[AeKris Story] Only U

¯Do you see my heart? Why is it love?
I was never gonna fall in love again
But I’m such a fool¯

Panas terik siang ini tidak memudarkan semangat sutradara yang sudah duduk dikursinya, siap memberi instruksi pada semua kru dan pemain. Syuting terakhir untuk film genre romance perdananya yang akan tayang 3 bulan lagi ini kini tengah mengambil adegan di pantai, dan kissing scene tentunya.

Aktor pendatang baru, namanya baru melejit saat membintangi film horror adaptasi dari novel misteri terkenal, kris wu, menjadi pemeran utama di film ini dengan lawan main aktris cantik, Go minjung, salah satu aktris yang kini tengah digosipkan terjadi cinta lokasi dengan kris.

Adegan dimulai dari kris dan minjung berjalan di bibir pantai, bergandengan tangan dan diakhiri dengan ciuman mesra. Gestur tubuh kris yang menurut kru wanita begitu menarik perhatian, begitu serasi dengan minjung, saat kris menarik dagu gadis itu dan menautkan bibirnya, semua mata tertuju pada keduanya, kecuali satu orang yang sedari tadi berdiri diam dibalik punggung kameramen. Kedua tangannya mengepal erat pulpen dan script tebal yang dipegangnya, melihat lirih kearah lain, yang penting bukan kearah adegan itu.

“cut!” kode sutradara, kembali membuat perhatian gadis itu kembali memandangi kris, nyeri dalam hatinya kian menjadi saat kedua orang itu saling melempar senyum dan minjung yang tersipu malu.

“aeri-ya, nanti malam kris tidak ada jadwal kan?” ujar jihoo, manager minjung.

“seharusnya sih tidak, waeyo oppa?”

“hmmm…minjung memintaku untuk mengatur dinner dengannya” jelas jihoo, langsung membuat mood aeri makin buruk, dengan wajah datar ia hanya mengiyakan ucapan pria itu dan meninggalkannya ke stand minuman untuk kru.

Cish! Dinner?! Bisa-bisanya arrange dinner disaat sedang ada isu seperti ini?! Batin aeri geram. Baru saja ia ingin meneguk juice jeruk, sekejap langsung hilang dari genggamannya, berpindah tangan pada pria yang sebenarnya tidak ingin ia temui saat ini, tapi mustahil pastinya karena dia adalah personal assistant dari Kris Wu.

“thanks” ucapnya lalu melempar senyum andalannya pada fans yang beberapa meter dibelakang lokasi, tak lupa sedikit melambaikan tangan.

“nanti malam kau ada dinner dengan minjung, jihoo oppa yang sudah mengatur semuanya” ucap aeri tanpa memandanganya sambil membereskan barang-barang milik kris. Pria itu berbalik menatapnya, “kau ikut”

“itu acara bebasmu, lagipula malam nanti aku sudah ada janji dengan yerim” balas aeri lagi, masih belum mau menatapnya dan malah meninggalkan pria itu pergi.

***

Yerim’s apate

“jadi benar mereka ada hubungan khusus?!” seru pria yang tingginya hampir sama dengan kris, chanyeol, setelah aeri menceritakan dinner kris dengan minjung malam ini. Aeri hanya membalas dengan gidikan bahu. Ia lihat jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, artinya pria itu harusnya sudah ada di restoran.

“coffee~” ujar gadis berkacamata yang baru datang dari dapur dengan dua cangkir cappuchino dan satu hot choco.

“trims…” ucap aeri pelan.

“sudahlah, jangan dipikirkan…lagipula aku masih yakin kalau itu semua hanya skenario” elak yerim.

“s-siapa juga yang memikirkannya?!” ujar aeri,

“eyyy~ kau masih mengelak kalau kau menyukainya?!” ucap yerim tepat sasaran. Gadis itu hanya diam dan hanya meninum kopi miliknya.

“tidak ada salahnya juga kalau kau juga jatuh hati padanya, aeri” timpal chayeol.

“tidak! Aku hanya kesal…jika nantinya skandal itu benar terjadi, pasti aku juga yang repot!” ucap aeri, meski yerim dan chanyeol tahu semua yang diucapkannya tidak sepenuhnya benar.

Jauh dalam hatinya ia mengiyakan ucapan yerim ataupun chanyeol. Siapa juga yang tidak terkesima dengan paras tampan pria itu?

Jiaka saja bukan karena kakaknya sakit karena kecelakaan motor parah enam bulan lalu, ia tidak akan mungkin menjadi personal assistant kris, pengganti posisi kakak satu-satunya yang hingga kini hanya bisa duduk dikursi roda.

Seiring berjalannya waktu, ia makin mengenal kris dengan baik. Pria itu terlihat pendiam dan dingin dari luar, namun jika sudah mengenalnya, ia pribadi yang menyenangkan dan entah sejak kapan perasaan lain mulai tumbuh dihatinya, hingga saat ini, dalam diam ia menyukai kris. Hanya bisa menahan amarahnya jika melihat kris selalu dekat dengan lawan main wanita, apalagi melihat adegan mesra kris dengan lawan mainnya seperti tadi siang. Ia pun tak pernah berani berpikir untuk bisa merebut hati pira itu, siapa dirinya hingga pantas bersanding dengan pria itu? Pikirnya.

