My Child [2 of 2]

SONG LIST YOU MUST HAVE FOR THIS FANFICT :

  • K WILL – LOVE IS PUNISHMENT (WAJIB DIDENGERIN)
  • KYUHYUN – THE WAY YOU BREAK UP
  • BANG YONG GOOK FT YOSEOB – I REMEMBER
  • DBSK – ONE
  • YESUNG – WAITING FOR YOU
  • BEAST – ON RAINY DAYS
  • KYUHYUN – 7 YEARS OF LOVE
  • DAN SEMUA LAGU GALAU YANG ADA DI PLAYLIST ANDA~

 

I love you, let us start again
although it’s hard

“donghae…oppa…” lirihnya,

“apa….apa yang kau lakukan disini? Bagaimana kau tahu…” belum sempat donghae menyelesaikan ucapannya, siwon, suami dari minhee mendekatinya, “aku ingin melihat anakku” ucap siwon tegas.

“mwo?! Anak?! Apa maksud kalian?!!” ujar donghae sedikit emosi,

“o..oppa…bayi, bayi yang…”

“bayi yang telah ia buang 3 tahun lalu adalah anak kami, dan kami ingin mengambilnya kembali”

Donghae menatap tajam dua orang yang ada dihadapannya itu. Minhee terus menunduk diam, tidak berani menatap donghae maupun siwon. “kalian mengaku itu adalah anak kalian?” ucap donghae dingin,

“donghae-sshi…sebelumnya kami minta maaf tapi biarkan kami mengambil anak kandung kami lagi” ucap siwon tanpa merasa bersalah,

“darimana kau tahu kalau itu anak kalian hah?!”

“o…oppa…aku bisa menjelaskannya” minhee angkat bicara bersamaan dengan teriakan haeri dari dalam yang sontak membuat keduanya melirik ke belakang bahu donghae. “itu…bayiku…”

“maaf, aku sedang sibuk, kalian bisa datang lain kali” ujar donghae dan berusaha menutup pintu rumahnya, “donghae-sshi, kami tahu ini terlalu mendadak tapi…”

“maaf! Aku sedang sibuk!” BRAK! Donghae membanting pintu rumahnya kasar. “bayiku…hiks…oppa…” tubuh minhee seketika lemas, dengan sigap siwon memapahnya, “masih terlalu cepat chagiya…aku akan bicara baik-baik dengannya, kita pulang ya…” ujar siwon lembut, ia papah minhee keluar dari apartemen donghae.

Sedangkan di dalam donghae masih shock. Otaknya masih mencerna semua yang baru saja terjadi.

Minhee membuang haeri? Tapi kenapa ia malah meminta haeri lagi setelah…3 tahun ini…dan pria itu, dia yang membuat minhee pergi dariku..

Donghae terus melamun hingga tak sadar air mata pun perlahan mengalir dari kedua matanya. Dadanya terasa amat sesak, hingga sulit untuk bernafas. “Minhee…choi minhee…” Lirihnya.

 Luka lama itu pun kembali terbuka. Rasa sakit hati yang selama 6 tahun ini ia lupakan kembali teringat kembali. Tidak mudah bagi donghae untuk melupakan minhee, donghae mencintainya, sangat mencintainya. Bahkan sampai detik ini pun, seluruh hatinya hanya terisi minhee…

***
flashback, 7 years ago…

Alunan lagu timeless piano version terdengar dari salah satu ruang kelas yang sudah sepi.

Seorang pria, sambil memejamkan kedua matanya larut dalam alunan lagu yang mengalir dari petikan jarinya diatas piano putih itu.

Terkadang ia tersenyum kecil, membayangkan sosok seorang gadis yang selalu memenuhi hati dan pikirannya akhir-akhir ini.

Krek!

“Ya! Oppa!” Seru seorang gadis diambang pintu sambil menunjukkan wajah kesalnya, donghae sontak menghentikan permainan pianonya, “minhee-ya…”

“Aish! Tak tau kah kau suhu diluar sana mencapai 8 derajat?!” Omelnya sambil menghampiri donghae,

“Ehehehee…mianhae, ayo pulang” ujar donghae tanpa merasa bersalah, ia ambil tas ranselnya dan juga jaket tebalnya yang lalu di sampirkan di bahu minhee, “pakai ini, kalau kau sakit, ayahmu akan mencekik leherku” ujar donghae dan hanya dibalas pukulan pelan dari punggung tangan minhee.

Donghae dan minhee, jarak umur mereka hanya 3 tahun. Mereka bertetanggaan sejak kecil. Ibu minhee sudah tiada saat minhee masih di bangku sma karena penyakit jantung. Karena minhee anak tunggal, ia pun memang sangat dimanja. Ia sangat dekat dengan donghae maupun donghwan, kakak lelaki donghae.

Rumah mereka pun bersebelahan, kamar donghae yang ada di lantai 2 sama dengan posisi kamar minhee. Waktu kecil dulu donghae dan minhee sering bermain lewat telepon kabel yang sengaja donghae buat, agar mereka bisa mengobrol dimalam hari. Jika minhee tidak bisa tidur, ia pasti membangunkan donghae dan memintanya untuk melihat bintang-bintang.

Minhee sudah mengganggap donghae sebagai kakak kandungnya dan akan selamanya seperti itu. Tapi tidak dengan donghae. Sejak kecil donghae memang menyukai minhee. Ia bertekad akan selalu menjaga minhee.

Setelah dewasa, rasa sayang dan cinta donghae makin besar. Tidak ada gadis lain dihatinya selain minhee. Donghae selalu memendam perasaannya, ia tidak pernah berani mengutarakannya karna takut akan merusak hubungan persahabatan mereka. Hanya dengan melihat minhee tersenyum itu sudah cukup bagi donghae. Yang terpenting adalah, ia bisa menjaga minhee dengan baik.

Hingga pada suatu hari, donghae harus menerima kenyataan pahit. Kenyataan bahwa minhee memang tidak pernah mencintainya…

***

Saat itu hujan sangat deras. Donghae dan donghwan saling menghangatkan tubuhnya di perapian kecil di ruang tamu.

“Kapan kau akan bilang padanya?” Celetuk donghwan seraya menyeruput coklat panas miliknya,

“Mwo?”

“Ish! Jangan pura-pura tidak tahu hae-ya…aku sudah mengalah, melepas minhee agar dia bersamamu, tapi kalau kaunya masih diam saja, sama saja bohong aku melepas minhee” jelas donghwan,

“Hyung…kau juga menyukai minhee?” Donghae malah bertanya balik,

“Wajarkan? Kita ini tumbuh bersama hae-ya…”

“Hhh…nan mollayo hyung” ujarnya lesu,

“Ya katakan perasaanmu padanya”

“Tapi kurasa dia hanya menganggapku sebagai kakak, tidak lebih…” Ujarnya makin hopeless,

“Ish! Mana kau tahu kalau sebelum mencobanya, jangan sampai ia jatuh ke pria lain hae…” Donghwan memperingati. Donghae hanya menghela nafas berat, tanpa bicara lagi, ia beranjak ke kamarnya diatas.

Hujan masih turun dengan lebatnya. Ia buka jendela kamarnya yang langsung menghadap kamar minhee.

Setiap harinya jika ia melihat keluar pasti ia selalu bisa melihat minhee. Ia paling suka saat melihat minhee yang sedang membaca novel di meja belajarnya. Kedua mata indahnya terbingkai dalam kacamata coklat yang senantiasa bertengger di hidungnya.

Donghae melipat kedua tangannya dipinggir jendela dan meletakkan dagunya di atasnya. Kamar itu masih gelap dan sepi. Pasti minhee belum pulang, pikirnya. Choi ahjussi, ayah minhee pun saat ini sedang berada di luar kota. Ia tahu minhee sangat takut dengan petir, namun ia pun tidak tahu dimana minhee saat ini.

