The Beginning [PG 15]

Must listen :

  • Kyuhyun – as time goes by
  • JS & Hyuna – the words I don’t to hear
  • Seohyun – it’s okay, even if it hurt
  • B1A4 – this time is over
  • Kyuhyun – inoo
  • 2AM – I wonder if you hurt like me
  • Park Hyeri – To a Stranger

Ini sequel dari The way to break up. Siapin tisu, jaga2 kalo ntar nangis, hehehe.. attention juga!! Ini ff paling gombal yang pernah author buat mungkin, jadi moga gak mual+pusing baca ff ini yaaa!! Happy reading~~~ oia, disini banyak gonta-ganti POV, jadi harap diperhatikan ^^

janjiku untuk melupakanmu membuatku menangis lagi,  apakah kau mendengarku? Hanya kau yang kumau… Tanpamu, tak ada yang bisa kulakukan…

“hyojoon-sshi, anda tidak mau makan siang?” ujar hyemi, sekretarisnya,

“nanti saja, kau mau istirahat? Duluan saja” ujar hyojoon dengan tatapan mata dan kedua tangan yang tak lepas dari layar PC dan keyboard. Hyemi hanya mengangguk pelan dan kembali menutup pintu ruangan hyojoon.

Lima belas menit kemudian…

Dddrrttt!!

Hyojoon melirik sekilas ke layar ponselnya, “siwon oppa?” ucapnya pelan, sedikit ragu untuk menjawab telfon tersebut tapi mau tidak mau ia angkat juga.

“yeobseyo? Oppa?”

“joonie…kau masih di kantor?”

“hmm…pekerjaanku masih banyak”

“mianhae jika aku menganggu, hari ini kami akan ke paris…jaga dirimu baik-baik, dan jangan kerja lembur terus” ucap siwon begitu perhatian padanya. Hyojoon hanya tersenyum kecil dan berdeham, mengiyakan semua pesan siwon lalu memutuskan telfonnya.

Moodnya seketika turun drastis. Ia menghela nafas berat dan menghempaskan tubuhnya di kursi kerja. “semakin kau perhatian padaku, semakin sulit bagiku…” lirih hyojoon.

Sudah satu minggu berlalu sejak pernikahan siwon dan sejak itulah hyojoon makin terlarut dengan pekerjaannya. Tidak jarang ia sampai sering bermalam di kantor demi menyelesaikan setumpuk pekerjaan kantor. Sengaja menyibukkan dirinya dengan pekerjaan demi menghilangkan rasa sepinya setelah siwon, pria yang sampai detik ini masih belum bisa ia lupakan. Mungkin tidak akan pernah bisa ia lupakan seumur hidupnya…

“agessi, ini pesanan anda”

“ne, gamsahamnida” balas hyojoon sambil menyerahkan beberapa lembar uang pada pelayan tersebut, ia ambil kotak cheesecake dan kembali masuk ke mobilnya, langsung menuju kediaman keluarga Choi.

Sesampainya disana…

“agessi, akhirnya anda pulang” ujar kang ahjussi, terpancar raut wajah gembira melihat sosok nona muda kesayangannya. “mianhae, banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan ahjussi, mereka ada kan?”

“baru satu jam yang lalu semua pergi mengantar tuan muda dan istrinya ke bandara, dan sepertinya juga akan ada undangan makan malam bersama keluarga dari minhee agessi” jelas kang ahjussi, hyojoon hanya tersenyum kecil, ia serahkan kotak kue yang ia beli pada kang ahjussi dan langsung masuk ke dalam kamarnya.

“a..agessi, apa anda mau makan?”

“nanti saja ahjussi…”

“oh, baiklah, jika perlu sesuatu, panggil aku saja…” ucap kang ahjussi dan hanya dibalas anggukan oleh hyojoon.

Didalam kamar yang hanya diterangi lampu temaram samping tempat tidur, hyojoon terus diam sambil memeluk boneka beruang besar, hadiah pemberian siwon 3 tahun yang lalu…

“joonie, kau bisa memeluknya jika kau rindu padaku” ucap siwon sambil menyerahkan boneka beruang besar,

“aiyaaa~ tetap saja beda, oppa~ you’re my only big teddy” rajuk hyojoon dan langsung memeluk siwon erat, siwon tersenyum kecil, ia cium puncuk kepala hyojoon sayang dan makin mengeratkan pelukannya.

“oppa…kembalilah oppa…jebal…” tangisnya pun pecah, ia peluk erat teddy bear, terus menangis, dan sepertinya air mata itu sulit untuk dihentikan…

pada akhirnya kau berpaling, dan tetap meninggalkanku… hatiku mengatakan untuk tidak melepasmu, satu satunya di dunia ini…

***

Siwon POV

Kupaksa buka kedua mataku, melihat langit kamar bernuansa putih ini. kembali aku ingat bahwa saat ini aku tengah berada di paris. Yah, dalam rangka bulan madu yang dipaksa oleh ibuku dan juga ibu minhee, gadis yang kini menjadi istriku. “minhee?” kusadar dia sudah tidak ada disampingku. Kucari keseluruh ruangan di kamar hotel ini, namun hasilnya nihil.

“kemana dia?” pikirku. Aku duduk dibalik pintu kaca kamar hotel yang langsung menghadap ke depan menara Eiffel. Begitu indah kota ini, apalagi ditambah dengan butiran putih salju yang turun di pagi hari ini. “pasti kau akan suka melihatnya dari sini joonie…” lirihku. Apa kabarnya gadis itu? Sejak hari pernikahanku, aku sama sekali belum bertemu dengannya. Sejak hari terakhir kami melewatkan hari bersama sebagai sepasang kekasih, aku tidak pernah mendengar kabarnya, menghubungiku pun tidak.

Aku paham atas rasa sakit hati yang ia rasakan, karena aku pun amat kehilangan dirinya. Namun aku lebih merasa bersalah padanya. Aku yang dulu meyakinkan hatinya agar bisa menerimaku sebagai pria yang ia cintai, bukan seorang kakak. Lalu sekarang? Aku yang meninggalkannya. “joonie…mianhae…”

“oppa, sudah bangun?” suara minhee membuyarkan lamunanku. Kulihat ia sedikit menggigil kedinginan, yah bagaimana tidak, cuaca pagi ini tidak begitu bersahabat.

“kau dari mana? Kenapa tidak bilang padaku?” tanyaku, terkesan sedikit khawatir, karena dia adalah tanggung jawabku sekarang.

“mencari sarapan untukmu… katanya ada pancake enak di ujung jalan sana, makanya aku kesana, ini Americano dan pancakenya, cepatlah dimakan sebelum dingin” jelasnya sambil sibuk menyiapkan sarapan untukku. Aku hanya diam dengan terus memperhatikan tingkahnya. Gadis ini, istriku yang sampai detik ini masih belum bisa aku sentuh. Minhee bisa memahami mengapa aku belum bisa benar-benar memperlakukannya sebagaimana istriku, aku butuh waktu untuk bisa menerimanya dihatiku.

***

Seharian penuh kami hanya menghabiskan waktu mengelilingi kota paris. Tidak banyak yang aku ucapkan padanya, namun ia selalu bisa membuatku tersenyum dengan celotehannya. Semakin hari, aku makin mengenal siapa sosok minhee, dari luar terlihat pendiam, namun ternyata dia gadis yang periang dan jika bicara tidak bisa berhenti.

“eh? Oppa, apa aku kebanyakan bicara?” ujarnya, aku hanya tersenyum dan menggeleng pelan, kuajak ia duduk di bangku taman yang tidak begitu ramai,

“mianhae…pasti kau bosan kan?” ucapnya lagi sambil tertunduk,

“aniyo…aku hanya berusaha menjadi pendengar yang baik” balasku sambil mengusap rambutnya pelan, sejenak kami sama-sama terdiam. entah kenapa ada rasa yang berbeda saat menyentuh rambut coklatnya. Wajahnya begitu merah merona dan kedua matanya yang indah… ish! Apa yang kau pikirkan choi siwon! Tidak mungkin kau mulai menyukai minhee!!

“oppa…boleh aku bertanya sesuatu padamu?” ucapnya membuyarkan lamunanku,

“boleh…tentang apa?”

“kita sudah resmi menikah…aku tahu mungkin diantara kita belum ada rasa cinta, tapi…apa kau mau membuka hatimu untukku?” tanya minhee, membuatku diam dengan terus menatapnya. Apa yang harus kujawab? Mengizinkan dia masuk kedalam hatiku dan Menggantikan posisi hyojoon? Tapi apa aku bisa?