“ah~ aku lupa, kemarin Jin menitipkan ini padaku” ucap yerim seraya memberikan paper bag. Jin adalah mantan kekasih aeri sebelum aeri menjadi personal assistant kris, hubungan mereka terpaksa putus karena aeri tidak sengaja pergoki pria itu tengah make out bersama wanita yang aeri tahu sempat dekat dengan jin sebelum aeri dan jin menjalin kasih. Tapi hingga kini, pria itu malah terus mencari celah untuk kembali mendapatkan hati aeri, meski gadis itu menolaknya mentah-mentah.

“kenapa kau terima?”

“aku hanya menyampaikan pesan…tapi aku salut dengannya, sudah hampir…umm…6 bulan dia mengejarmu! Dan belum juga menyerah”

“menurutku, daripada kau bertepuk sebelah tangan pada kris, lebih baik kau beri kesempatan kedua untuk jin” timpal chanyeol disertai anggukan setuju yerim.

“yaaa~ sudah kubilang aku tidak suka!” gerutu aeri gemas, dan kedua sahabatnya itu tertawa geli melihat wajah aeri yang perlahan memerah.

***

Restaurant

Makan malam kali ini terasa sedikit berbeda, itulah yang kris rasakan saat ini. Meski sudah beberapa kali ia dan minjung menghabiskan makan malam bersama, namun kali ini ia merasa ada yang berbeda dengan gadis yang dua tahun lebih tua darinya.

“kuharap filmnya akan sukses nantinya” ucap minjung dengan pandangan mata tertuju pada salad dihadapannya.

“hmm…”

“dan aku senang bisa main film denganmu…kuharap setelah ini kita bisa kerja sama dalam film atapun drama” lanjutnya lagi, masih tidak menatap kris, sedikit buat pria itu heran dengan sikap minjung.

“noona, you okay?”

“kau masih saja panggil aku dengan sebutan aku, just minjung, okay?” Kris hanya mengangguk pelan, dan kembali memotong lamb steak miliknya dan keduanya kembali diam.

Seusai makan malam yang dirasa awkward oleh kris, kini ia sudah duduk di mobil minjung. Gadis itu sedikit memaksa untuk mengantarnya pulang, dengan alasan rasa terimakasihnya.

“sampai…” ucap minjung membuyarkan lamunan kris saat mobil itu berhenti didepan lobby apartement kris.

“hmm, thank’s minjung-ah”

“uh, kris-“ ia tahan lengan kris sebelum pria itu membuka pintu mobil.

“yep?”

“…aku…aku menyukaimu…” ucap minjung jujur, dengan kedua pipinya mulai merona. Kris diam sesaat dan mengerjap mata pelan, bingung apa yang harus ia katakan. Minjung memang partner dalam berakting yang menyenangkan baginya, tapi untuk menyukai gadis itu… sama sekali tidak terpikirkan olehnya.

“…dengan isu yang beredar saat ini…jujur aku senang kris…would you be…mine…” ucap minjung dengan besar harapan kris juga merasakan yang sama, namun pria itu lebih memilih untuk diam, hingga minjung perlahan mendekati wajahnya, melihat wajah tampan kris lebih dekat, dan mendaratkan ciuman lembut di bibir pria itu, tanpa sedikit pun kris mengelak, menikmati sensasi ciuman minjung yang cukup membuatnya terbuai. Hingga tanpa keduanya sadari sepasang mata didepan mobil minjung hanya bisa menatap nanar.

***

Pagi sekali kris terbangun karena suara gaduh dari dapur dan aroma masakan. Ia tahu assistant pribadinya selalu datang pagi sekali menyiapkan sarapan serta semua keperluan kris untuk jadwal hari ini.

“morning, aeri” ucapnya masih setengah mengantuk dan memilih untuk duduk disofa, menyalakan tv.

Aeri dibalik meja dapur, lebih memilih untuk diam dan menyiapkan sarapan, meski dalam hatinya masih kesal dengan apa yang dilihatnya kemarin malam. Selesai siapkan makanan, ia beralih menyiapkan baju dan perlengkapan yang kris butuhkan. Tak lupa membereskan isi apate kris.

“siang nanti kau ada pemotretan, setelah itu undangan director Jang untuk drama mendatang” jelas aeri, dan dering ponsel milik gadis itu terdengar sebelum kris menanggapi ucapan aeri.

“yeobseyo? Ne, sunbae…” suara aeri makin pelan dan sengaja menjauh dari kris, sedikit membuat pria itu menyeringit heran, namun tak lama aeri kembali memasang wajah muram memandang kris lamat.

“apa…ada masalah?”

“…kau…media mengambil foto saat kalian berciuman…tadi malam…dan management meminta klarifikasi darimu…” jelas aeri,

“maksudmu minjung?!”

“memang siapa lagi gadis yang pergi denganmu tadi malam, kris wu?” lirih aeri, antara sakit hati dan pasti pekerjaannya dua kali lebih berat setelah berita itu mencuat ke public.