“Minhee-ya…apa kau juga punya perasaan yang sama denganku?” Lirih donghae pelan. Ia menghembuskan nafas berat dan memejamkan kedua matanya. Ia belum berani mengucapkan 3 kata tersebut, ‘aku mencintaimu, minhee’

Ia takut minhee akan menolaknya dan hubungan diantara mereka akan memburuk.

“Aarrrgghh !! Semua ini membuatku pusing!” Gerutunya sambil mengacak rambutnya gusar.

Udara makin dingin, untungnya hujan sudah sedikit reda, ia putuskan untuk menutup kembali jendela dan bergegas tidur, namun, baru saja mau menutup jendela bersamaan dengan lampu yang menyala dikamar seberang, minhee baru pulang.

“Minhee…” Ujarnya, ia buka kembali jendela, namun, seketika tubuhnya kaku melihat apa yang ada dihadapannya saat ini. Minhee tidak sendiri. Ada sosok lelaki berpostur tubuh tinggi yang tiba-tiba memeluknya dari belakang, mencium tengkuk lehernya dengan lembut dan mesra, bisa ia lihat senyum bahagia dan minhee, dan berbalik mencium pria tersebut.

Donghae melihat semua yang dilakukan minhee dan entah siapa lelaki itu. Jendela kamar minhee yang hanya dilapisi vuring tipis, hingga donghae benar-benar bisa melihat apa yang mereka lakukan, tak menyadari ada sepasang mata yang melihat kearah mereka nanar.

 Tangannya mencengkeram daun pintu jendela. Matanya berkaca-kaca, dadanya terasa sesak hingga ia pun sulit bernafas. “…min…hee…” Lirihnya, donghae memejamkan matanya pasrah. Ia membaringkan tubuhnya di ranjang, berusaha melupakan hal yang seharusnya tidak ia lihat.

Tapi satu hal yang ia sadari bahwa minhee memang tidak pernah mencintainya. Minhee hanya menganggapnya sebagai seorang kakak. Sejak saat itulah donghae menutup hatinya rapat-rapat. Hati itu seakan membeku dan tak ingin membukanya lagi untuk gadis lain.

***

1 minggu kemudian…

“Hae, jaga diri baik-baik, sering-seringlah pulang kalau sedang libur” pesan ibunya sambil tak lepas mengenggam tangan donghae. Donghae tersenyum dan kembali memeluk ibunya sayang. “arraseo eomma, aku jalan ya, hyung… jaga eomma, jangan sering kau buat susah, arraseo?” ujar donghae dan langsung diberi jitakan oleh donghwan,

“aish! selama ini siapa yang suka buat eomma repot hah?” gerutu donghwan kesal, donghae hanya terkekeh pelan. Ia tarik koper hitam dan juga tas ranselnya lalu berjalan keluar. Sampai depan pagar, ia berhenti sesaat melihat kearah jendela kamar minhee, jendelanya masih tertutup rapat.

“kau tidak pamit padanya?” celetuk donghwan dari belakang,

“sampaikan saja salamku…sudah ya, aku pergi” pamit donghae, ia berusaha menarik bibirnya untuk tersenyum, meski berat hatinya meninggalkan keluarganya. Namun ini adalah jalan yang paling tepat menurutnya. Ia tidak mau mengingat semua hal tentang gadis itu.

Ia ingin melupakan minhee dengan pergi ke seoul dengan mencari kehidupan yang lebih baik lagi. Dengan beasiswa yang ia dapatkan dari universitas seoul, donghae berniat melanjutkan sekolah musiknya disana. kesempatan ini sebenarnya sudah datang sejak lama, hanya saja donghae masih mempertimbangkan apa mengambilnya atau tidak, namun setelah ia melihat kejadian dua hari lalu di kamar minhee, ia tidak pikir panjang lagi dan langsung mengambil beasiswa tersebut tanpa sepengetahuan minhee.

Sejak kepergian donghae ke seoul, mereka tidak pernah bertemu. Yang donghae tahu keluarga minhee sudah pindah entah kemana karena minhee pun tidak pamit pada donghwan dan ibunya.

Flashback end

***

Seharian donghae terus berada di sisi haeri. Ia terus memperhatikan haeri. Jika dilihat, haeri tidak mirip dengan minhee dan juga…entahlah siapa pria itu yang tidak donghae kenal.

Donghae mengusap pelan rambut ikal haeri dan kadang tersenyum kecil. Ia bersyukur pengobatan haeri ada kemajuan, meski hanya sedikit. Sekarang haeri sudah mulai bisa merespon jika donghae memanggilnya. Haeri juga anak yang pintar, hanya saja kesibukan yang ia buat masih sering sulit di ganggu.

“haeri-ya…anak appa kan? kau anak appa…hanya appa yang kau punya haeri-ya..” ujar donghae. Ia tidak peduli siapa orang tua kandung haeri, yang jelas secara hukum haeri adalah anaknya, bahkan bisa saja ia membuat gugatan jika kedua orang tuanya itu terus berusaha mengambil haeri.

***

Sementara itu, di sebuah rumah mewah yang sudah hampir 3  tahun ia tinggali, kini terisi kembali. Meski selama kepindahannya ke luar negeri, rumah mewah itu tetap dirawat dengan baik.

“Chagiya…” Ujar siwon lembut sambil mengusap bahu minhee lembut dari belakang, minhee hanya menatapnya sekilas dan kembali merenung. Dalam hatinya ia sangat ingin melihat buah hatinya yang dulu ia buang. Bagaimana rupanya, apa mirip dengannya atau siwon?

“Oppa…apa yang harus aku lakukan?” Rajuknya sambil menahan tangis, siwon menggenggam erat tangannya, “hanya butuh waktu sebentar saja chagi…kita pasti bisa mengambil anak kita…” Ujar siwon berusaha menenangkan hatinya, min hee hanya diam, hatinya masih begitu resah. Masih ada persoalan lain lagi yang masih membebaninya, yakni keluarga siwon, terutama ibunya yang sampai sekarang tidak pernah menginginkan kehadirannya, bahkan menjadi istri dari choi siwon.

***

Gangnam, medical center…

“Annyeong haeri-chan…siap untuk bermain hari ini?” Ujar perawat haeri ramah. Donghae menyerahkan jemari kecil haeri ke tangan perawatnya dan masuk kedalam ruangan khusus yang didalamnya juga ada beberapa anak yang kondisinya sama dengan haeri. Sebelum donghae pergi meninggalkannya, ia sempatkan untuk melihat anaknya dari luar jendela.

Setelah memastikan haeri baik-baik saja dan bisa mulai berinteraksi dengan temannya, donghae pun beranjak pergi ke kantor. Hal inilah yang sudah menjadi rutinitas bagi donghae. Ia mengantar haeri ke perawatan sebelum berangkat ke kantor. Untungnya terapi yang sudah hampir 2 tahun ini haeri jalankan perlahan-lahan membuahkan hasil. Bisa dibilang haeri bisa menjadi anak normal kembali dan bisa menghilangkan keautisannya.

***

Setiap paginya penampilan donghae pasti selalu berhasil memikat para gadis di kantornya. Keluar dari mobil audy silver miliknya dan dengan setelan jas casual serta jeans yang membaluti tubuhnya, pastinya akan makin membuat semua gadis tergila-gila padanya.

“Aigo~ idola kita makin tampan saja…” Celetuk seorang gadis dengan postur tubuh yang gemuk dan perut yang makin hari makin membesar. Donghae hanya terkekeh pelan mendengar celotehan yang hampir setiap hari ia dengar itu.