“aku…”

“aku akan belajar mencintaimu oppa…menjadi istri yang baik untukmu dan aku akan menunggu sampai kau bisa mencintaiku…” lanjutnya lagi dengan tersenyum. Ada rasa yang berbeda saat kulihat senyumnya. Ya Tuhan… gadis ini telah jadi milikku, dia mau belajar mencintaku, tapi apa aku bisa membalas cintanya sementara hatiku masih penuh kenangan dan cinta dari hyojoon?

“oppa, kita kembali ke hotel ya, hari mulai gelap”

“n…ne…” aku hanya mengikutinya, menggenggam tangan kanannya dan rasa itu kembali muncul saat jemari kami tertaut, begitu hangat…

***

Author POV

Seoul, kediaman keluarga Choi…

“menikah?!” seru hyojoon sedikit kaget setelah mendengar penjelasan dari ibunya mengenai rencana pernikahan jiwon dan kyuhyun,

“iya joonie, tapi eomma melarangnya karena eomma mau kau yang lebih dulu menikah…lagipula baru saja kita melewatkan pernikahan siwon, eomma juga tidak mau cepat-cepat jiwon menikah” lanjut ibunya.

“tapi…jiwon sudah siap menikah eomma, sedangkan aku…aku belum…”

“eomma mengerti,  tidak usah terburu-buru…tapi…apa kau tidak tertarik untuk lebih mengenal joongki?”

“m…mwo?! dia eomma?!”

“dia pria yang baik…setidaknya buat hati eomma tenang dengan adanya seseorang yang menjagamu…lihat tubuhmu sekarang, kau makin kurus, bekerja siang-malam tanpa memperhatikan pola makanmu…” jelas ibunya, sedih. Hyojoon hanya diam memijat pelan kepalanya yang terasa penat,

“aku bisa jaga diriku sendiri eomma…”

“tapi tetap saja…kalau tidak mau dengan joongki, masih banyak pria lain kan? apa kau tidak punya teman pria? Pasti ada kan?” Harap  ibunya, hyojoon hanya menghela nafas berat. teman pria? Tidak ada satupun teman pria yang aku punya eomma…aku pun tidak tertarik untuk mencarinya… batin hyojoon.

***

Keesokan harinya disebuah showroom mobil…

“ini…semua sudah kembali seperti semula!” ujar joongki seraya menyerahkan kunci mobil hyojoon yang akhirnya kembali seperti semula setelah insiden kecil seminggu yang lalu saat pernikahan siwon.

“trims…”

“ya~ hanya begitu saja?”

“m..mwo?! memang apa maumu?”

“cish~ aku sudah menanggung biaya perbaikan mobilmu, apa kau lupa jika mobilku juga tergores?”

“lalu?! Apa aku harus ganti perbaikan mobilmu juga?!” ujar hyojoon mulai terpancing emosi, joongki hanya menunggingkan senyumnya, “aku lapar, cukup dengan kau ganti rugi dengan menraktirku” ucapnya,

“m..mwo?!”

“ppali, aku lapar…umm, aku tidak bawa mobil, jadi aku ikut mobilmu, mau kau yang menyetir atau aku?”

“tsk~ cepat masuk, aku tidak mau mobilku kembali lecet karena kau yang menyetir!” sungut hyojoon kesal dan langsung masuk ke dalam mobil.

Tak lama kemudian mereka sampai disebuah restoran jepang. Hyojoon hanya bisa diam melihat tingkah joongki yang makan sushi dengan lahapnya, hingga ia bisa kenyang hanya dengan melihat pria didepannya makan. “ckck…kau ini tidak terlihat seperti anak dari kalangan atas” celetuk hyojoon dengan sesekali menyesap teh ocha miliknya,

“itu pendapatmu, lagi pula aku memang tidak punya apa-apa, semua itu kepunyaan orang tuaku” elak joongki lalu memasukkan satu potongan besar sashimi,

“hmm…whatever…”

“kau tidak makan? Apa lagi diet?”

“aku cukup kenyang hanya dengan melihatmu yang memasukkan semua makanan yang ada disini” ucap hyojoon datar namun terkesan menyindir, pria itu hanya tertawa renyah, sedikit membuat wajah hyojoon memerah, baru menyadari senyum dari pria ini begitu manis. Setidaknya joongki tidak se-menyebalkan yang ia kira.

“cepat habiskan makananmu, aku masih ada urusan lagi”

“arraseo~ kudengar kau bekerja di perusahaan advertising? Dan jadi seorang manager?”

“hmm…lalu? Apa urusannya denganmu?”

“aniyo, jika aku butuh bantuan perusahaanmu, kupikir kita bisa bekerja sama” balas joongki dan hanya dibalas anggukan kecil dari hyojoon.

selesai makan siang…

“naiklah, biar kuantar ke kantormu” ucap hyojoon hendak mencari kunci mobilnya didalam tas,

“tak usah, aku lebih suka jalan kaki, lagipula jaraknya tidak terlalu jauh” ujar joongki, namun baru saja hyojoon meraih pintu mobil, tubuhnya kehilangan keseimbangan, “hei awas!!” sergah joongki yang langsung menahan tubuh hyojoon agar tidak jatuh,

“ya~ kau sakit karna tidak makan kan?” ujar joongki amat khawatir, benar saja saat ia lihat wajah hyojoon sangat pucat. Ia buka mobil gadis itu dan memapahnya di bangku samping kemudi tak lupa sambil merebahkan kursi mobil. “nan gwenchana…”

“aku tidak bisa biarkan kau menyetir dalam keadaan sakit, kuantar kau kerumahmu” ucap joongki dan langsung duduk di bangku kemudi,

“jangan ke rumah…apartemenku saja…” joongki hanya mengangguk kecil dan langsung melaju mobilnya ke apartemen hyojoon, sesekali ia lihat gadis disampingnya, wajahnya begitu pucat dan kurus. Ada rasa berbeda saat menatap gadis itu dan merasa bahwa ada kewajiban darinya untuk melindungi gadis itu…

Sesampainya di apartemen hyojoon, joongki memapahnya dan membaringkannya di ranjang, “kau harus makan…makanlah walau sedikit” paksa joongki sambil menaruh makanan yang sempat ia beli tadi, hyojoon hanya diam, perlahan ia ambil makanan yang ada di tangan joongki dan makan dalam diam.

“kau…bisa pulang sekarang”

“andwae, habiskan makanmu dulu dan minum vitamin ini…” balas joongki, hyojoon kembali diam, setelah beberapa suap, ia pun meminum vitamin dari joongki dan pria itu terus menemaninya hingga hyojoon benar-benar tidur.

Ia bereskan bekas makanan hyojoon, melihat sekeliling apartemen yang sepi. Matanya tertuju pada satu bingkai foto yang ia tahu itu adalah hyojoon, adiknya dan kakaknya, siwon. “shin hyojoon…masih banyak yang harus aku ketahui tentangmu…”

***

Keesokan harinya, di kantor hyojoon…

“hyojoon-ssi, apa kau sudah buat janji?”

“mwo? janji dengan?”

“ada seseorang yang ingin bertemu, dia bilang sudah ada janji”

“nuguya? Suruh keruanganku saja” putus hyojoon, baru saja ia meletakkan telfon, pintu ruangannya terbuka dan… “kau…”

“selamat siang hyojoon-ssi” ujar lelaki itu dengan tersenyum lebar,

“kenapa kau bisa tahu?”

“tidak ada yang tidak bisa aku ketahui, boleh aku duduk kan?” balas pria itu tanpa menghilangkan senyum dari bibirnya,

“n…ne, silahkan duduk…”

“wajahmu masih pucat, kenapa memaksakan untuk bekerja?”

“bukan urusanmu joongki-ssi…keundae, gomawo untuk yang kemarin…”

“gwenchana…memang kewajibanku kan…umm, aku ingin kerjasama dengan perusahaanmu” ucap joongki, tak lama keduanya pun larut dalam pembicaraan bisnis. Dengan serius hyojoon menjelaskan mengenai perjanjian apa saja yang harus dilakukan dan menjelaskan perincian biaya maupun kontrak serinci mungkin, makin membuat kagum joongki dengan gadis dihadapannya ini.

Setengah jam kemudian…

“secepatnya surat kontrak akan jadi dan kau bisa menandatanganinya” ucap hyojoon setelah menjelaskan mengenai kontrak perusahaan mereka.

“geure… semoga perusahaan kita bisa bekerja sama dengan baik” ujar joongki sambil menjulurkan tangannya dan langsung dibalas oleh hyojoon.

“senang bekerjasama dengan perusahaan anda, joongki-ssi” balas hyojoon,

“panggil saja joongki, mungkin awal pertemuan kita sedikit tidak enak, tapi…sekarang kita harus menjalani hubungan dengan baik kan?” ucap joongki, sedikit membuat hyojoon tersenyum, “ne…”

“sekarang kau harus ikut aku”

“m…mwo?”

