kenyang…sudah aku mau tidur” ucapnya, ia merebahkan tubuhnya dan menarik selimut,

”cih~bagaimana kau mau cepat sembuh! Kasihan choi ahjumma yang terus menunggumu dari kemarin” ucapku, ia melihatku dengan tatapan emosi,

”bukan aku yang menyuruhnya untuk perhatian padaku! Lagian kenapa kau juga perhatian padaku!”

”HYA! Apa salah aku perhatian pada orang yang aku sukai !”

’OOPS !! apa yang barusan aku ucapkan! Hyechan pabo!’ aku mengatupkan bibirku dan kibum menatapku dengan sangat terkejut. ”aah, haha…lupakan apa yang aku katakan barusan…sudah ya, aku pamit” aku langsung keluar kamar. ’aduuh!! Wajahku merah, jantungku berdegup kencang…keundae, apa iya aku menyukainya?!’ batinku

To be Continue…

Cuap-Cuap Author :
mian kalo makin garing nii ff, tapi saya sudah berusaha semampunya…maklum kebagi ama pikiran tugas..hehe, jangan lupa komen yaahh….😀

8 thoughts on “My Girl [Part 4]

  1. dhikae berkata:

    huwaaaaaa awalnya takud kibumnya mati >< *plakk ngayal
    tpi untungnya dya sadar jg..kekekeke
    hmm… hye chan salting gr2 mbum..kekekee
    akhhh hye chan ma kibum so sweet
    lanjutkan eonnie!!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s