“Haha, hati-hati rin-ah, nanti malah kau yang akan suka padaku” ujar donghae,

“Yah, seandainya bisa begitu oppa, daripada punya suami si bodoh itu…” Gerutu rin rin kesal,

“Kalau tahu bodoh kenapa kau masih mau menikah? Dan sekarang sedang hamil lagi” balas donghae,

“Yah, memang dianya saja yang sudah bertekuk lutut padaku…oh ya, ini berkas yang kemarin kau minta, dan ini bahan meeting untuk nanti” ujar rin rin dengan telaten mengurus semua keperluan bosnya,

“Oke…rin-ah, kau sudah mengurus surat cuti? Sudah 6 bulan bukan?”

“Sudah, tepat 7 bulan nanti aku cuti…sudah ya oppa, kalau ada perlu lagi, hubungi aku” ucap rin rin dan keluar ruangan donghae.

***

Siang harinya…

“Oppa, ada yang mencarimu” ucap rin rin via telfon,

“Siapa?”

“Dia choi minhee…”

“Minhee? ……… Biarkan dia masuk” ucap donghae. Gadis itu kini menemuinya lagi. Perasaan donghae kembali kalut, jujur, ia tidak mau melihat wajah itu lagi…

Rin rin mempersilahkan minhee masuk ke ruangan donghae. Di dalam, donghae masih membereskan pekerjaannya tanpa melihat kehadiran minhee sedikit pun. Minhee masih berdiri mematung di depan pintu ruangan donghae, tangannya berkeringat gugup. Entah sudah berapa tahun ia tidak melihat sosok pria yang dulu sudah ia anggap sebagai kakak lelakinya. Minhee terus menatap donghae, banyak perubahan dari pria itu, dan makin terlihat tampan pastinya.

“kalau kau kesini seperti kemarin, lebih baik tidak usah menghubungiku” ucap donghae dingin dan tanpa melihat minhee sedikit pun. Sekuat tenaga minhee menahan air matanya, ia sadari donghae telah berubah, bahkan ia seperti tidak mengenal donghae yang sekarang. Ternyata 7 tahun memang waktu yang cukup untuk mengubah sikap seseorang.

“…aku…aku kesini untuk menjelaskan semuanya…alasan mengapa aku membuang bayiku” lirih minhee sambil terus menatap donghae. Donghae meletakkan berkas yang tadi ia baca, melepas kacamatanya lalu meraih jaketnya, “bicara diluar saja” ucapnya lalu keluar ruangan, mau tidak mau minhee mengikutinya.

Donghae mengajak minhee ke café terdekat dari kantornya, café yang lumayan mewah. “silahkan jelaskan” ujar donghae seraya meminum kopinya, minhee terus menunduk dengan kedua tangan yang terus bergetar meremas tas kecilnya,

“saat kau menemukan bayiku…pasti ada surat didalamnya kan? surat yang berisi bahwa nyawa anakku terancam…” ucap minhee memulai pembicaraan,

“ne…apa itu benar?” minhee mengangguk pelan, “satu tahun setelah kau meninggalkan mokpo…aku menikah dengan siwon…” ujar minhee lagi, membuat luka lama yang sudah donghae tutupi, menyeruak kembali ke permukaan, ia benci jika harus mengingat hal ini lagi.

“aku bahkan tidak tahu kau sudah pergi ke seoul, karna kau tidak berpamitan denganku kan?”

“saat itu kau juga tidak ada…” potong donghae,

“…menghubungimu pun sangat sulit…tak lama setelah kau pergi, appa mengalami stroke… dan saat itulah aku mengetahui bahwa aku…hamil…” ucap minhee, donghae masih diam,menatapnya intens,

“…aku hamil dan itu anak siwon…tahu aku hamil, appa marah besar hingga kena serangan jantung dan…meninggal, saat itu aku tidak tahu harus bagaimana, meminta pertolongan dari keluargamu, aku malu…”

“apa pria itu tidak bertanggung jawab?”

“siwon bertanggung jawab, setelah proses pemakaman appa selesai, siwon menikahiku dan membawaku pergi ke seoul… tapi sayangnya pernikahan kami tidak pernah direstui oleh keluarga siwon, apalagi saat tahu aku tengah hamil, mereka tidak menerimaku karena aku berasal dari kalangan bawah… bahkan setelah kami menikah pun, keluarganya tetap ingin menjodohkan siwon dengan gadis lain…apalagi saat tahu aku keguguran, keluarganya malah bahagia dan memaksaku untuk menceraikannya” jelas minhee tak kuasa menahan air matanya. Perkiraan donghae salah besar terhadap gadis ini. Dia menanggung beban yang berat. Ia pikir gadis ini telah bahagia dengan pilihannya, tapi nyatanya…

“siwon tidak peduli keluarganya membenciku, ia tetap tidak mau melepasku…kami keluar dari rumah megahnya dan tinggal di rumahnya yang lain, namun tetap saja keluarganya selalu memata-mataiku, apalagi saat tahu jika aku hamil lagi…mereka selalu berusaha menggugurkan janinku dan selalu berhasil…”

“m..mwo?!”

“…sudah 3 kali aku dinyatakan hamil…tapi mereka selalu menggunakan segala cara agar bayiku tidak bisa hadir di dunia…untungnya, dikehamilanku yang terakhir aku bisa membesarkannya hingga ia lahir kedunia…” jelas minhee dengan isak tangis. Donghae masih tidak percaya dengan apa yang dijelaskan gadis ini. Ia benar-benar menanggung beban yang berat sendiran!

“…saat bayi itu…”

“haeri…namanya haeri” potong donghae,

“haeri…saat haeri lahir, aku hanya mempunyai waktu 2 hari untuk merasakan menjadi seorang ibu, mereka mengancam akan membunuh bayiku jika aku tetap melahirkannya dan bersiap akan ditinggalkan oleh siwon…aku terpaksa membuangnya dan berbohong pada siwon bahwa bayiku tidak bisa diselamatkan…saat itu aku merasa bahwa aku adalah ibu yang jahat, aku membuang darah dagingku sendiri…aku menyesal…aku sungguh menyesal…” isak minhee, donghae masih terdiam, jauh dalam hatinya pun sedih, seandainya ia bisa melindungi minhee, seandainya ia bisa merebut minhee, pasti gadis ini tidak akan tersiksa seperti ini.

“lalu kenapa sekarang kau kembali untuk meminta bayimu?”

“…setelah membuang bayiku…kami pindah keluar seoul, setelah pindah kukira aku bisa hidup tenang dan bisa hamil lagi, tapi sayangnya, beberapa bulan yang lalu dokter memvonisku tidak bisa hamil lagi…disaat itulah aku ingin mengambil anakku lagi…hanya dia…darah dagingku yang aku punya…aku terpaksa menceritakan semua yang aku rahasiakan pada siwon selama ini…siwon memang marah besar…lalu ia memutuskan untuk kembali ke korea dan mencari anak kami…”

“tapi kenapa kau sangat yakin kalau anak yang ada padaku adalah anak kalian?!” Tanya donghae masih acuh, “aku sudah mengetahuinya sejak kau menemukannya oppa…saat tahu bahwa bayiku ditemukan olehmu, aku sedikit lega karena dia jatuh ditangan yang benar, meski aku belum yakin apa kau akan merawat bayiku atau tidak…”

“lalu, setelah tahu semua ini…apa kau pikir semua ini akan membuat anakmu kembali?” Tanya donghae dingin, yang membuat minhee sedikit kaget, ia berharap donghae akan mengizinkannya untuk mengambil kembali anaknya,

“…oppa…aku…aku hanya ingin melihat anakku…izinkan aku bertemu dengannya oppa…kumohon…” mohon minhee terus menangis. “aku tidak bisa…mianhae…” ucap donghae dingin, dan beranjak pergi, dengan cepat minhee menahan tangan donghae dan berlutut dihadapannya, “minhee!”