“bersiaplah, aku tunggu dibawah”

***

Late Night @ Kris Apate

Aeri menghempaskan tubuhnya di sofa kris, menghela nafas berat, berusaha menghilangkan beban dalam hatinya seharian ini. setelah melalui pembicaraan serius antara pihak kris dan juga minjung, diputuskan untuk memberi klarifikasi pada public bahwa memang benar keduanya tengah menjalin kasih. Saat keputusan itu dibuat pun kris tak banyak bicara, aeri pun tak mengerti mengapa.

Lupakan aeri, lebih baik kau beri kesempatan kedua untuk jin… batinnya, meski ia tak yakin dengan perasaannya saat ini. ia pandang bingkai cukup besar dibalik tv dihadapannya, hasil foto pemotretan pertama kris. ia akui pria itu memang tampan, tatapan matanya yang tajam, hidungnya yang mancung, tubuh tingginya, dan bibir yang…mungkin akan membuatnya terbuai jika ia bisa menciumnya.

“arghh! Kau buatku jadi gila, Kris Wu!” gerutunya, ia bangkit dari sofa dan beringsut ke kulkas, biasanya ia selalu menyetok minuman kaleng, namun baru ingat tiga hari yang lalu stok habis, dan hanya ada botol minum tak bermerek dipintu kulkas. Tidak ada pilihan lain, sedikit ia coba minuman yang memang mengandung alcohol, tak peduli minuman itu apa, yang penting bisa sedikit meringankan beban dihatinya.

Selang setengah jam kris baru kembali dari ‘pertemuannya’ dengan minjung, di tempat yang aman tentunya, membicarakan banyak hal, termasuk skandal hubungannya dengan minjung. Jujur ia tidak ingin menjalin hubungan special dengan gadis manapun saat ini. kedekatannya dengan aktris itu pun hanya sebatas rekan dalam lawan main di filmnya.

“aeri? kau masih disini?” ujarnya melihat sepatu asistennya masih didepan pintu. Ia baru ingat tadi aeri izin pulang lebih dulu untuk mengambil tuxedo miliknya di butik.

Dan dilihat gadis itu duduk telungkup di meja makan dengan botol minuman yang sudah kosong. “aeri?! kau…kau habiskan minuman ini?!” seru kris sambil merebut botol dari genggaman aeri, arak khas dari china kiriman dari sahabatnya di china dengan kadar alcohol cukup tinggi.

“…ugh…hik! K-kris~” rancaunya nyaris tidak sadar, tangan kanannya menarik lengan kris agar duduk disampingnya. “aeri kau mabuk!”

“…kau…hik! Sudah…kembali?” rancau aeri sambil memegang sebelah bahu kris.

“kuantar kau pulang, kajja~”

“sirreo~! Hik…kenapa…kau…menyebalkan, huh!”

“aeri-“

“wae~~~~ apa…karena dia lebih cantik dariku?!” ucap aeri makin tidak jelas, sedikit membuat pria itu bingung. Selama mengenalnya, kris belum pernah melihat sisi lain aeri, seperti ini contohnya. Bicara apa adanya saat dibawah pengaruh alcohol.

Aeri duduk tegap, menatap kris dalam. Tangan kanannya mengusap lembut pipi kris, perlahan jemari lentiknya mengusap bibir kris, tanpa sadar. Dan baru kali ini kris sadari, wajah manis asistennya, jika tanpa kacamata tebal yang selalu dipakainya, dan juga rambut coklat panjang yang selalu diikat. Pipi aeri yang merah merona dan bibir pink gadis itu, sesaat membuatnya tertegun sekaligus membuat jantungnya berdegup kencang.

“…kenapa…aku… bisa menyukaimu?!” kedua tangan aeri dikalungkan di leher kris, membuat jarak keduanya makin dekat, “a-aeri-“ detik kemudian yang ia rasakan sapuan lembut dari bibir aeri diatas bibirnya. Ciuman lembut namun cukup membuat perut kris terasa geli.

Kris pun memejamkan kedua matanya, dan kedua tangan memeluk pinggang aeri. menikmati tiap detik lumatan bibir aeri yang sedikit mendominasi ciumannya, hingga perlahan bibir gadis itu perlahan turun, menggigit kecil dagu hingga leher kris, “argh…a-aeri…” erangnya, saat aeri menggigit pelan sisi lehernya. kris sedikit menjauhkan wajahnya, kembali menatap aeri intens, bibir gadis itu terlalu menggoda batinnya untuk kembali menciumnya, dan itu yang kris lakukan, kembali mencium aeri, hanya mengikuti perasaannya yang kini tengah bergejolak…

¯I am in love with you, can’t you see my heart?
Please don’t go far away because my tears are about to fall¯

***

In the morning

Sakit kepala hebat langsung menyerangnya saat ia membuka mata, tak lupa juga mengumpat minuman alcohol yang diminumnya semalam. Aeri menggeliat pelan, tubuhnya masih ingin berada dibalik hangatnya selimut dan parfum khas…

Kris?