“makan siang, pasti kau akan melewatkan makan siang lagi kan?”

“keundae…”

“don’t say no! ppali…aku yang traktir” paksa joongki, mau tidak mau hyojoon pasrah mengikutinya.

***

Paris,

Siwon POV

“minum oppa” kulihat minhee menaruh kopi di meja,

“gomawo…” balasku, ia duduk dihadapanku dan sama-sama menghadap keluar jendela kamar hotel, menatap menara Eiffel dimalam hari yang terlihat semakin indah. Sudah 3 hari kami melewatkan waktu bulan madu di Negara ini, tapi tetap saja jarak diantara kami masih jauh. Berusaha sebisa mungkin untuk dekat dengannya, tapi hatiku masih berat, aku masih memikirkan hyojoon. Sedang apa dia disana? apa dia makan dengan teratur dan juga…apa dia bahagia?

“minhee-ya, aku keluar sebentar, tak apa kutinggal kan?”

“ne? nan gwenchana…tapi udah diluar dingin oppa”

“hanya sebentar…kau tunggu di sini saja, oke?” ucapku dan mengambil jaketku.

Kutelusuri jalanan kota paris yang tidak begitu ramai. Kulihat ada bar tidak jauh dari hotel, kupikir dengan meminum sedikit wine, bisa meringankan beban hatiku. Suasana bar tidak begitu ramai, kupilih untuk duduk sedikit memojok dan memesan segelas wine terbaik yang ada disini. sekali, dua kali teguk, tetap tidak bisa menenangkan hatiku. joonie…kenapa semua ini terasa begitu berat. kau baik-baik saja kah? Apa kau bahagia dengan keputusan ini, huh? Aku tidak bisa hidup tanpamu…apa kau bisa hidup tanpaku juga?…aku membutuhkanmu…aku membutuhkanmu joonie…

Minhee POV

Satu jam lebih siwon oppa keluar hotel. Aku mulai khawatir dengannya, apa dia baik-baik saja? Tapi pergi kemana dia?. “oppa…”

Kulihat lagi benda yan melingkar di jari manisku, benda yang menjadi pengikatku dengannya. Jika ditanya apa aku mencintainya, kujawab iya dan aku tengah belajar untuk mencintainya, suamiku. mungkin dihatinya masih ada gadis lain, itu bisa kurasakan karena sikapnya yang masih acuh padaku, tapi setidaknya dia benar-benar bertanggung jawab padaku, dia melindungiku dan juga memerlakukan aku amat baik.

Dddrrrtt!!! *eommanim calling*

“yeobseo? Eommanim?”

“minhee-ya…bagaimana kabar kalian?”

“o~ kami baik-baik saja”

“syukurlah, aku rindu kalian, siwon perlakukanmu dengan baik kan?”

“tentu saja eommanim, dia baik padaku”

“minhee-ya, cepatlah pulang, dan jangan lama-lama berikan kami cucu yang lucu” jelas eommanim yang langsung membuatku diam, apa yang harus aku jawab jika sampai detik ini siwon oppa belum menyentuhku?

“n..ne…eommanim…”

“hmm, sudah ya, aku hanya ingin memastikan kabar kalian…selamat bersenag-senang sayang…” ucap eommanim dan memutuskan telfonnya. Aku masih diam, pasti butuh waktu lama untuk bisa siwon oppa menyentuhku. “mianhaeyo eommanim…tapi aku akan selalu menunggu sampai anakmu bisa mencintaiku” ucapku.

Ting tong!

“ah! Siwon oppa” bergegas kubukakan pintu, sedikit lega ia akhirnya kembali, namun setelah membuka pintu, sedikit terkejut melihatnya dalam keadaan mabuk!

“oppa…”

“hik…minhee…yaaa” rancaunya, langsung kupapah ia ke tempat tidur. Bau wine menyeruak dari mulutnya. “oppa…kenapa sampai mabuk begini?” ucapku khawatir, kulepaskan boot dan jaketnya, mengelap keringat yang mengucur dari pelipisnya.

“minhee…”

“n…ne?” kulihat wajahnya begitu menyiratkan kesedihan, ia menarik tanganku dan duduk menghadapnya, jarak wajah kami begitu dekat, ia menatapku dalam dan entah harus kuartikan apa tatapan matanya padaku. Nafasnya yang begitu memburu makin terasa menerpa wajahku. Wajah yang begitu sempurna, dan bibirnya yang merah merona terus mendekat pada bibirku, kupejamkan kedua mataku  bersamaan dengan benda lembut yang mendarat dibibirku. Bibirnya begitu lembut menyapu bibirku, tangannya yang tadi menggenggam tanganku beralih pada leherku, sesekali mengusap kedua pipiku yang merah karena sentuhannya.

Jantungku makin berdetak kencang saat permukaan kulit kami saling bersentuhan. Kuberanikan diri untuk memegang bahu bidangnya, sesekali meremas kaos hitamnya. Ciuman yang begitu lembut membuatku makin terlarut dalam permainan bibirnya. Kupejamkan mataku dan menikmati tiap detik sentuhannya padaku. Tubuhnya perlahan bangun dan masih dengan bibir kami yang bertaut, kini kami sama-sama terduduk, saling memiringkan wajah, mengisi ruang kosong di bibir. Akal sehatku pun hilang entah kemana seiring ciuman dan sentuhan siwon yang makin intens terhadapku, inikah awal malam pertama kami….

***

Siwon POV

“ugh…” kupaksakan untuk membuka mata, mengingat sepertinya semalam hyojoon datang dalam mimpiku dan… omona! Apa yang sudah aku lakukan?! Tubuhku yang…dan minhee…dia pun masih tidur pulas disampingku sama-sama tidak memakai bajunya. Kupandang wajahnya lekat, entah mengapa jantungku malah berdegup kencang, melihat bibirnya yang merah merona, pipinya yang chubby dan kedua mata indahnya saat terpejam… apa aku mulai menyukainya?

“uhm…o..oppa…” ucapnya sedikit malu dan membenarkan selimutnya, wajahnya merah merona, tidak mau menatapku,

“minhee-ya…mianhae…aku…”

“apa kau perlu minta maaf padaku? Ini memang sudah menjadi kewajibanku oppa…kau suamiku dan aku istrimu…” ucapnya, aku hanya tersenyum kecil dan mengecup keningnya pelan, “beri aku waktu untuk belajar mencintaimu” balasku, ia hanya tersenyum dan mengangguk pelan, cantik.

2 hari kemudian…

Hari ini kami kembali pulang ke seoul. Selama hampir satu minggu di paris, kami melewati hari yang menyenangkan disana, dan saat akan kembali ke seoul, entah hatiku berat untuk pulang. Mungkin dengan aku tidak bertemu dengan hyojoon, perasaan kami bisa lebih baik lagi, selain itu sekarang minhee telah benar-benar jadi milikku…

“oppa…eommanim mengadakan makan malam di rumah” ucap minhee membuyarkan lamunanku,

“o..oh…geure…habis ini kau langsung pulang kerumah saja, aku ingin ke kantor dulu”

“kau langsung ke kantor?”

“Hanya sebentar…ada yang harus aku urus”

“oh, geure…cepat pulang oppa” ucapnya, setelah aku mengantarnya kerumah, aku bergegas menuju kantor hyojoon, hanya ingin memastikan apa ia baik-baik saja.

Baru saja kutepikan mobilku di depan kantornya, kulihat hyojoon keluar dari gedung. Dia… benarkah dia joonie-ku? Tubuhnya terlihat makin kurus, wajahnya pun pucat. “joonie…apa yang harus kuperbuat?” lirihku, dadaku begitu sesak melihat kondisinya. Ia berjalan masuk ke mobilnya dan terus kuikuti dari belakang.

Mobilnya terus melaju hingga ke tempat pemakaman… “astaga! Aku sampai lupa hari ini peringatan kematian orang tuanya…”

Kutepikan mobilku sedikit jauh dari mobilnya. Ia berjalan pelan menuju ke dua pusara dimana kedua orangtuanya dimakamkan. Bisa sedikit kudengar semua curahan hatinya, dan air matanya kembali kulihat mengalir dari  wajahnya…

“eomma…appa…apa kau melihat keadaanku sekarang? Aku…rindu kalian…eomma…appa tidurlah yang tenang disana…maafkan aku jika aku hanya bisa menangis terus…tapi…tapi aku baik-baik saja eomma…hanya saja…aku merasa kesepian…aku kehilangan dirinya eomma…hiks…pria yang aku cintai…ottokhae eomma?”