“aku mohon…aku mohon oppa…izinkan aku melihatnya…hanya melihatnya…jika kau mau aku bersujud padamu akan kulakukan…demi melihat anakku…” isak minhee,

“apa kau tetap akan menerima haeri meski ia cacat?”

“…ca..cacat?”

“haeri…mengidap autis…” ucap donghae, membuat tubuh minhee kaku, melepas pegangan tangannya. Tubuhnya pun seketika melemas, anaknya cacat…

“kau tidak bisa menerimanya kan? setelah tahu haeri cacat kau pasti tidak akan mengambilnya karena itu akan jadi hal yang memalukan…”

“…ahni…aku tetap menyayanginya apapun yang terjadi…izinkan aku…kumohon izinkan aku melihatnya…” mohon minhee, donghae mengangkat tubuh minhee, menghapus air mata di kedua pipinya. Bisa ia lihat wajah lelah gadis ini, pasti ia selalu memikirkan keadaan anaknya. Bahkan minhee sendiri pun lupa kapan ia bisa tersenyum…

“nanti sore temui aku di alamat ini” ucap donghae seraya memberi alamat tempat perawatan haeri. Minhee hanya diam sambil terus memandangi kertas pemberian donghae. Hingga tak sadar donghae telah meninggalkannya.

Dari luar café donghae masih menatap minhee yang masih terdiam. Hatinya sakit melihat kondisi gadis itu. Jika minhee bersamanya, ia tidak akan tersiksa seperti ini. “minhee-ya…mianhae…” lirih donghae dan beranjak masuk ke dalam kantornya.

***

Siang harinya minhee datang ke tempat terapi haeri. Matanya sibuk mencari sosok lelaki itu. “dimana dia…”

Mata minhee pun tertuju pada satu titik, seorang lelaki yang tengah menggendong anak perempuan berbaju ungu, rambut anak itu panjang dan ikal. Ia tidak terlihat seperti anak cacat pada umumnya. Anak itu sesekali tertawa digendongan pria itu.

“donghae oppa…” panggil minhee pelan, donghae langsung mengajak minhee ke taman belakang gedung yang sedikit sepi. Ia memangku haeri, sedangkan minhee diam dan terus menatap gadis kecil itu.

“dia haeri…” ucap donghae, tangan minhee perlahan memegang tangan haeri, tapi langsung ditepis oleh haeri, “…a!”

“butuh penyesuaian agar bisa dekat dengannya, haeri bukan anak yang mudah dekat dengan orang asing…” Jelas donghae, minhee kembali menangis, ia menutup bibirnya dengan kedua tangan dan terus memandang haeri yang sibuk bermain barbie dipangkuan donghae.

Bayi yang dulu ia buang, kini sudah menjadi gadis kecil yang cantik. “…haeri…” Panggil minhee, haeri tidak menoleh,

“…2 tahun lalu, aku menemukan haeri dengan tangannya yang penuh darah…ia menangis kencang tapi tangannya terus bergerak menyayat tangannya…” Ucap donghae sambil mengenang saat pertama kali tahu haeri mengidap autis, “…ini bekasnya” tunjuk donghae pada bekas sayatan di tangan putih haeri, minhee hanya bisa menangis melihatnya. Kadang ia elus rambut haeri pelan, meski anak itu tidak mengidahnya,

“…setelah itu aku baru tahu haeri mengidap kelainan di otaknya, kata dokter kemungkinan karena saat masih dikandungan ia terkena zat yang berbahaya…mungkin akibat keluarga suamimu, yang ingin menggugurkannya” lanjut donghae,

“…boleh aku memangkunya?” Pinta minhee, donghae melihatnya sejenak lalu memindahkan haeri ke pangkuan minhee, seketika minhee langsung memeluknya erat, meski ekpresi haeri datar saja dan tetap fokus pada barang yang sedang dipegangnya, “anakku….hiks…maafkan aku…hiks…maafkan aku nak…” Isak minhee. Melihat minhee seperti itu donghae hanya bisa diam. Ia paham perasaan minhee, tapi jika mengingat harus mengembalikan haeri pada ibunya…itu adalah hal yang paling berat donghae lakukan. Haeri adalah segala-galanya untuknya.

***

Siwon’s house…

Minhee masih diam didalam kamarnya. Hari ini adalah hari terpanjang dalam hidupnya. Ia masih merasakan tubuh kecil yang tadi ia peluk, begitu hangat dan tentram. Air mata kembali menggenangi pelupuk matanya. Hatinya sudah lelah menanggung semua beban ini. Kadang ia merasa ingin lepas dari siwon dan membiarkan dirinya pergi hingga bisa hidup dengan tenang, tapi cinta siwon pada minhee menjadikan siwon selalu mengurung minhee di dalam semua kemewahan ini.

Minhee bangkit dari tidurnya dan ke balkon kamarnya, memandang langit malam yang mendung. Hawa dingin yang menusuk kulitnya bahkan sudah tidak terasa lagi. Ia ingin menyudahi semuanya, tubuh dan hatinya terlalu rapuh menerima semua cobaan ini, ingin rasanya ia tidur dan tak akan pernah terbangun lagi…

Tengah malam…

“chagiya?” ucap siwon pelan, ia baru pulang dari kantornya dan heran tidak melihat minhee di ranjang mereka. Ia lihat pintu balkon masih terbuka lebar dan…

“ASTAGA! MINHEE!!” seru siwon yang langsung menggendong tubuh minhee yang hampir membeku. Ia tidurkan minhee di ranjang, membuka semua pakaian minhee dan membalut tubuh ringkih itu dengan selimut tebal. Bibirnya membiru, wajahnya begitu pucat. Hanya satu kata yang keluar dari bibirnya, “…hae…ri…”

Tubuhnya masih menggigil, siwon membuka bajunya juga dan masuk kedalam selimut, mencoba mentransfer suhu tubuhnya yang panas ke tubuh minhee. Ia ciumi puncuk kepala minhee, hatinya pun sedih melihat kondisi gadis yang ia cintai begitu mengenaskan. Ia merasa menjadi pria yang sangat bodoh, membahagiakan minhee saja ia tidak becus. “chagiya…mianhae…karenaku kau pasti tersiksa…” lirih siwon. Ia paham perasaan minhee, ia ingin melepas minhee agar bisa hidup dengan tenang, namun, rasa cinta siwon yang begitu besar padanya membuat siwon tidak akan pernah bisa melepas minhee.

***

Keesokan harinya, Suhu tubuh minhee kembali pulih, meski kondisi badannya masih sangat lemah. Dengan telaten siwon merawat minhee, dan selalu berusaha menghibur minhee.

“chagiya…makan dulu ya” ucpa siwon seraya menyuapi bubur, minhee hanya menggeleng pelan. “chagiya…sedikit saja, biar tubuhmu ada tenaga…” ucap siwon, tapi minhee masih diam. Ia ambil mangkuk bubur yang ada di tangan siwon dan meletakkannya di meja, matanya menatap wajah rupawan suaminya itu, mengelus pipi siwon dengan sayang dan menggenggam erat tangan siwon,

“chagiya…”

“…apa oppa bahagia?…apa selama menikah denganku oppa bahagia?” lirih minhee, siwon menatap minhee heran, “…minhee…”

“…aku bukan wanita yang sempurna…aku tidak bisa memberimu keturunan…bahkan sampai detik ini aku masih belum bisa merebut hati keluargamu…” ucap minhee dengan berlinang air mata, siwon menariknya kedalam dekapannya, “aku bahagia minhee…selama kau disampingku, aku selalu bahagia…semua itu karena kau…” balas siwon sambil terus mencium rambut minhee, tak kuasa juga ia menahan air matanya,

“…aku lelah…aku lelah oppa….semua ini terlalu berat untukku…” isak minhee, siwon melepas Pelukannya, menghapus air mata di wajah minhee, menempelkan keningnya pada kening minhee, “kumohon tetap disisiku minhee…kau lah nyawaku…hanya kau…jangan pernah berniat meninggalkanku…aku mohon…” ucap siwon, memegang erat wajah minhee.