Sontak ia membuka mata dan melihat keadaan sekitar, memang benar ia berada di tempat tidur pria itu, bagaimana bisa?! Ia periksa bajunya, masih lengkap, tanpa kurang satu pun.

“kenapa aku bisa disini?!” tanyanya pada diri sendiri, sambil melihat pantulan dirinya di kaca besar, rambut dan wajah yang berantakan.

Segera ia bangun dan keluar kamar, tak peduli sakit kepalanya belum hilang, ia harus mencari pria itu.

“kris?”

“oh? Kau sudah bangun? Minumlah” ucapnya dibalik meja bar dan menaruh secangkir kopi hitam.

“…m-maaf sepertinya semalam aku mabuk…hingga tidur di kamarmu…” ucap aeri setelah meneguk kopi, sedikit membuat kepalanya terasa ringan.

“…kau…tidak ingat?”

“ingat? Memang hal memalukan apa yang kulakukan semalam?” ia berbalik tanya, panik. namun kris mengurungkan ucapannya bahwa semalam mereka berciuman, sangat mesra.

“umm…kurasa aku harus pulang…thank’s kopinya…dan jam 3 nanti aku akan kembali kesini, untuk persiapan undangan premiere film” ucapnya dan bergegas mengambil ranselnya lalu keluar begitu saja, tanpa sedikit pun memberi kesempatan kris untuk bicara.

***

Premiere Film Love Actualy

Sejak ia datang di lokasi sebelum acara premiere film berlangsung, ada sedikit keanehan dari kris. aeri seperti merasa sedang diamati. Ia pun masih berusaha keras mengingat hal memalukan apa yang sudah ia lakukan kemarin malam. Mengingat pengalaman mabuk sebelumnya yang hampir menari striptis setelah ia putus dengan Jin, tapi untungnya saat itu ada yerim yang masih bisa menghentikannya.

Kris sendiri masih penasaran dengan gadis itu, dan entah mengapa ia kini lebih ‘peka’ dengan kehadiran asisten pribadinya. Bahkan hingga merangkum semua memori tentang aeri sebelumnya. Satu yang ia sadari, gadis itu penuh kesederhanaan.

“noona, kau ada dress lagi?” tanya kris pelan pada minji, make up artisnya yang tengah mendandani kris.

“dress? Untuk siapa?” pertanyaan minji tak langsung dijawabnya, melainkan hanya tatapan mata kris pada gadis yang tengah sibuk merapikan wardrobe kris dipojok ruangan.

“aeri?”

“saat ini, pasti banyak media yang menyorotku, aku hanya ingin asistenku selalu siap disampingku”

“kau yakin?” tanya minji, dan hanya diberi anggukan dari kris. minji mengangguk kecil dan setelah selesai memoles wajah kris, ia keluar mencari gaun yang ada dan kembali membawa satu gaun dan pumps yang masih ada di mobil.

“aeri, ayo ganti baju”

“eh?”

“hmm…tapi baiknya ku make up dulu, sini duduk” ucap minji tanpa basa-basi sementara gadis itu masih bingung.

“eonni tunggu! Apa maksudnya?”

“nanti saja kujelaskan, sekarang tutup matamu dan diam” perintah minji, mau tidak mau aeri menuruti ucapannya dan selang 15 menit kemudian wajah aeri terlihat sedikit berbeda, minji sendiri merasa puas dengan make upnya.

“nah, sekarang pakai dress ini”

“eonni~ sebenarnya ada apa?!”

“kris yang menyuruhku, dia minta kau ikut takut dia memerlukan bantuanmu”

“tapi-“ ia lihat sepenjuru ruangan, pria itu tidak ada. Dan setelah berdebat dengan minji, meski akhirnya aeri yang kalah, ia terus emnggerutu sambil mengganti dress.

“dia sedang ganti baju” ucap minji saat kris kembali ke ruang ganti, ia mengangguk pelan, dan baru saja ia ingin duduk, aeri keluar dari kamar kecil didalamnya, sudah dengan tube dress pendek warna pastel dipadu dengan pumps setinggi 10 senti berwarna senada dengan dressnya serta rambut coklat panjang aeri dikuncir kuda, dan disematkan tiara disisi kanan rambut.

Cantik. Hal pertama yang kris ucap dalam hati. Tidak menyangka asisten yang selama ini selalu memakai kacamata tebal, rambut diikat, dan tidak pernah lepas dari sneakers-nya kini terlihat begitu anggun dengan dress itu.

“ya~ apa maksudmu?” gerutu aeri membuyarkan lamunannya. Kris tersenyum kecil lalu mendekatinya, dan sedikit berbisik, “kau masih penasaran apa yang terjadi kemarin malam bukan?” ucap kris pelan, sontak aeri terkejut dan berbalik menatapnya dengan jarak yang cukup dekat.

“k-kau-“

“turuti saja perintahku” lanjut kris lagi dan menjauhkan wajahnya. ia sendiri tak mengerti mengapa hatinya ikut berdebar saat mendekati wajah aeri tadi.