Dada ini makin sesak mendengar tangisannya. Aku ingin memeluknya dan juga mengatakan bahwa aku juga kehilangan dirinya tuhan… apa yang harus kuperbuat agar gadisku tidak lagi menangis tuhan? Apa yang harus kuperbuat?

Author POV

Baru siwon melangkahkan kakinya mendekati hyojoon, langkahnya sudah didahului seorang pria yang berlari kecil mendekatinya, merangkul hyojoon, song joongki.

“joonie…” lirih siwon, terlihat rahangnya mengeras dan mengepal kedua tangannya kuat, rasa cemburu pun mencuat begitu saja. Yang ia tahu selama ini tidak ada satu pun pria yang dekat dengan hyojoon, kecuali dirinya, tapi kini…baru dua minggu ia tidak melihat gadis itu, kini malah ia melihat lelaki lain dengan mudahnya merangkul hyojoon dan menjadikan bahunya menjadi sandaran hyojoon.

Dddrrrtt!!

“yeobseyo?”

“oppa, eoddiya?”

“perjalanan pulang” klik! Bergegas siwon meninggalkan area pemakaman dengan perasaan yang campur aduk, firasat akan kepulangannya ke seoul memang tidak baik, tidak seharusnya ia kembali ke seoul…

***

Hyojoon POV

Aku terus menangis, mengeluarkan semua kegundahan yang selama ini kupendam, namun tetap saja air mata ini tidak mau berhenti. Eomma, mianhae…aku tidak bahagia eomma…kebahagiaanku telah hilang sejak kepergiannya eomma…aku tak tahu apa yang harus aku lakukan?

Namun mengapa pelukan ini terasa begitu nyaman? Begitu hangat dan lembut, sama pada saat dulu siwon sering memelukku dikala aku merindukanmu eomma…nan bogoshipoyo…

“nah, ini sup kacang merah, wajib dihabiskan! Ini untuk menambah stamina juga” ucapnya seraya menaruh semangkuk sup kacang dihadapanku.

“aku tidak…”

“shut! Kau itu habis mengeluarkan banyak tenaga saat menangis tadi, makanya kau butuh energy yang banyak, cepat makan…aku juga ikut lapar karena menunggu kau menangis selama hampir satu jam! Aigo~ aku heran, kelenjar air matamu memang tidak ada habisnya memproduksi air mata” ucap joongki panjang lebar,

“ck~ tidak ada juga yang menyuruhmu untuk datang kesana kan? lagi pula, tahu dari mana kau kalau aku kesana?”

“ish~ apa kau lupa kalau membatalkan janji meeting kita hari ini, huh?”

“o..oh…mianhae…tapi kan aku tidak bilang kalau…”

“sudah! Masalah itu aku tahu dari sekretarismu, cepat makan!” ujarnya yang terlihat malah kesal, entah membuat bibir ini yang sulit tersenyum sekarang kalau bertemu dengannya malah dengan mudahnya aku bisa menyunggingkan senyumku. Apalagi saat ia merangkul dan memelukku untuk menenangkanku, begitu terasa nyaman…

***

Minhee POV

Kudengar suara deruman mobil, dan benar saja itu mobil siwon oppa. Bergegas aku ke bawah menyambut kedatangan suamiku. “oppa…” kuhampiri dia, tapi…kenapa aku merasa wajahnya begitu kesal? Ku bantu melepas jasnya dan mengikutinya dari belakang, menuju kamar kami.

“oppa…mau kusiapkan air untuk mandi?”

“nanti saja, aku lelah” ucapnya begitu dingin, dia memang terlihat kesal, mungkin di kantornya tengah ada masalah. Memang kudengar dari abeonim saat ini perusahaan tengah ada beberapa masalah.

Di kamar ia langsung berbaring di ranjang dan langsung memejamkan matanya, bahkan sampai lupa melepas sepatunya. Bibirku tak bisa berhenti tersenyum setiap melihat wajahnya, kurasa aku telah benar-benar mencintainya dan kuharap ia pun bisa lebih cepat belajar mencintaiku…

Ku lepas sepatunya, menyiapkan pakaian ganti serta menyiapkan air hangat untuk mandi. Kulihat ia masih tidur lelap, kutinggal ia di kamar dan menuju dapur, membantu eomanim menyiapkan makan malam, karena malam ini eommanim akan mengadakan makan malam bersama keluarga besar.

“eommanim, ada yang bisa kubantu?”

“o~ minhee-ya…siwon sudah pulang?”

“ne, dia seperti kelelahan dan sekarang sedang tidur” ucapku dan bantu menyiapkan bahan masakan yang bahkan dimasak sendiri oleh eommanim, meski di rumah ini punya banyak pelayan, tapi jika mengadakan makan malam keluarga, pasti eommanim sendiri yang menyiapkannya,

“hmm, anak itu, baru saja pulang dari bulan madu langsung ke kantornya…kau harus sabar-sabar menghadapi siwon, dia itu termasuk workaholic minhee-ya”

“aku pasti memakluminya eommanim…umm, apa jiwon belum pulang?”

“sepertinya belum, dia tengah mengurusi usaha barunya di event organizer”

“oh~…lalu hyojoon? Sejak hari pernikahan kami, aku tidak pernah melihatnya lagi eommanim, apa memang dia tidak tinggal disini?”

“joonie… siwon tidak pernah menceritakan tentang hyojoon?” eommanim bertanya balik, aku hanya menggelengkan kepalaku,

“joonie tinggal sendiri di pusat kota, sudah hampir 2 tahun ia tinggal sendiri…padahal siwon dan hyojoon itu sangat dekat, aneh siwon tidan pernah cerita padamu…hyojoon itu sangat sibuk, bahkan untuk meluangkan waktu bersama kami pun sangat sulit…” jelas eommanim, bisa kulihat raut wajah sedih dari wajahnya, sepertinya eommanim sangat menyayangi hyojoon, dibanding kedua anaknya,

“apa…dia sudah punya kekasih, eommanim?”

“obseo…itulah eomma ingin menjodohkannya dengan teman eomma, sama seperti kalian, akhirnya kalian menikah juga kan? aku heran sampai saat ini masih betah sendiri, eomma kadang tidak tega melihatnya yang terus-terusan bekerja, bahkan ia tidak mau biaya hidupnya kami bantu…dia benar-benar anak yang mandiri…” lanjut eommanim, tidak kusangka ternyata memang eommanim sangat menyayanginya…

***

Hyojoon POV

“hyojoon-ah…”

“n..ne?”

“aish! kau ini melamun terus, kau mau langsung pulang? Biar kuantar”

“ck~ mengantar pakai apa?” ucapku,

“umm…dengan mobilmu”

“memang kemana mobilmu?”

“kutinggal di kantor, aku lebih suka jalan kaki, lebih sehat dan irit bensin” candanya, dan aku tetap bisa tersenyum. Orang ini aneh, dia cuek dan sifatnya tidak bisa ditebak dan sesuka hatinya dalam melakukan segala hal.

Dddrrrtt!!

Sender : eomma
Joonie, makan malam di rumah ya, siwon baru saja pulang…

Siwon oppa…hari ini dia pulang…malas rasanya aku melihat wajahnya, tapi ini ajakan eomma dan eomma pasti sedih jika aku tidak datang…

“hei~ aigo~ kau melamun lagi?!”

“joongki-ya, mau membantuku?”

“hee?”

“kita ke rumahku, ini kunci mobilnya” ucapku dan menyerahkan kunci mobilku, dia masih terbengong-bengong, “ish! Ppali…nanti aku jelaskan dimobil apa yang harus kau lakukan!” ucapku, ia pun akhirnya mengangguk dan masuk ke mobil.

Sesampainya dirumah…

“chakkaman…jika eomma tanya apa hubungan kita…bilang saja…”

“kita pacaran? Begitu?”

“bu…bukan…tapi…”

“sudahlah, aku mengerti kau pasti tengah didesak untuk menikah kan? serahkan padaku saja, shin hyojoon, aku akan jadi pacar yang baik” ujarnya sambil membusungkan dada, aigo~ dasar pria ini!.

“tapi hanya untuk hari ini, oke?”

“arraseo~ tapi kau tahu ini tidak gratis kan?”

“ish~ arraseo! Ku traktir makan”

“sirreo~ untuk bayarannya nanti sesuai kemauanku!” ucapnya, aku mengiyakan dan menariknya masuk ke dalam.

Joongki POV

bisa kurasakan gadis disampingku ini sangat gugup! Tangannya saja tidak bisa diam. Pintu rumah dibukakan seorang pria tua, sepertinya dia sudah mengenal hyojoon dengan baik namun tatapan ramah dari hyojoon beralih jadi tatapan dingin padaku, sepertinya memang baru aku pria pertama yang diajaknya ke rumah mewah ini. ku tarik tangan hyojoon dan menggenggamnya, kuharap dengan begitu bisa sedikit menghilangkan rasa gugupnya, ia menengok ke arahku sejenak, dan aku hanya mengangguk memberi tanda semua akan baik-baik saja.