***

Donghae’s office

“bisa bertemu dengan Lee Donghae?” ujar pria tinggi dengan setelan jas brand ternama didepan meja rin rin,

“dengan siapa?”

“choi siwon…”

“tuan choi, ditunggu sebentar…” ucap rin rin, sekretaris donghae langsung menyambungkan intercom ke ruangan donghae. Tak lama kemudian rin rin mempersilahkan siwon untuk masuk kedalam.

“apa yang bisa saya bantu, tuan choi?” ucap donghae, berusaha ramah.

“aku hanya ingin meminta satu permintaan padamu…” ucap siwon dengan raut wajah serius,

“jika menyangkut anakku, aku tidak akan mau” tolak donghae dingin,

“kami tahu kau tidak akan mengembalikan anak kami…tapi…aku hanya ingin melihat minhee bisa hidup bahagia lagi…dan kembali melihat senyumannya” ucap siwon dengan nada bicara yang makin melemah, matanya pun kembali memanas, berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis didepan donghae. “aku sadar selama ini dia tidak pernah bahagia bersamaku…tapi sekarang hanya satu, anaknya lah yang menjadi kunci kebahagiaannya…” jelas siwon. Donghae hanya diam, melihat kondisi minhee kemarin saja ia tidak tega, lalu bagaimana dengan kondisinya yang sekarang…?

“berikan alamat rumahmu…aku akan menemuinya…” putus donghae. Mendengar ucapan dari pria itu wajah siwon sedikit cerah, dan bahkan membungkukkan tubuhnya pada donghae.

Setelah kepergian siwon, donghae masih diam, merenung. Apa ia harus mengembalikan haeri pada orang tua aslinya…?

Krek!

“oppa…sebentar lagi rapat dimulai” ucap rin rin yang baru masuk keruangannya, donghae masih diam merenung, tanpa menjawab pertanyaan dari sekretarisnya. “oppa…”

“eh! Mianhae…”

“kau bak-baik saja kah? Atau mau kubatalkan rapatnya?”

“cancel dulu ya…”

“oh, arraseo…”

“rin-ah, mau temani aku makan siang?” Tanya donghae, rin rin hanya mengangguk pelan lalu kembali keluar ruangan.

***

Donghae mengajak rin rin makan siang di restoran dekat kantor mereka. Selama makan donghe terus diam, bahkan hanya mengaduk-aduk makanannya. “choi siwon itu siapa?” Tanya rin rin langsung, tanpa basa-basi,

“eh?”

“jangan berbohong padaku, kau sedang ada masalah kan?” ujarnya, donghae hanya tersenyum kecil,

“…kau tahu rasa sayangku pada haeri sebesar apa kan rin?”

“hmm…lalu?”

“dia ayah dari haeri…dan sekarang mereka ingin meminta haeri” ucap donghae, sontak rin rin langsung banting sendok, “mwo?! Begitu mudahnya mereka membuang dan sekarang ingin meminta lagi?!” seru rin rin yang jadi kesal,

“…semuanya sangat rumit rin…apalagi jika aku tahu bahwa ibu dari haeri adalah…minhee”

“minhee? Gadis yang dulu…”

“ya…dia gadis itu…semua terasa sulit rin, minhee membuang haeri bukan tanpa alasan, keluarga suaminya tidak bisa menerimanya, mereka ingin selalu menyingkirkan minhee dan selalu menggunakan cara agar minhee tidak bisa memberikan seorang anak pada siwon” jelas donghae murung,

“oppa…kau masih mencintainya?” Tanya rin rin hati-hati,

“…rasa cinta itu masih ada…dan aku ingin melihatnya bahagia…bersamaku” lirih donghae, rin rin hanya tersenyum miris. Lelaki dihadapannya ini begitu rapuh. Ia bisa paham perasaan donghae, melupakan cinta pertamanya bukan perkara yang mudah, apalagi jika dihadapkan masalah rumit seperti ini. “ikuti kata hatimu oppa…meski kau memang tidak bisa memilikinya, tapi setidaknya bahagiakan dia dengan mempertemukannya dengan  haeri…” ujar rin rin. Donghae hanya diam, merenungkan semua perkataan rin rin.

***

“appa…” ujar haeri, donghae memeluk dan menggendongnya keluar tempat penitipan. “kita jalan-jalan ya” ucap donghae, haeri hanya mengangguk pelan. Hari itu haeri sangat senang berbicara, tak bosan donghae meladeni gadis cantiknya itu. Semua hal pasti ditanya dan dibahas haeri. Sedikit kemajuan menurut donghae, karena sangat jarang haeri bisa banyak bicara seperti hari ini. Otak haeri seakan menyuruhnya untuk tidak pernah berhenti berpikir.

Tak lama kemudian donghae kembali mengecek alamat yang tadi pagi diberi oleh siwon. Sebuah rumah yang mewah, namun terlihat sangat sepi.

“appa kita mau kemana? Itu rumah siapa?”

“rumah…teman appa, kita main kesini dulu ya” balas donghae.

Sesampainya didalam, ia terus memperhatiakn setiap inchi rumah ini. Miris hatinya melihat banyak foto-foto minhee dengan siwon yang terlihat sangat mesra. “appa…itu siapa?” Tanya haeri,

“haeri-ya…nanti kalau ada perempuan yang datang dan memeluk haeri, mau panggil dia eomma kan?” ujar donghae,

“eomma? Kenapa harus begitu? Aku kan punya rin eomma…” haeri bertanya balik,

“iya tapi…”

“donghae oppa?” ucap seorang gadis yang baru saja turun dari tangga dan sedikit tidak percaya melihat apa yang ada didepannya, begitu juga donghae yang terkejut melihat kondisi minhee yang kurus dan wajahnya sangat pucat,

“minhee…”

“ka…kau…”

“haeri-ya, beri salam pada eomma ya” ucap donghae, tapi haeri sedikit enggan dan malah berbalik mengumpat dibelakang donghae, “haeri-ya…” lirih minhee makin mendekat, ia kembali menangis.

Butuh penyesuaian agar haeri bisa dekat dengan minhee dan sejak kedatangan mereka dirumah minhee, wajah gadis itu mulai cerah kembali. Ia mulai bisa tersenyum saat bermain dengan haeri.

Donghae  terus memperhatikan mereka yang bermain dipinggir kolam. Hatinya sedikit lega saat bisa melihat senyum manis minhee.

“donghae-sshi” ujar siwon yang baru datang dan sedikit tidka percaya apa yang dilihatnya.

“aku menepati janji kan?”

“jeongmal kamsahamnida donghae-sshi, akhirnya…minhee bisa tersenyum kembali…” ucap siwon sambil terus menatap minhee dan haeri. “…seperti yang kau pinta, hanya mengizinkan haeri untuk bertemu dengan minhee kan? tidak lebih” ucap donghae yang langsung membuat siwon terdiam.

“secara hukum haeri adalah anakku…mungkin aku memang kejam karna memisahkan ibu dan anak, tapi… aku memang tidak ingin melepas haeri, kuharap kau mengerti siwon-sshi…” jelas donghae,

“…aku mengerti donghae-sshi…” ucap siwon pelan.