“kajja” ucap kris dan baru aeri mulai melangkah, tidak sengaja ia kehilangan keseimbangan, efek dari pumps yang pakainya, tidak terbiasa. “kya!” refleks ia memegang lengan kris, lagi-lagi wajah keduanya kembali dekat.

“m-maaf” ucap aeri lebih dulu dan melepas pegangan tangannya, meski kris masih berjaga takut gadis itu tersandung.

Premiere film sekaligus dengan gala dinner berlangsung cukup meriah, semua orang penting dan selebritis memenuhi ballroom, semua terlihat ramai namun tidak pada gadis yang sedari tadi hanya berdiri pojok ruangan, hanya diam memperhatikan orang sekitarnya. Dalam hatinya ia merutuki ide kris, karena tak satu pun ia kenal, bahkan beberapa orang melihatnya heran.

Tak jauh dari aeri berdiri, kris masih sibuk mengobrol dengan salah satu produser drama terkenal dan disampingnya berdiri minjung yang mengapit lengan kris mesra, makin bertambahlah kejengkelan aeri.

Ia putuskan untuk keluar ballroom dan tepat disebelahnya ada ruangan yang cukup sepi, yang langsung menghadap balkon. Ia duduk sambil memukul pelan kakinya, cukup pegal memakai pumps setinggi itu.

“menyebalkan!” gerutnya gemas. Namun diikuti helaan nafas panjang. “…kenapa juga aku bisa menyukainya…perasaan ini tidak akan terbalaskan…” lirihnya pelan. Ia menangkup wajah dengan kedua telapak tangan, namun bayangan kris tetap berputar dalam bayangannya.

“kenapa kau kesini?” celetuk kris sudah berada di belakangnya. Dengan cepat aeri berdiri dan menatapnya kesal.

“kalau mau mengerjaiku bukan begini caranya, kris!” ucap aeri dingin dan berniat meninggalkannya, namun dengan cepat kris menarik lengannya.

“ya~ aku mau pulang!”

“katakan”

“apa maksudmu?”

“aku ingin dengar ucapan yang kau bilang kemarin malam”

“ucapan…apa maksudmu?! Aku sendiri tidak ingat apa-apa!”

“jinjayo?” ucap kris pelan, namun terus melangkah mendekati aeri. dan gadis itu hanya bisa memalingkan wajahnya ke arah lain. “sungguh… aku tidak ingat apa-apa! Kau bilang, kau yang akan menceritakan-”

“bilang kalau kau menyukaiku” aeri mendelik dan berbalik menatap kris, tatapan tajam pria itu cukup membuat hatinya berdebar.

“…aku ingin mendengar apa yang kau rasakan selama ini…perasaanmu”

“tsk~ kris, apa yang kau bicarakan, sudahlah…aku mau pulang” elak aeri dan hendak meninggalkan kris, namun dengan cepat dicegah olehnya.

Ditatapnya lamat gadis yang dalam semalam sukses membuat jantungnya berdegup kencang. Paras cantik aeri yang malam itu baru terlihat, meski ia akui wajah aeri saat mabuk kemarin lebih disukainya. Dan bibir merah aeri cukup menggoda hingga seluruh saraf tubuhnya menegang.

“baiklah, kuingatkan kembali apa yang sudah kau lakukan kemarin…” ucap kris pelan, dan dengan cepat, ia tarik kedua pipi aeri, melumat bibir aeri lembut dan dalam. Persis saat aeri menciumnya kemarin. Sedikit ada perlawanan dari gadis itu, coba mendorong dada bidang kris, namun tenaga pria itu cukup kuat, hingga perang batin antara hati dan otaknya, mengelak atau pasrah dengan sensasi ciuman kris yang membuatnya terlena. Hal yang selama ini ia impikan terjadi padanya.

Kepalan tangan aeri mengendur, digantikan dengan cakaran kecil di tuxedo kris. pria itu masih mendominasi ciuman, hingga ia sadari tubuhnya kini terhimpit oleh dinding dan tubuh tinggi kris, “hmmp…k-rish…” erangnya, kedua kakinya terasa lemas saat bibir kris menelusuri leher jenjang aeri dan menghisapnya dalam, hingga…

“kris, kau ada di dalam?!” suara minjung dari luar ruangan membuat aeri tegang seketika.

“kris…hentikan!” ia dorong tubuh kris jauh, terlihat pria itu sedikit tersengal-sengal dan menatap aeri dalam.

Ketukan heels minjung kian dekat, dengan cepat aeri berbalik sembunyi dibalik tirai tebal dibalik pintu. “kris? ayo pulang…” ia dengar suara manja minjung. Pria itu tidak mengucapkan sepatah kata pun hingga ia dengar suara pintu yang kembali tertutup. Aeri menghela nafas berat, tubuhnya lemas dan hanya bisa bersimpuh di lantai, bersamaan dengan air mata yang mengalir makin deras, tindakan kris yang sesaat membuatnya seakan terbang tinggi keawan, namun dalam sekejap dihempaskan lagi kebumi, cukup sakit rasanya…

¯If I knew it would hurt this much
I wouldn’t have started
Again today, I only shed tears¯

***

Masih dengan handuk yang melilit rambut basahnya, aeri lagi-lagi melamun depan laptopnya. Kabar mengenai hubungan kasih antara kris dan minjung masih mendominasi pemberitaan di internet khususnya. Sejak kemarin malam ia pulang sendiri, bahkan hampir terkunci di gedung, hingga saat ini ia lebih banyak diam dan melamun. Pagi sekali ia hubungi youngjin dan minta izin pada youngjin tidak masuk untuk beberapa hari kedepan dengan alasan ada urusan penting.