“joonie…eh, joongki?!” ucap nyonya Choi, ibu hyojoon, aku hanya mengangguk dan memberi hormat, sedangkan hyojoon langsung kabur ke pelukannya. Nyonya Choi pun langsung mengajak kami ke ruang tamu, dan seperti yang kuduga, ibunya banyak bertanya mengenai hubungan kami, dan kulihat beliau cukup senang dengan kedatanganku.

“aigo~ aku tidak menyangka perkenalan kalian bisa lanjut…joongki-ya, aku titip hyojoon ya, hatiku tenang sekarang joonie sudah ada yang menjaganya” jelasnya, hyojoon hanya tersenyum kecil, tidak banyak bicara.

“hyojoon…” panggil seorang pria, kulihat kebelangan, sosok pria tinggi dan yaa…memang tampan, tapi tatapannya pada kami sulit diartikan, dia siwon, hanya sekali aku bertemu dengannya saat dipernikahannya dulu.

“ah, joonie, kenalkan joongki pada siwon”

“n..ne…siwon oppa, ini joongki dan joongki, ini siwon oppa” ucapnya tapi tanpa mau menatapnya, ada yang terasa ganjil disini…

Kecurigaanku makin bertambah saat makan malam berlangsung. Aku bisa merasakan kecanggungan dari hyojoon, ia tidak banyak bicara, bahkan ia baru bicara jika ditanya dan raut wajahnya…begitu tersirat kesedihan. Ada apa dengan gadis ini? apa dia masih sedih karena tadi siang? Belum lagi tatapan siwon yang begitu menunjukkan ketidak sukaanku ada disini, beda halnya dengan ia melihat kyuhyun, kekasih dari adiknya juga, jiwon. Bukan rasa cemburu seorang kakak, melainkan…rasa cemburu akan cinta… apa mungkin firasatku benar? Terlebih lagi aku tahu bahwa hyojoon adalah anak angkat dari keluarga ini…

Setelah makan siang, hyojoon mengajakku jalan ke taman belakang. Ia masih saja diam dan menundukkan wajahnya. Makin hari aku sering bertemu dengannya, aku makin nyaman berada di dekatnya, dan melihatnya dengan wajah sedih itu, malah membuatku ingin terus menghiburnya…

“mianhae…kau pasti merasa tidak enak dengan makan malam tadi kan?” akhirnya ia bicara. ia duduk di bangku taman pinggir kolam renang, dan menatap kosong air kolam yang tenang itu,

“gwenchana…tapi ibumu begitu baik menerimaku disini…” ucapku, berusaha untuk tidak membuatnya sedih,

“…syukurlah…joongki-ya…aku…aku…” dia masih menundukkan wajahnya, kutarik tubuhnya dalam pelukanku, tubuhnya bergetar kembali dan ia menangis dalam diam. Kenapa hatiku begitu sakit ketika melihatnya menangis seperti ini? sama seperti tadi siang di pemakaman. Ada suatu rasa berbeda saat aku memeluknya dan ingin membuatnya terus tersenyum, apa aku benar-benar mulai menyukainya?

“menangislah jika kau ingin menangis…keluarkan semua kegundahan dihatimu…ada aku, hyojoon-ah…” ucapku pelan, dan beralih mengecup puncuk kepalanya.

***

“jeongmal gomawoyo…hari ini aku terlalu banyak menangis didepanmu” ucapnya pelan dengan mata sembab. Setelah menangis tadi aku mengantarnya kembali ke apartemen, wajanya makin terlihat pucat.

“itu gunanya teman kan?” balasku, ia hanya tersenyum kecil dan terus menatapku, meski dengan ditopengi wajah sedih, mengapa gadis ini tetap terlihat mempesona dihadapanku?

“ne…kau pulanglah” ucapnya dan berbalik masuk kedalam apartemennya,

“ya~ shin hyojoon” cegahku, menarik lengannya kedalam elukanku lagi,

“j..joongki-ya…”

“izinkan aku mengisi hatimu…menjadi sandaran untukmu, menemanimu disaat susah dan senang” ucapku tegas, dan kuyakin ucapanku tidak main-main,

“joongki…”

“aku akan menunggumu…pegang janjiku ini, hyojoon-ah…” ucapku, kulepas pelukanku, ia masih diam menatapku dengan bingung dan kaget. Kuusap rambutnya pelan, “istirahatlah…hari ini pasti kau sangat lelah kan?” ucapku lagi,

“andwae…”

“mwo?”

“aku tidak yakin apa aku bisa…kau tidak tahu…”

“…aku memang tidak tahu bagaimana cerita masa lalumu dan aku tidap pernah mau tahu, tutuplah kisah masa lalumu itu hyojoon-ah…buka lembaran baru, bersamaku…”

***

Author POV

Semalaman hyojoon terjaga. Ucapan joongki terus terngiang dalam ingatannya. Apa yang harus ia lakukan pun tak tahu. Begitu sulitnya melupakan siwon dan menerima pria lain disisinya…

“eomma…jika dia memang terbaik untukku…bukakanlah hatiku untuknya, hanya untuknya seorang eomma…yang kuyakini dengannya aku bisa bahagia…” ucap hyojoon sambil terisak.

Sementara itu di lain tempat, seorang pria pun masih terjaga di dalam ruang kerjanya di rumah, siwon. Tak ada yang ia lakukan selain menatap kosong layak laptop miliknya yang didalamnya terdapat foto seorang gadis dengan beruang coklat yang ada disampingnya, boneka pemberian siwon dulu…

 

‘Aku belum bisa melupakanmu joonie…kau begitu berarti bagiku, lebih dari apapun…batin siwon. Ia memijat keningnya yang terasa penat. Ia yakin hyojoon masih mencintainya dan joongki tidak lebih dari relasinya, yakin siwon.

“oppa…kau belum tidur?” ucap minhee diambang pintu,

“sebentar lagi…” segera siwon menutup laptopnya dan mengajak minhee untuk kembali masuk ke kamarnya.

***

Keesokan harinya…

“apa aku menganggu?” ucap seorang lelaki yang sudah masuk ke dalam ruang kerja hyojoon. Hanya dengan mendengar suara pria itu tubuhnya kaku seketika dan tak kuasa menatap pria yang melangkah makin dekat kea rah meja kerjanya.

“o…oh, aniyo…silahkan duduk oppa” balas hyojoon berusaha untuk sebiasa mungkin, sambil menyibukkan diri membereskan berkas kerjaannya,

“mau menemaniku makan siang?”

“jika ada yang ingin kau bicarakan bisa dibicarakan disini, karena aku sudah ada janji makan siang dengan klien, oppa…” tolak hyojoon, siwon masih diam dan terus menatap lesu gadis dihadapannya ini,

“apa kau sehat?”

“seperti yang kau lihat sekarang, aku masih bisa masuk kerja kan?” balas hyojoon, sedikit dingin. Siwon menghela nafas berat, melihat sekeliling meja kerja hyojoon dan baru menyadari bingkai foto dirinya yang dulu selalu gadis itu pajang kini tidak ada, dan bahkan foto keluarganya pun tidak ada satupun terpasang diruangan ini. “joonie…katakan apa yang harus aku lakukan?”

“mworagu?”

“apa karena diriku kau jadi menjauhkan diri dari eomma, appa dan jiwon?” ujar siwon terus terang,

“ahni…perlahan-lahan aku memang menarik diri dari keluarga kalian…bahkan sebelum kau menikah, aku sadar akan posisiku dalam keluargamu…”

“joonie…eomma perlakukan kau sama dengan kami”

“aku tahu…aku tahu eomma sangat menyayangiku…aku bisa merasakannya, tapi…tidak akan bisa aku terus berada diantara kalian…oppa tenang saja, lambat laun aku akan pergi dari hidupmu…aku pun tidak mau jadi penghambat rumah tanggamu…”

“hyojoon…neo…”

“jika oppa paham apa yang aku rasakan, pasti oppa mengerti mengapa aku melakukan hal ini” ucap hyojoon dengan terus menatap siwon dalam, berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis didepan siwon, berusaha menunjukkan bahwa ia gadis yang kuat, yang bisa melupakan masa lalunya.

***

“hot chocolate”

“gomawo…” ucap hyojoon. Joongki tersenyum kecil dan duduk disamping gadis yang kini resmi menjadi kekasihnya.

“apa kau benar tidak mau tahu kisah cintaku yang dulu?”