***

Sejak saat itu hidup minhee seperti mendapat pencerahan. Meski ia tahu donghae tidak akan mengubah keputusannya, tapi minhee bersyukur masih bisa melihat haeri. Kadang ia yang seharian penuh menemani haeri di penitipan atau jika sedang libur, minhee berkunjung ke apartemen donghae.

Bagaimana dengan perasaan donghae?

Dengan intensitas pertemuan mereka yang makin sering tidak menutup kemungkinan cinta donghae akan terbuka lagi untuk minhee, tapi sebisa mungkin donghae terus bersikap acuh padanya. Namun hingga pada suatu saat, sikap donghae berubah menjadi sosok donghae yang dulu minhee kenal dan kecemburuan siwon yang memuncak…

“haeri…spagettinya udah jadi…” ujar minhee dari dapur di apartemen donghae, ia bawa mangkuk kecil untuk haeri ke ruang tv, “aku sendiri aja” ujar haeri dan mengambil mangkuk spagettinya. Minhee duduk disamping donghae yang sibuk berkutat dengan iPad miliknya,

“…apa kabarnya lee ahjumma, oppa?”

“..ne? eomma?”

“hmm, donghwan oppa juga…”

“..mereka baik-baik saja…donghwan sebentar lagi akan menikah”

“jinca? Waahh…cukhae…tapi kapan oppa menyusul?” Tanya minhee, sontak donghae langsung terdiam,

“entahlah…aku masih senang bersama haeri saja” elak donghae, minhee hanya tersenyum kecil, “…hmm…apa kabarnya mokpo ya?” uajr minhee yang kembali terkenang saat ia masih di mokpo. Perbincangan seru pun larut diantara mereka. Seperti balik ke masa lalu, masa dimana mereka masih hidup bertetanggaan.

Perbincangan donghae dan minhee pun makin seru hingga saat siwon datang, minhee sampai mengacuhkan siwon dan hal itu membuat siwon sangat tidak nyaman, apalagi melihat sikap donghae yang berubah drastic, ia banyak tersenyum pada minhee.

“minhee-ya, kita pulang” ucap siwon dingin,

“ne? tapi oppa baru datang…sebentar lagi ya oppa…” pinta minhee yang masih ingin bersama haeri, dan juga donghae.

“pulang sekarang!” ujar siwon sedikit kencang, minhee hanya diam, mau tidak mau ia menuruti ucapan siwon dan pamit dengan donghae dan haeri.

@ siwon’s car

Di dalam mobil siwon terus diam dengan tatapan yang angkuh. “oppa waeyo? Apa ada masalah dikantor?” Tanya minhee sedikit takut,

“…besok jangan ke sana lagi”

“mwo?! Apa maksud oppa?”

“kubilang jangan temui dia lagi” bentak siwon makin emosi,

“o…oppa…kau kenapa? Aku ingin bertemu dengan haeri…” ujar minhee ingin menangis,

“kau kesana tidak hanya bertemu dengan haeri, tapi juga dengan donghae!”

“lalu kenapa?! Dia itu kakakku, oppa”

“kakak kau bilang?! Kau memang menganggapnya seorang kakak, tapi dia?! DIA MENCINTAIMU MINHEE! DAN MAKIN SERING KAU KESANA, PERASAAN SUKANYA PADAMU AKAN MAKIN BESAR” ujar siwon meluapkan emosinya dan menginjak gas makin kencang,

“apa yang oppa pikirkan salah! Dia itu hanya menganggapku sebagai adik!” elak minhee,

“ADIK?! AKU TAHU TATAPAN MATANYA PADAMU MINHEE DAN DIA MENCINTAIMU!”

“Ahni…dia kakakku…dia hanya kakakku…” Lirih minhee dan sambil menangis,

“Terserah apa katamu, tapi yang jelas…jangan temui donghae lagi…” Ucap siwon dingin, minhee membelalakan matanya, menggenggam tangan siwon tangan siwon yang masih memegang stir, “oppa…itu sama saja aku tidak bisa melihat anakku…aku mohon oppa…”

“Mianhae…aku tidak bisa” ujar siwon masih tetap acuh,

“Andwae! Oppa…andwae…”

“Minhee, diam!”

“Andwae! Tujuanku hanya haeri oppa, hanya haeri…” Isak minhee, siwon menghentakkan tangannya dari genggaman minhee, “oppa…… OPPA AWAAASSS !! KYAAAAA!!!”

“MINHEE !!”

BRUUUKK!!!

BRRAAKKKK!!

DDUUAAAARRRR !!!

Siwon banting stir ke kanan saat melihat bus yang ada di depannya, kecelakaan pun tak terhindarkan, mobil siwon jungkir balik ke tepi jalan dan ledakan dari kap mobilnya.

***

Suasana rumah sakit seoul langsung ramai. Kecelakaan beruntun yang menimpa 3 mobil dan satu bus, termasuk mobil yang dikendarai oleh siwon dan minhee.

“Mereka sepasang suami istri” ujar salah satu suster yang baru menurunkan tubuh korban dari ambulans.

“Kondisi keduanya?”

“Istrinya hanya cedera kaki dan kepala, tapi suaminya tewas ditempat karena tertindih pintu mobil” ujar salah satunya yang masih memeriksa keadaan gadis itu.

1 jam kemudian…

“…op…oppa…siwon…oppa…” Lirih minhee. Tubuhnya masih lemas, selang infus dan perban melekat dalam tubuhnya. Ia berusaha membuka kedua matanya, hal yang diingatnya adalah ia terbentur benda keras dan merasa siwon terus memeluknya erat.

“YAAKK !! DASAR KAU MEMANG PEMBAWA SIAL !!” Seru seorang wanita berusia sekitar 50 tahun yang masuk ke ruang ICU sambil menangis dan marah,

“E…eommanim…”

“JANGAN PANGGIL AKU DENGAN SEBUTAN ITU !! SEMUA GARA-GARA KAU ! SIWON MENINGGAL JUGA KARENA KAU !!” Teriaknya, minhee masih diam, mencerna semua perkataan wanita yang tak lain adalah ibu siwon.

“Andwae…siwon…oppa…”

“KENAPA BUKAN KAU !! KENAPA BUKAN KAU SAJA YANG MATIIIIIII !!” teriaknya makin histeris, tak lama kemudian ayah siwon masuk dan menenangkan istrinya, tanpa memperdulikan minhee yang masih shock dengan apa yang baru dikatakan ibu mertuanya itu.

“Andwae…siwon…oppa…siwon oppa…” Minhee mencabut selang infus dan dengan tertatih ia keluar, mencari sosok lelaki itu. Ia yakin siwon masih hidup.

“Nyonya, kondisi anda masih lemah” cegah suster,

“Suamiku…dimana dia…”

“Nyonya…saya mohon untuk berbaring, darahnya makin keluar banyak” ujar suster yang berusaha mencegah minhee sambil menutupi tangan minhee yang terus mengeluarkan darah karena selang infusnya yang dicabut.

“Andwaeeee!! Dimana suamikuuu!!” Isak minhee, rasa sakit yang ada di tubuhnya tidak seberapa dengan sakit hatinya jika mengetahui semua kenyataan ini.

“Nyonya…suami anda…” Ucapan suster terputus saat jenazah siwon yang baru keluar dari kamar mayat dan diiringi isak tangis dari kedua orang tua siwon.

“Oppa…SIWON OPPA ANDWAEEEE !!” Teriak minhee histeris, ia peluk tubuh yang sudah tak bernyawa itu. “Jangan tinggalkan aku…aku mohon oppa…aku janji…aku akan turuti semua kemauanmu…aku janji…oppa…ayo banguuuuuuunnn..” Isak minhee makin kencang.

***

2 hari kemudian…

“Appa lapar…appa~”

“Eh! Mau makan? Chakkaman…” Ujar donghae yang langsung menyiapkan makanan untuk haeri.