Enggan rasanya bertemu dengan pria itu, meski dalam hatinya ia masih ingat betul bagaimana pria itu menciumnya, sentuhan tangan kris di tubuhnya, dan bibir yang selama ini selalu ingin ia rasakan, terjawab semua.

“aaarrrghh!!” erangnya kesal dengan dirinya sendiri, maupun pria itu yang meninggalkannya begitu saja.

“aeri?” yerim yang baru sampai, melihat heran gadis itu.

“o-oh, kau baru sampai?”

“ppali, jelaskan semuanya” ujarnya langsung, tanpa menjawab pertanyaan basa-basi aeri,ia tahu saat aeri sengaja memintanya untuk datang ke condo miliknya.

Aeri menghela nafas sejenak sebelum bercerita, dan diawali dengan, “we’ve kissed…”

“dengan kris maksudmu?!”

“…kurasa…saat aku mabuk kemarin di apatenya… Aku menciumnya” ucapnya pelan sambil menundukkan wajah. Beberapa detik, yerim hanya bisa diam dan mencerna tiap kata yang keluar dari bibir sahabatnya.

“…kau yakin hanya…ciuman?”

“yaaa~ saat aku bangun bajuku masih lengkap! Aku pun tidak sadar melakukan itu, tapi…”

“wae? Apa masalahnya sekarang?”

Aeri kembali menghela nafas berat, dan menceritakan kembali apa yang ia alami kemarin malam, meski juga tak bisa ia pungkiri sensai bibir kris yang menciumnya begitu dalam dan panas, he is a good kisser.

“kau benar-benar menyukainya, huh?”

“yerim-ah~” rajuk aeri tak mau menjawab.

“lalu apa yang akan kau lakukan setelah ini? Menghindarinya? Kau itu asistennya bukan?” ucap yerim,

“molla~ aku masih kesal dengan sikapnya yang menciumku begitu saja lalu pergi dengan gadis itu! Y-ya meski memang saat ini minjung adalah kekasihnya” ujarnya makin lesu.

***

Keesokan paginya…

Aroma kopi dari coffee maker serta omelete menyeruak sepenjuru ruangan. Sengaja aeri buka sedikit pintu kamar kris, agar pria itu bangun lewat aroma masakannya. Pagi sekali ia datang, menyiapkan peralatan kris untuk syuting hari ini. ia pun memutuskan untuk kembali melakukan rutinitasnya dan menganggap insiden kemarin hanya angin lalu.

“aeri?” ucap kris masih mengucek kedua matanya dan duduk di meja makan. Aeri masih diam tak menjawab, melainkan menaruh secangkir kopi dihadapan kris beserta omelet yang dibuatnya.

“jam 10 nanti kau ada fan meeting dan after lunch syuting iklan, semuanya sudah kusiapkan dan sudah ada dimobil” jelas aeri datar dan tak mau menatapnya, kembali menyibukkan diri di dapur.

Seharian penuh aeri membatasi diri dengan kris. ia hanya bicara seperlunya dan lebih banyak diam mengerjakan tugasnya, atau melakukan perintah kris, hingga pria itu sendiri jengah.

“ini kopinya” ujar aeri seraya menyerahkan segelas iced Americano.

“…bisa kurangi sedikit es-nya?” pinta kris, sengaja. Aeri menatapnya datar namun tanpa berkomentar menjalani perintah kris.

Diam-diam kris memperhatikan gadis itu, tidak biasanya ia merasakan kegundahan dalam hatinya seperti saat ini. dua kali Ia dan aeri berciuman, ada rasa lain yang tertinggal dalam hatinya. Rasa tidak ingin gadis itu jauh darinya, dan kemana pun aeri melakukan apapun selalu ingin dilihatnya.

Menjelang malam kris baru menyelesaikan syuting iklan terbarunya. Dan seperti biasa aeri masih tetap mengikutinya dengan membawa tas milik kris.

“sudah ya, aku pulang-“

“tunggu” cegah kris saat gadis itu hendak keluar. Aeri masih menatapnya datar dan menyiapkan diri takut kris akan menyuruhnya hal aneh lagi, padahal seharian ini ia benar-benar sudah lelah fisik dan juga batin.

“apa lagi?” eluhnya, namun kris makin memojokkan tubuhnya diantara pintu dan tubuh kris, hingga ia bisa mencium aroma musk tubuh kris.

“…kau belum menjawab pertanyaanku” ucapnya pelan tepat disaping telinga aeri, membuat hati aeri berdesir, tak bisa ia pungkiri rasa gugup jika kembali berdekatan dengan kris seperti ini lagi.