“apa penting bagiku? Jika kau menceritakannya, itu sama saja dengan membuka luka lama dihatimu kan?” joongki bertanya balik, ia genggam tangan hyojoon erat dan menaruh di dada kirinya, “joongki-ya…”

“belajarlah untuk buka hatimu padaku, dan aku pun juga begitu…yang butuhkan adalah percaya padaku” ucap joongki begitu yakin,

“kenapa kau begitu yakin? Kita baru kenal dan kau tidak tahu bagaimana masa laluku…kau pun tidak tahu bagaimana rasa sayangku pada kisah di masa laluku kan?”

“jika kau beri aku kesempatan, semua ucapanku pasti akan ada hasilnya” ujar joongki, ia usap pipi hyojoon, “trust me…” lanjutnya lagi.

Hyojoon POV

Percaya padanya… mungkin itu yang harus aku lakukan. Semua memang terasa berat, namun seiring berjalannya waktu perlahan aku pun mulai terbiasa dengan kehadirannya yang selalu ada disampingku meski begitu, hubunganku dengan siwon terasa makin menjauh begitu juga dengan eomma, appa dan jiwon.

Aku sadar akan statusku di keluarga Choi. Aku ingin menebus kesalahan dimasa lalu, masa dimana aku mempunyai hubungan rahasia dengan siwon, rasa bersalah pada eomma dan appa masih sering menghantuiku hingga saat ini. kupikir dengan aku keluar secara perlahan dari keluarga Choi, itu akan lebih baik untukku dan juga siwon, tapi sepertinya siwon masih belum bisa menerimanya. Beberapa kali ia sering datang ke kantor bahkan ke apartemenku, hingga pada saat ia datang dan bersamaan dengan joongki yang habis bermalam di apartemenku…

“ya~ song joongki! Baguuun~” ujarku, anak ini saaangat susah dibangunkan! Bukannya bangun ia malah menarik lagi selimutku, aish~

“yaa~ ppali…makanannya keburu dingin~” ucapku sambil menarik selimut, namun… bruk! “popo~” ucapnya masih dengan mata terpejam tapi bisa menarik tubuhku hingga kini posisiku berada diatasnya!

“mwo?!”

“joonie~ kita pacaran hampir 1 bulan dan kau belum mau menciumku, huh?”

“a…aish! apa semalaman kau tidur sambil memelukku itu belum cukup?!” omelku,

“yaa~ kau itu yang mabuk sampai minta kupeluk tau!” ujarnya yang malah mendengungkan keningku, aku bangun dan kini kami sama-sama duduk saing berhadapan. Menciumnya? Hal sama sekali tidak terpikir olehku…

Joongki mengusap pipiku pelan dan senyum yang tak pernah hilang dari wajahnya, “lupakan ucapanku tadi, hehehemmpp…” kucium bibirnya kilat, setidaknya aku ingin mennunjukkan bahwa aku menjalani hubungan dengannya memang karena aku sayang padanya, bukan semata-mata untuk pelarian,

“hyojoon-ah…”

“sesuai permintaanmu kan? umm…kau menghitung lamanya hubungan kita?”

“keurom~ tidak salah kan?”

“ahni…ayo makan~” ucapku sambil menarik tangannya, namun –lagi-lagi- ia menarik tanganku dan kembali mencium bibirku, hanya sebentar, namun terasa begitu lembut dan manis. “gomawo” ujarnya.

Ting tong!

“tamu?”

“oh, kau duluan saja, biar aku yang lihat” ucapku dan bergegas menuju pintu.

“nuguse…siwon…oppa…” ujarku tercekat saat melihat sosoknya yang pagi ini sudah ada disini.

“apa kau sibuk hari ini?”

“a…aku…”

“siapa hyojoon-ah?” celetuk joongki, kulihat ekspresi kaget terpancar dari wajah siwon apalagi saat joongki sengaja memeluk pinggangku dan sedikit membungkuk pada siwon.

“masuk oppa…kami baru mau sarapan”

“lain kali saja…sepertinya aku menganggu acara pagi kalian, nanti kuhubungi lagi joonie” ucapnya dan berlalu dari kami. Dalam sekejap moodku langsung jatuh karena kedatangannya. Aku tau dia pasti kesal, apalagi melihat ada joongki disini.

“jangan bilang kau memikirkannya?”

“n…ne? aniyo, ayo sarapan…aku lapar…” ucapku dan mengalungkan tanganku di lengannya.

***

Malam harinya kami diundang makan malam eomma ke rumah, ada suatu hal yang ingin eomma beritahu, tapi sayang joongki tidak bisa ikut hadir. Suasana rumah pun tidak begitu ramai, karena jiwon ada acara makan malam bersama keluarga kyuhyun.

“appa belum pulang eomma?” tanyaku yang saat itu membantu menyiapkan makan malam,

“masih di ruang kerjanya…ini bawa ke dalam joonie, dan bisa panggilkan siwon dan minhee?”

“ne? ne eomma” ucapku, kutaruh lagi celemek dan ke atas. Baru saja hendak mengetuk pintu, pintu kamar siwon oppa pun terbuka dan… “eh, hyojoon-ssi?”

“umm…eomma memanggil kalian ke bawah” ucapku dan langsung pergi, lebih baik jika siwon tidak melihatku.

Acara makan malam pun berjalan dengan tenang, hanya appa dan siwon yang sesekali membicarakan masalah kantornya, dan eomma juga hanya sesekali bertanya mengenai kabarku dan juga joongki. Setiap eomma menyebut nama joongki, bisa kulihat ekspresi tidak suka yang terpancar dari wajah siwon, hal itu sedikit tidak membuatku nyaman apalagi didepan istrinya ini…

“oh ya, joonie…minhee hamil…” ucap eomma, seketika aku diam dan menatap minhee dan juga siwon yang ada didepanku. “o…oh…benarkah? Cukhae oppa, eonni…” ucapku berusaha sebiasa mungkin,

“ne, hyojoon-ah…” balas minhee.

“kau kapan menyusul hyo? Joongki sudah melamarmu?” celetuk appa,

“ne? joongki…sudah appa…” balasku, tidak peduli aku berbohong, namun setidaknya aku ingin menunjukkan bahwa aku mempunyai orang yang juga mencintaiku….

“jinca? Aigo~ berarti kalian bisa menikah lebih dulu dari pada jiwon kan?” ucap eomma,

“aku…belum beri jawabannya eomma” balasku lesu.

setelah acara makan malam berakhir, eomma dan appa langsung masuk ke kamar tidurnya dan kini aku hanya diam melamun di balkon pinggir kolam. Hatiku sedikit tenang mendengar kehamilan dari minhee, setidaknya aku tahu siwon benar-benar bisa menjaga dan menerima minhee sebagai istrinya. “joongki-ya…kuharap kau ada disini…” lirihku, berusaha menahan untuk tidak menangis.

“bisa kita bicara?” kusadari siwon sudah berdiri disampingku,

“apa? Bicarakan disini saja”

“andwae, ikut ke ruanganku”

“oppa…”

“ppali” ucapnya tanpa mau melihatku, begitu dingin. Mau tidak mau kuikuti ia masuk ke dalam ruang kerjanya. “apa yang mau kau bicarakan? Aku mau pulang” ucapku. Siwon berbalik dan yang kutiemukan adalah wajah lelah dan juga sedih… “joonie…”

Author POV

“…kau tidak akan menerima lamarannya kan? tidak kan?” ujar siwon penuh harap, hyojoon diam dengan menatap nanar siwon, “apa maksudmu? Dan apa urusanmu melarangku? Jawab oppa…” balas hyojoon tertahan,

“karena aku mencintaimu! Aku…aku masih mencintaimu hyo…jebal…” ujar siwon memegang kedua bahu hyojoon. Gadis itu menunduk dan terdengar isakan kecil dan juga tawa terpaksa, ia hempas pegangan siwon, memegang kepalanya yang terasa begitu sakit, “mencintaiku? LALU BAGAIMANA DENGAN MINHEE EONNI?! KAU MASIH BERANI BILANG MENCINTAIKU SEMENTARA SAAT INI DIA TENGAH MENGANDUNG ANAKMU?! Hhh…jawab aku…jawab oppa!!” teriak hyojoon, siwon masih diam dengan rahang yang mengeras, menahan emosinya,

“kau tahu? Kata-katamu begitu menyakitkan bagiku oppa…sampai kapan kau begini? Aku adikmu…aku adhhmmppff!!” siwon membungkam bibir hyojoon dengan bibirnya, melumatnya begitu kasar. Tubuh kecil hyojoon terus didorongnya hingga ke dinding kamar, hyojoon berusaha keras melepaskan himpitan tubuh siwon, ia pukul dada bidang siwon terus-menerus, berusaha melepas ciuman kasar siwon yang makin menyayat hatinya.