Sudah dua hari ini ia tidak mendengar kabar dari minhee. Biasanya gadis itu pasti mengunjunginya di kantor atau di rumahnya, tapi sejak terakhir kali ia kesini, minhee tidak ada kabarnya lagi. Menghubunginya pun sangat sulit.

“Apa kau baik-baik saja minhee-ya…” Lirih donghae. Jujur sejak kehadiran minhee beberapa waktu terakhir ini mambuat hidup donghae lebih berwarna. Donghae tidak memungkiri rasa cintanya pada minhee makin membesar, meski ia tahu sampai kapanpun minhee tidak akan menjadi miliknya…

“Sudah siap?” Ujar donghae sambil mengambil tas haeri. “Ne…”

“Ah, jangan lupa jas hujanmu sayang” ucap donghae, dan haeri segera memakaikan jas hujan warna kuning favoritnya.

Setelah donghae mengantar haeri ke tempat penitipan, ia berencana untuk ke rumah siwon, entah mengapa firasatnya mengenai minhee tidak baik.

Saat mobilnya melintas menuju perumahan mewah itu, sekilas ia melihat Seseorang yang kehujanan ditengah hujan lebat ini. “Astaga, di tengah hujan ini sedang apa dia itu….MINHEE!!!” Seru donghae yang baru menyadari sosok orang itu adalah minhee, sontak donghae langsung menghentikan mobilnya dan berlari keluar,

“Minhee-ya!” Teriaknya, tubuh gadis itu pucat, beberapa bagian tubuhnya masih dibalut perban. “…o…oppa…”

“Ya! Apa yang kau lakukan disini?!” Ujar donghae dan hendak menariknya masuk ke mobil,

“Andwae…hiks…ka..kata siwon oppa…aku tidak boleh bertemu denganmu” lirihnya, tanpa tenaga,

“Mwo?! Dimana suamimu?!”

“…pergi…dia..pergi…” BRUK! Minhee jatuh pingsan, dengan segera donghae bawa minhee ke rumah sakit.

Benar saja, kondisi minhee benar-benar mengenaskan. Perutnya kosong, karna selama 2 hari ini ia tidak makan, luka yang belum kering pun bertambah parah, ditambah lagi kondisi psikologisnya yang sedikit terganggu karena depresi.

“Minhee-ya…apa yang sebenarnya terjadi? Apa kau tersiksa lagi? Maafkan aku…maafkan aku karena selalu gagal menjagamu…” Ujar donghae tak kuasa menahan tangis. Ia genggam erat tangan minhee dan mencium punggung tangan gadis itu.

***

Keesokan harinya…

“Ne…gomawo hyuk, kalau dia sudah sadar akan kukabari lagi…ne, aku titip haeri ya” ujar donghae saat menerima telfon dari eunhyuk. Semalaman ia menjaga minhee dan sampai saat ini, minhee belum sadar juga.

“…oppa…si…won…op..pa…” Lirihnya pelan, masih dengan mata yang terpejam.

“Minhee…kau sudah sadar?” Ucap donghae sambil mengusap tangan minhee. Perlahan gadis itu membuka kedua matanya, “donghae oppa…”

“Syukurlah kau sudah sadar…apa ada yang sakit?” Tanya donghae lembut dan hanya dibalas gelengan pelan oleh minhee, ia berusaha untuk bangun dan dibantu dengan donghae yang sedikit menaikkan tempat tidur minhee.

“…apa yang terjadi minhee? Dimana siwon?”

Minhee hanya diam, air mata seakan tidak ada habisnya membasahi kedua matanya. Refleks donghae langsung memeluknya erat. Tubuh ringkih itu bergetar dengan isakan kecil. Donghae terus mengusap punggung minhee sampai gadis itu kembali tenang.

“Hiks…hiks…kenapa…kenapa tuhan tidak mengambil nyawaku? Kenapa bukan aku saja yang pergi…” Isaknya,

“Minhee…apa yang kau katakan?!”

“Aku…aku penyebab kematiannya…karna diriku…dia pergi oppa….semua karna aku…siwon oppa meninggal karena diriku…” Isaknya makin kencang, donghae memengan kedua pipi minhee dan mengusap air matanya,

“Bukan salahmu…semua itu takdir minhee…takdir…” Balas donghae, minhee hanya diam, donghae kembali memeluknya erat hingga minhee merasa lebih tenang.

Selama seminggu minhee dirawat, donghae dengan telaten merawatnya. Kadang ia bawa haeri untuk menghibur minhee yang masih saja murung.

Minhee masih merasa bersalah karena kecelakaan yang menimpa mereka hingga merenggut nyawa siwon. Semua keluarga siwon makin membencinya. Bahkan di pemakaman, minhee sama sekali tidak diizinkan untuk melihat peti mati siwon dan sejak saat itu minhee diusir dan luntang-lantung selama 2 hari.

***

“Hari ini kau diperbolehkan pulang…” Ujar donghae setelah kembali dari bagian administrasi,

“…pulang?”

“…kau masih punya aku dan juga haeri…kau tidak sendirian minhee…” Ujar donghae, ia duduk dipinggir tempat tidur, menggenggam kedua tangan minhee.

“…kau akan tinggal bersamaku…”

“…jangan oppa…aku sudah menyusahkanmu…biarkan aku pergi sendiri saja”

“Ahni…aku tidak akan melakukan kesalahan untuk kedua kalinya minhee…aku…tidak akan melepasmu lagi…” Ujar donghae,

“…Oppa…” Lirih minhee, donghae mengeluarkan sebuah kotak hitam dari jasnya, “menikahlah denganku…”

“…oppa…aku…”

“Kau tahu? Selama lebih dari 7 tahun ini aku memendam rasa padamu, sejak saat di mokpo dulu aku sudah menyukaimu lebih dari sekedar adik…meski harus menerima kenyataan pahit bahwa kau mencintai lelaki lain…”

“…oppa…”

“Meski kau belum bisa mencintaiku…tapi biarkan aku menjagamu minhee…kau dan juga haeri sangat berarti bagiku…biarkan aku memberikan sebuah kebahagiaan untukmu…” Jelas donghae, air mata kembali mengalir di pipi minhee, “oppa….”

Donghae memasangkan cincin bermata satu itu di jari manis minhee dan mengecup kening minhee lembut. Tangis minhee makin kencang, ia usap air mata minhee dan tersenyum manis,

“Tersenyumlah untukku minhee…hanya untukku…”

Waiting for you…
Till the end of the world
Waiting for you…
Till that moment when fate stops us
Now I can give you everything
But can’t you come closer to me?
My precious person

The End

Hiyaaaaa~ akhirnya selese juga nih ff!! Kkkk, gimana..gimana..gimana?? Sedih or garing gak?? Mianh kalo garing yaa, tapi komen tetap aku tunggu looh!