“aku tidak merasa itu sebuah pertanyaan, dan kurasa kau sudah terlalu jauh mencampuri urusan pribadiku” ucap aeri tegas dan berbalik menatap kris.

Baru pria itu ingin membalas, dering ponsel aeri memecah keheningan diantara keduanya, refleks kris menjauh, memberi ruang bagi aeri.

“wae-“

“Yah! Kau mau pulang atau tidak?! Kau lupa masih punya kakak dan ibu?!” teriakan ibu aeri terdengar jelas tanpa harus di loudspiker.

“arraseo~! Habis ini aku kesana” balasnya pelan lalu menutup telfon. saat ia berbalik, pria itu sudah siap dengan kunci mobil dan jaket.

“kau…mau pergi lagi?”

“hmm, kita ke rumah ibumu”

“mwo?!” tanpa banyak berkata, ditariknya lengan aeri dan keluar aparte.

“yayaya~ apa maksudmu?!”

“aku ada perlu dengan jinwoo hyung”

***

Aeri’s parent house

“apa terjadi sesuatu diantara kalian?” bisik jinwoo, kakak lelaki aeri sekaligus ex manager kris. sejak aeri datang bersama dengan kris dan makan malam bersama, ia terus memperhatikan tingkah kris yang selalu menatap adik semata wayangnya itu.

Kris tersenyum, ia ambil potongan semangka di piring, dan berbalik menatap jinwoo, “…kau mengzinkan dia bersamaku, hyung?” kris bertanya balik, membuat jinwoo sedikit syok mendengar ucapan kris.

Kris terkekeh pelan dan kembali menatap aeri di dapur, tengah mencuci piring. Satu hal lagi ia menyadari sisi lain aeri yang sukses membuatnya ingin terus menatap gadis itu.

“jinjayo?! Tapi bukankah kau dengan artis itu…”

“kau percaya hyung? Dan pertanyaanku tadi, kuanggap kau sudah menyetujuinya”

“ya~ biar begitu dia adikku, kalau sampai terjadi apa-apa dengannya, kau berhadapan denganku” ancam jinwoo galak namun sedetik kemudian ia menepuk punggung kris, memberi tanda setuju.

Tidak lama kemudian, aeri kembali ke ruang tengah dan bersiap untuk pulang ke dorm kecilnya, meski harus debat dulu dengan sang ibu yang memaksanya untuk menginap.

“oppa, aku pulang… dan kau juga sebaiknya pulang, besok malam harus berangkat ke LA” ucap aeri pada jinwoo dan kris.

“kau boleh pulang tapi kris harus mengantarmu” ucap jinwoo lebih kepada perintah. Kris mengangguk setuju, namun tidak dengan aeri.

“oppa~”

“kajja…sudah malam” potong kris, sebelum menarik aeri pergi tak lupa ia pamit pada ibu aeri yang sejak pertama melihat kris sudah menyukainya.

Baru beberapa meter kris melaju mobilnya, aeri menyuruh untuk menurunkannya di halte bus tak jauh dari sana.

“sebenarnya ada apa denganmu?!” kekesalan aeri atas sikap kris tak bisa ia tahan lagi.

“apa yang salah denganku?”

“ck! Aku sudah melupakan insiden malam itu… dan kuanggap itu hanya ketidaksengajaan…kalau semua yang kau lakukan tadi hanya untuk menebus rasa bersalahmu lebih baik hentikan”

“…aku tidak menganggap itu ketidaksengajaan, dan tidak merasa bersalah…juga tidak akan melupakan ucapanmu bahwa kau menyukaiku” ujar kris tegas.

Aeri tersenyum kecut dan menggeleng, “…kau-“

“dan aku menyukaimu” potong kris, sesaat keadaan hening. Aeri masih menatap kris kaget, disatu sisi ia senang ucapan itu keluar dari bibir pria yang diam-diam disukainya, namun disisi lain ia tak ingin bermimpi terlalu jauh untuk mendapatkan pria itu.

“…hentikan kris…biarkan semua ini kembali seperti dulu, aku personal assistant-“ kris membungkam bibir aeri dengan ciuman lembutnya, lagi-lagi gadis itu terbuai akan sensasi ciuman kris, hingga meluluhkan semua egonya, ia benar-benar mencintai kris.

¯I feel I love you
I think, I need you
All of the world is beautiful
The sunlight follows you and dances
My dear, always be with me
You greet me with a sweet smile
Listen to my confession
I love you¯

***

Epilog

Kening aeri berkerut, menggigit bibirnya gemas dan kedua tangan makin kencang memegang kertas tebal. Beberapa detik kemudian ia tutup script tersebut dan membanting sedikit kencang ke atas meja, tepat dimana kris tengah duduk sambil mendengarkan lagu.

Bed scene?!” serunya gemas sambil menujuk script yang baru diberikan managernya untuk film terbaru kris.

Kris melepas earphone dan menarik lembut tangan aeri untuk duduk disampingnya. “aku baru membacanya juga, aeri…”

“…aku tahu ini akan terjadi tapi-“ ia menghentikan ucapannya dan berbalik membelakangi kris.