“uhmm..op…phuaahh…”

“joonie…aku…”

“kau tega oppa…aku benci…AKU BENCI PADAMU!!” teriak hyojoon, bergegas meraih tasnya dan hendak keluar, namun dengan cepat siwon menarik lenganya dan berusaha memeluknya.

“mianhae hyo…jebal…”

“lepas!! Kenapa…kenapa kau tidak pernah bisa mengerti rasa sakit hatiku?! aku lelah…aku lelah oppa…hatiku sakit…” isak hyojoon pilu dalam dekapan siwon.

Di depan pintu yang tidak tertutup rapat, minhee hanya bisa menatap nanar apa yang terjadi didalam ruangan. Kenyataan pahit yang harus minhee terima dan juga rahasia besar yang seharusnya ia tidak boleh tahu…

“Oppa…” Lirihnya pelan, ia menangis dalam diam, air mata terus keluar dari kedua matanya,

“Lepas! Pergi dari hidupku… Atau aku yang akan pergi dari hidupmu…selamanya…” Ucap hyojoon sambil menepis pelukan siwon.

Minhee POV

“Lepas! Pergi dari hidupku… Atau aku yang akan pergi dari hidupmu…selamanya…” Kulihat hyojoon melepas paksa pelukan siwon oppa dan keluar pintu, segera ku tinggalkan ruangan tersebut dan pergi ke kamar, berusaha menenangkan hatiku.

Hatiku begitu sakit setelah tahu apa yang terjadi diantara mereka, aku memang tahu bahwa hyojoon bukan anak kandung keluarga choi, tapi jika mengetahui hubungan rahasia diantara mereka…apa yang harus aku lakukan? Jika mereka saling mencintai, mengapa mereka milih berpisah dan membawaku masuk kedalam kehidupan siwon oppa?

Tak lama kudengar pintu kamar kami terbuka, aku masih duduk membelakanginya. Tanpa berkata satu patah kata pun ia melepas jasnya dan berbaring di ranjang kami. Tanganku mengelus perut yang masih datar ini, setidaknya bayiku memberi kekuatan tersendiri. Dia ayahnya, dia suamiku, dan dia milikku…

Aku ikut berbaring disebelahnya, memandang wajahnya yang terlihat sedih dan lelah. Oppa… Sebesar apa cintamu padanya? Apa kau tidak mau beri aku kesempatan untuk bisa masuk ke hatimu dan menjaga cintamu?

***

Author POV

Sekeluarnya dari rumah, hyojoon mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia menangis dalam diam, tak ada isakan tangis yang terdengar, namun hanya air mata pilu yang terus mengalir di wajahnya.

Mobilnya pun melipir di pinggir sungai han yang sepi. Kedua tangannya bersandar pada stir mobil, fisik dan hatinya begitu lelah. “Kenapa semua ini menjadi sulit?…eomma…aku lelah…aku lelah eomma…” Lirihnya tak bertenaga,

dddrrrttt!!! *joongki calling*

“…”

“Hyo! Kau dimana?!”

“Joongki..ya…”

“Kau baik-baik saja? Katakan kau dimana?” Ujar joongki makin panik saat mendengar gadisnya menangis,

“Han…” Ucap hyojoon pelan disela isak tangisnya.

Tak sampai 10 menit joongki sudah berada di sungai han, dan dengan mudahnya ia temukan mobil hyojoon yang memang hanya ada satu-satunya mobil disana.

“Hyo…” Ucap joongki, ia lihat gadis itu hanya diam sambil duduk lesu diatas kap mobil. “Hug me…” Lirih hyojoon. Tanpa membuang waktu lama pun hyojoon sudah berada dalam pelukannya, begitu hangat dan nyaman.

“gwenchana…?”

“Oh…” Balasnya sedikit serak.

Sejenak keduanya terdiam. joongki melepas pelukannya namun tetap merangkul hyojoon dalam dekapannya, dengan sesekali mengusap rambut hyojoon.

“bawa aku pergi…”

“ne?”

“aku hanya ingin memulai semuanya dari awal…melupakan semua masa laluku…” lirih hyojoon, dengan mata yang kembali berkaca-kaca,

“joonie…”

 “bawa aku pergi sejauh mungkin dari sini…biar aku hanya bisa melihatmu seorang…hanya kau” lanjutnya sambil menatap joongki, air matanya pun tak lagi terbendung. Deru nafas yang tak beraturan begitu terasa menerpa wajah joogki yang begitu dekat dengannya. Jemari joongki menghapus air mata diwajah gadis yang begitu lemah dihadapannya, mendaratkan ciuman manis sebagai jawaban atas permintaan hyojoon.

Pagi harinya…

Hyojoon POV

Sinar matahari masuk melalui jendela kamar yang lupa aku tutup semalam. Kupaksa membuka mataku, dan melihat pria ini masih tidur pulas sambil memeluk tubuh kami yang sama-sama polos dibalik selimut. Aku berbalik menghadapnya, membelai pipinya dan juga bibirnya. Memberi kecupan kilat.

Segera aku pakai kembali pakaianku, dan tak sengaja melihat tanda kemerahan di dada dan leherku. Merabanya dan teringat kembali sentuhannya yang masih terasa, kembali membuat wajahku memerah. Ya…aku telah memberi semua kepadanya dan hanya padanya, jodohku…

“merasa lebih baik?” ucapnya setelah menghabiskan sarapannya. Aku hanya mengangguk pelan dan kembali masuk kedalam rangkulannya. Pagi ini sungguh aku tidak ingin melakukan apa-apa selain berada disampingnya. sesekali joongki mengecup rambutku dan tangannya yang mengusap perutku. “secepatnya aku akan bicara pada keluargamu…”

“hmm…keudae…masih ada satu hal yang harus aku selesaikan” balasku,

“siwon?” ucapnya dan aku hanya mengangguk, “gwenchana…aku bisa mengatasinya…” balasku untuk meyakinkan bahwa aku aku benar-benar siap melepas siwon…

***

“hyojoon-ssi, ada yang ingin bertemu”

“nugu? Umm…langsung masuk saja” putusku. Kulihat jam sudah memasuki waktu makan siang, tadinya kupikir akan bertemu dengan siwon, meluruskan masalah yang kemarin, namun…

“hyojoon-ssi”

“o..oh…minhee-ssi…”

“bisa makan siang bersama?” ucapnya, aku hanya mengangguk pelan dan mengajaknya ke café tak jauh dari kantorku. Kulihat wajahnya menyorotkan kesedihan, dan tumben sekali dia datang ke kantorku dan ini adalah kali pertamanya aku bertemu dengannya.

“apa ada hal yang penting?” aku memulai pembicaraan, karena sejak datang di café ia hanya diam dan menunduk.

“aku bingung harus memulai dari mana…semua ini terasa begitu sulit bagiku…seakan aku berada disebuah persimpangan yang aku pun tak tahu harus kemana…”

“apa semua ini tentang siwon?” tebakku langsung, dia hanya diam dan memandangku intens, “apa kau masih mencintainya?” ia bertanya balik, dan benar dugaanku, dia mengetahui masa laluku bersama siwon. Aku masih diam dan menarik nafas panjang, setidaknya memberiku sedikit kekuatan.

“dulu siwon memang pernah menjadi bagian hidupku…menjadi satu-satunya pria yang begitu spesial dalam hidupku…aku sadar, aku telah membuat kesalahan fatal dengan mencintainya…aku yang menyuruhkan untuk menikah dengan gadis pilihan eomma, yang aku yakini bisa membahagiakannya…dan itu dirimu…kau tidak perlu takut aku akan merebutnya darimu…” jelasku sedikit tertahan.

“tapi…bagaimana dengan dirinya yang masih mencintaimu?” ucapnya dengan nada sedikit tinggi dan mata yang berkaca-kaca,

“kau istrinya…dan saat ini kau mengandung anaknya, apa hal itu belum cukup untuk membuatnya jatuh cinta padamu?” ucapku. Aku berdiri dan sedikit membungkuk, “kau pun tidak perlu takut…aku akan menghilang dari kehidupannya….untuk selamanya” ucapku dan berlalu pergi.

Setelah keluar café aku masih melihatnya terdiam. dia tidak bersalah…dia hanyalah korban dari perbuatanmu, siwon…

“siwon-ssi…kutunggu di tempat biasa” ucapku lewat telfon. Setelah keluar dari café itu, aku pergi menuju sungai han, tempat dimana aku menghabiskan waktu sendirian ataupun bersamanya.

“joonie…” kulihat ia begitu tergesa-gesa menghampiriku, bisa dilihat dengan keringat yang bercucuran dari wajahnya. Aku menyuruhnya duduk dan memberi segelas iced Americano, minuman kesukaannya.