Buat nii ff emg ampe nangis sesegukan! Hohoo, monic eon, moga suka yaa, mianh si minhee aku buat nelangsa (?) Hehee, pan biar menguras hati~ next ff?? Hmmm, sepertinya get married minggu depan ya, mianh kalo aku jarang update, karna D3 itu tugasnya seabrek dan juga kalo buat ff itu moody-an bgt, jd suka lama deh finishnya, tapi makasii bgt bagi reader yg tetep mau baca ff aku.. Gomawo yaaa *tebarbias* (’⌣’) 

60 thoughts on “My Child [2 of 2]

  1. Siwooon (●̮̮﹏●̮̮)
    Dr awal uda ngira kalo minhee pasti ujung2’a sama donghae, tp bngung gmana pisahin’a dr siwon. Ternyata siwon d buat mampyus (●̮̮﹏●̮̮). Pedalem siwon eeee
    Tp demi bersatunya hae dan minhee #jadigalau hohoho
    Aigo, kasian minhee, hidupnya kesiksa scra batin. punya suami ganteng, ruma mewah, serba-serbi mewah, tp d siksa keluarga ㅠ.ㅠ

  2. momonjaa berkata:

    Ini mah bukan nelangsa dittt.. Tapi tersiksa lahir dan batin (˘̩̩̩.˘̩̩̩ƪ)
    Udah gak disukain sm mertua, dibuat celaka lagi.. Kecelakaan parah, masih disiksa pula batinnya sm mertua..
    Mertua macam apa itu?? *mudah2an gak dpt mertua ky gt*

    Demam gt dipeluk siwon oppa enakk.. Angettt :p
    Tau bgt kamu kesukaan aku😀
    Tp kasian dia harus tewas ditempat (⌣́_⌣̀)
    Tp kalo gak tewas gak jadi sm hae.. Gpp deh adil 22nya jadi milik *maruk* HAHAHAAAA

    Gomawo saeng-ah.. Udah bikin ff bagus dan sedih bgt buat aku..
    Mau jadi selingkuhannya kyu dan jinyoung donk *marukbgtbgt*
    Hahahahaha😀

    • wakakakakk, abis demen eon nyiksa kararternya, /plakk
      ciee, moga camer yg ituu gk gini yaakk.. hhiiii

      hemm, demen dah dipeluk siwon, palagi naked ! xD
      aku biat seadil-adilnya eon, biar bisa ngerasain keduanya kan?? wkwkwkk..

      yaa~ masih aja sih kyu-jinyoung diambil???

  3. Sediiiiiih~~~
    Aaaaah ga tau knp ya, ga rela minhee ama donghae~~
    Uuuueee sumpah ga rela siwon metong, euh~~~
    aaaa tp sediiiih nie ff, hikzzzzz sediiih bangeeeeet (˘̩̩̩.˘̩ƪ)

  4. irma berkata:

    hya, gbs brkata-kata..
    siwon.a mati T.T

    awal.a bingung jg mu bela donghae apa minhee, dua2.a nasib.a kurang bruntg aplg dlm hal percntaan, tp tw ending.a gn, jd ga bngung lg, ya wlwpn ksian siwon mst d korbnin…

  5. jadi endingnya nikah ta???
    yah siwonnya meninggal ya.. ckckckc..
    jadi sedih saya… gpp lah yg penting bukan uri kyuhyunie yg meninggalkan saya.. hahaa

    waiting for get married 9.
    fighting

  6. aku kira itu beneran anak na Donghae ee benaran anakna Siwon..
    adu cinta terpendam Hae akhirna terbalaskan juga..
    Haeku so sweet bgt sihh…
    ternyata mertua Siwon ga suka ma Minhee..
    kasian juga MinHee disiksa gitu..
    Siwon na koq meninggal sihh???hiks hiks.. sedihna..
    trus Hae man MinHee merid??

  7. haera berkata:

    our babies… my child…. pkknya smw crita mellow yg kmu buat sllu brhasil bwt aq nangis…..
    nth knpa crita sdih2 gni feelnya sllu dapet,diita mank masternya deh bwt crita kyk bginian ^^b

  8. NYESEK BANGET sumpah baca ni ff. apalagi pas bagian minhee cerita soal kekejaman keluarga CHOI SIWON. tega banget sich.

    ah~ kenapa Siwon nya mati? padahal aku berharapnya Minhee tetep sama Siwon. N Donghae tetep menderita dengan cintanya. #evil

    DAEBAK!

  9. rizkariri berkata:

    Annyeong eonni~
    Wahahaa, aku menepati janjiku kan? *gaya donghae di ff atas*
    Bagus,Ta. Ceritanya Mengharu biru, kuning, hijau, merah, ungu. Beehh, JJang! Ihiy.
    Hmmm. Buatlah ff tentang pacar aku, Nichkhun-ssi. Aku tunggu! *maksa
    Udah dulu deh segitu aja yah.
    Sincerely,
    Your dongsaeng.
    Hahaaa

  10. nadeeia berkata:

    akhirnya happy end,,, haeri bisa tetap sama donghae oppa,,, tp sayang siwon oppa nya meninggal,,, nice ff author,,,^^

  11. Jd siwonnya matii???? Yasalaaaaaammm si kuda 1 itu sungguh naas nasibnya… Ckckckckckckck
    Tp si donge yah,, ntar dulu kali lamarnya ngeee,,, itu si minhee kan lg masa berkabung, udah dilamar ajeee,,, heeeeemmmm

    Tapiiii… Hepi endiiiiiiiinnnggg… Lalallalalalaaa
    Suka bgt part si donge main sama haeri wlpun cma dikit…

  12. fahmalovesieunteuk berkata:

    huaaa oeeniii itu knpa suami aq dbuat maatii😥 *nangissmbilacak2sampaah o.0
    seediih sediihh nangiiss baca part yg inii =___=
    aiigoo jhaat bgd sii kluarga ny siwon
    berhrap g ad kluarga kyak gt di dunia nyata😦
    little haerii seneng bgd kamuu bisa ceria kyak anak lainnya :*
    ff ny daebaak oeen🙂

  13. yah…abis…pdhal belum puas bcnya tp keren kok.
    mian aku rasa endingnya terlalu datar.padahal awal cerita konfliknya udah bagus bagt.mungkin karna ff ini dbwat 2 part jd ini udah cukup bagus untuk ukuran ff twoshot.

    uhh…tapi ku sedih karna ending siwon buruk bgt.kasihan oppa ganteng itu harus pergi menggalkan anak istri.padahal untuk hidup menjadi seorang appa ajj blum pernah.eh udah mninggal duluan.jd merasa sia” perjuanganya bwt minhee hamil smpe 4x gitu#plaak kok menjurus k’yadong gini sich w?

  14. HalcaliGaemKyu berkata:

    Kya… Akhirnya donghe dan minhee bersatu juga walaupun hrs ada kejadian tragis. Siwon meninggal
    kya… Ff nya daebak
    dan haeri jg semakin normal layaknya ank lainnya, udah byk bicara pula.. Kasian bgt haeri.. Bener2 dia gk prnh dianggep sm keluarga siwon.
    Ff mu daebak chinguuu
    gumawo

  15. raraa berkata:

    Waktu baca sempet bingung endingnya sama siapa , terus juga gimana caranya nyatuin haeri sama minhe lg kalau donghae gag mau ngelepas haeri ,
    Tp ternyata siwon oppa kecelakan😦

  16. Huaaaa endignya so sweet bangettt eonnnnn><
    Tapi kasian siwonnya harus ngalahT___T … Tpi tetep keren kokkk^^
    Gaada rencana buat sequelnya eon? Seru kayaknya kalo ada sequelnyaxD

  17. mira berkata:

    wuahh,, lega deh akhirnya donghae ga kehilangan haeri. donghae jd bisa jaga haeri dan ibunya haeri,,
    critanya bagus chingu,,
    ^^

  18. Rensi berkata:

    yakk!!! aku kira cerita kyk film Baby and I tp trnyata kgk -__- mau bilang Happy Ending tp Siwon nya mati, wehh sbnernya aku udh bayangin klo ff nya it bakalan bagus bgt lohh, tp ada beberapa hal yg hrs diperhatiin…
    byk typo bertebaran, pov nya jg diperhatiin, & yg paling penting it gaya bhsa nya, krna aku rasa gaya bhsa nya it aneh, gak kyk ff ff yg prnh aku bca sblm nya…
    Sekian & mian krna koment ku panjang kyk kereta, kkk~

  19. dwi fuji l berkata:

    ya ampun… jadi haeri punya penyakit.. kasian…
    sedih siwonnya meninggal tapi untungnya ada donghae hehe…🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s