Ia mengerti aeri mudah cemburu jika harus melihat kris mencium wanita lain dalam berakting, dan kecemburuannya bertambah dua kali lipat sejak aeri menjadi kekasihnya, kris berusaha memahami itu. Dan untuk bed scene yang harus ia lakuan dengan lawan main wanita yang ia dengar salah satu aktris muda yang tengah naik daun, ia pun sudah membayangkan bagaimana reaksi gadisnya, seperti saat ini.

Kris memeluk aeri dari belakang dan menaruh dagunya di bahu aeri, “aku belum beri jawaban mengenai peran itu”

“itu bagian dari pekerjaanmu…aku bisa berbuat apa? Hanya assist-“ ucapannya terputus saat kris menarik dagu aeri dan mengecupnya.

“…shall we do ‘it’ now?” suara bass kris cukup membuat seluruh saraf dalam tubuhnya menegang namun tetap masih terselubung dengan rasa cemburu, ia berbalik menatap kris kesal, “jangan mengalihkan pembicaraan!”

“aku tidak bermaksud seperti itu, tapi…apa kau rela nantinya aku melakukan hal itu untuk pertama kalinya bukan dengan kekasihku sendiri” lanjut kris sambil tersenyum kecil.

Aeri mengerjap pelan, otaknya berjalan sedikit lamban untuk mencerna ucapan kris, tak peduli bibir pria itu kini sudah mendarat lembut di bibirnya, mendorong tubuhnya pelan ke sandaran sofa.

“hmmp! Kau…belum pernah?” aeri mendorong sedikit dada bidang kris.

“…belum, kau senang? Atau kau dengan mantanmu sudah-“

“tidak!…umm…maksudku…belum pernah” ucapnya pelan dan menundukkan wajahnya, namun ia kembali menatap kris, membelai pipi pria itu sayang, mengisyaratkan kris untuk kembali menciumnya.

Pergulatan bibir keduanya makin memanas, aeri memeluk erat leher kris, sementara kedua tangan pria itu mulai menyelusup kaos tipis aeri, mengusap perut datar aeri, sedikit membuat gadis itu menggeliat dengan sendirinya, hingga sampai pada tali bra aeri berhasil dilepasnya… “c-chakkaman…”

“wae~?” gerutu pria itu sedikit kesal karena cukup sulit membuat bra gadis itu, pikirnya.

“…aku tidak mau hamil”

Kris mengerjam pelan, “…haruskah kujelaskan kalau kau harus pakai alat pengaman itu?” ujar aeri gemas.

“ah~ tapi aku tidak punya”

“lalu? Kalau tidak ada lebih baik tidak jadi” aeri membenarkan posisi duduknya serta mengaitkan lagi bra yang sempat dilepas kris tadi.

“y-ya~ harus aku yang beli?”

“menurutmu, kris wu?”

“tapi kau kan juga asistenku” ucapnya dengan nada perintah.

Aeri melihat jam di tangannya, “ini sudah jam 11 malam, dan jam kerjaku sebagai asistenmu hanya sampai jam 9 tadi, sekarang aku ini kekasihmu, kris” jelas aeri. menyerah, pria itu bangkit dan mengambil jaket serta kunci mobil, berjalan sambil menunduk, sedikit kesal ‘acaranya’ terganggu.

Setengah jam kemudian kris baru kembali dengan 5 condoms disaku jaketnya. Ia terpaksa harus mencari minimarket yang jauh dari apartementnya dan sepi, berjaga-jaga tidak ada yang curiga dan mengenalinya.

Diihat sekeliling ruang tamu gadis itu tidak ada, dan saat masuk ke kamarnya, dilihatnya aeri sudah tertidur pulas dibalik selimut tebal milik kris.

Kris tersenyum lembut dan ikut berbaring disampingnya. memandang lekat gadis yang sudah tiga bulan ini menjadi orang special dalam hidupnya. Meski menjalani hubungan rahasia, ia cukup senang setidaknya aeri selalu berada disampingnya sebagai asisten.

Ia bangkit kembali dan mengeluarkan ponsel dari saku celana, menghubungi jaehyun, “hyung, kurasa aku belum mau mengambil peran itu”

“waeyo? Itu akan menjadi film sukses, kris”

Kris tersenyum kecil dan kembali ikut berbaring disamping aeri, masih menelfon jaehyun, “tidak untuk saat ini, aku ingin drama saja”

eyy~ baiklah, akan kudiskusikan dengan director” ucap jaehyun dan mematikan telfon.

Ia urungkan niat untuk membangunkan aeri dan lebih memilih untuk ikt masuk kedalam selimut dan memeluk gadis itu erat. saranghae, aeri.

¯ When you’re next to me, when you’re far away
You look pretty
My racing heart, my small trembling
It’s all only because of you
¯

The End

2 thoughts on “[AeKris Story] Only U

  1. hankims_ais berkata:

    Gga ada yg nyangka klo akhirnya aeri terbalaskan cintanya kkk~

    Trus apa yg terjadi ma minjung??

    Thorrr rinkyu belom ada kah?? Fokus ke aekris terus ya ?😦 kangen rinkyu…❤

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s