“aku minta maaf atas kejadian kemarin malam, aku tidak bermaksud menyakitimu…hanya saja setiap aku melihatmu, perasaan ingin memilikimu kembali muncul… aku masih mencintaimu” jelasnya, sambil menatapku begitu dalam. Tatapan yang tak pernah berubah terhadapku, selalu penuh cinta. Aku hanya menunduk dan menggelengkan wajahku pelan, “kisah kita sudah berakhir, kini kau sudah punya tanggung jawab lain, bahkan kau akan menjadi seorang ayah…oppa…lepaskan aku…lepaskan cintaku yang ada dihatimu dan isi dengan cinta dari istrimu…dialah wanita yang harus kau cintai, bukan aku” ucapku, siwon masih diam dan menatapku dengan tatapan kecewa dan sedih.

Kuusap pipinya, menghapus tetesan keringan di dahinya dengan tanganku. Siwon memejamkan kedua matanya menghembuskan nafas berat, “kau pasti bisa bahagia oppa…kau pun ingin melihatku bahagia kan? aku akan bahagia bersama pilihan hatiku…kau adalah kakakku, selamanya akan seperti itu…” lanjutku lagi. Siwon masih diam dan kedua tangannya bergerak menarik tubuhku dalam pelukannya, begitu erat, “haengbokhae…joonie-ya…” lirihnya.

“pasti oppa, mungkin beberapa tahun ke depan aku pergi, pergi ke tempat dimana aku bisa memulai hidup baru dengan pilihanku, dan jika nanti kita bertemu lagi…kuharap aku bisa melihat keluargamu hidup bahagia oppa…” ucapku lagi setelah melepas pelukannya, aku tersenyum dan membungkuk lalu pergi dari hadapannya.

***

EPILOG

“cho kyuhyun, apa kau bersedia menerima jiwon sebagai istrimu, dalam suka maupun duka, berjanji sehidup semati untuk membahagiakannya?”

“aku bersedia…”

“choi jiwon,  apa kau bersedia menerima kyuhyun sebagai suamimu, dalam suka maupun duka, berjanji sehidup semati untuk membahagiakannya?”

“ne…aku bersedia bapa”

“kusahkan kalian menjadi sepasang suami-istri” ucap pendeta. Senyuman pun mengembang dari bibir jiwon. Kyuhyun membuka penutup kepala jiwon dan mengecup bibirnya. Aku pun tidak bisa melepas senyumanku, dan eomma yang berada disampingku, begitu terharu melihat anak bungsunya kini telah menikah.

“hiks…jiwon kecilku…” isak eomma,

“eomma…”

“ya~ joonie, secepatnya kau harus menyusul dengan joongki, arrachi?” ucap eomma, aku hanya mengangguk dan tersenyum. Setelah itu eomma dan appa menghampiri kedua mempelai untuk memberi selamat. Aku melihat sekeliling, dan bocah itu belum menunjukkan batang hidungnya.

“joonie” panggil seseorang dibelakangku, siwon oppa dan minhee eonni rupanya,

“oh, annyeong…lama tidak berjuma” ucapku sambil sedikit membungkukkan badan.

“kapan kau kembali ke seoul?”

“kemarin malam oppa…”

“kau sendiri?” celetuk minhee,

“ne, katanya joongki akan datang, tapi…sepertinya dia masih sibuk dengan pekerjaannya” balasku,

Pluk! “chagiya” seru seorang lelaki yang baru datang dan langsung memeluk pinggangku, “y..ya~” ujarku risih, “mianhae, tadi pesawat delay…ah~ hyung…lama tidak berjumpa?” sapanya begitu ramah pada siwon dan minhee, aku hanya tersenyum kecil.

“siwon, ambilkan makanan untuk minhee, dia pasti belum makan, pasti bayi kalian lapar kan?” celetuk eomma sambil membawa sepiring salad, lalu menghampiri kami, “ne, arraseo…kau mau makan apa?” tanya siwon begitu perhatian, sedikit membuat hatiku tenang.

“nanti saja…”

“nah, joonie, ini salad kesukaanmu” ucap eomma yang hendak menyuapi satu sendok salad, namun… “hue…hump!!”

“joonie? Wae geure? Kau sakit?” tanya eomma, aku hanya menggeleng kepala, perutku langsung mual ketika mencium bau mayonnaise itu. Tatapan heran pun langsung tertuju padaku dan juga joongki. “joonie…jangan bilang kau…”

“hehe…mianhaey omoni, sudah 1 bulan” celetuk bocah disampingku, begitu polosnya!

“m..mwo? JADI KAU SUDAH HAMIL?!” seru eomma dan siwon oppa. “hehe…mianhae…eomma” ucapku sedikit takut, tapi eomma malah memelukku erat. “kita harus segera siapkan pernikahan lagi!” putus eomma. Kulihat siwon oppa hanya tersenyum kecil dan mengangguk begitu juga dengan minhee eonni yang kini sudah bisa menerimaku. Mengubur dalam-dalam semua masa lalu kami dan memulai dari awal dengan seseorang yang mencintaimu tulus, tanpa kau harus merahasiakannya…

The End!!

Selesaiii~~ kandit, jangan minta sequel lagi yee, kan udah sampe bunting noh ama si joongki, hahaaaa… ini ff menghabiskan 23 page dan 7000-an word. Moga gak garing dan bertele-tele yaaa.. 

28 thoughts on “The Beginning [PG 15]

  1. rizkariri berkata:

    Ini ff panjang banget,ta. Ampe bikin mata gue meneteskan air dr mata, entah ceritanya yg sedih dan mengharukan atau krn kelamaan natap monitor, hihii
    Tapi ceritanya emang beneran sedih, dan ending yg tak diduga2. Saiiik.
    Baguusss,Ta!
    Tetap semangat!

  2. standing applause untuk dita sherina yang ff nya sampe 23 word!!! *prok prok prok prok*
    kandit gak minta lanjutan tp aku yang mintaaaaa!! hahahaa
    kurang tragis dit, kirain nasib minhee bakalan tragis sampe mewek seember hahahaa
    ya~ hyojoon sm siwon gak mau gitu2 tp sama joongki mau bunting, dasar!!
    mereka hidup dimana itu ceritanya??
    jadi siwon cinta gak nih sm minhee?? jadi gue dihamilin krn siwon mabok… yaampun, gak relaaa…. mau lagi yg gak pake mabok #eh hahahaa

  3. sneeze berkata:

    hooaaa.. daebak..daebak.. ending’a itu lucu bange joongki.. hahah..
    ga bersalah bgt ekspressinya.. *bayangin*
    tp keren, aku suka.. no comment dah, haha
    eon ga ada story ttg joongki ama hyojoon wkt lepas dr seoul? wahahaha *ngarep*
    nice ff lah eon.. ^^d

  4. Hahahaha iya ka~ ga minta sekuel lagi deh~ tapi bikinin yg baru yaaaaa :p
    Mau dong beruangnya~ masih blm kesampean punya nih ㅜ.ㅜ ckck gila ya itu si big teddy, udah punya istri hamil masih aja mau milikin hyo lagi -_- emang eke cewe apaan?haha
    Marilah, kita tutup masa lalu bersama siwon dan memulai yg baru dgn joongki #mukaserius eh tapi kaaaa, kok skinship sm joongkinya dikiiiiiit?hahahaha xD

  5. aaaaa…SO COOL…iseng2 buka wp ini trus nemu ni ff di list kekeke~ pdhl blm baca yg sebelumnya.!*Pluk!nakal*
    KEREN ONN….so complex!aku suka dan ini menyesakkan..ah..siwon plin plan ya?*diawal* cuma ya akhirnya happy end..dan aku suka..beneran ga ada sequel ini onn?tanggung *diinjek* hehehe

  6. hyunnie berkata:

    mantap panjangnya.. hehehe
    udah cukup panjang kok.. setidaknya cukup melanjutkan yg menggantung kemaren..
    hehehe..
    akhirnya happy ending smua.. ^^

  7. ga nyangka endingny bakal beneran ama joongki… ckckck ampe ‘ngebobol’ duluan lagi…
    eh tapi seriusan pengen sequel pas lairan tuh bocahnya *ditendang author, minta mulu ._.*

  8. hyojoon sama siwon ga mw begituan tp sama joongki tw2 udh 1bln..
    ckkkckckkk brarti pesona joongki lbh menghanyutkan dr pd siwon
    ahh kirain bakal ada perang dunia ke sekian wktu minhee tw hubungan rahasia hyojoon ma siwon..
    hebat!! minhee bsa sabar n nerima bgt siwon.. ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s