{Part 1 of 2} Accidentally In Love

Picture1Cast:
* Song Raemi (OC)
* Son Hyunwoo aka Shownu Monsta X
* Hong Yerim (OC)
* Monsta X member

***
How much longer will it take to cure this
Just to cure it cause I can’t ignore it if it’s love (love)
Makes me want to turn around and face me but I don’t know nothing ’bout love
(Counting Crows – Accidentally In Love)

***

@ Song Family Laundry

Seorang pria paruh baya duduk lemas di kursi kerjanya, dengan tumpukan kertas berupa tagihan hutang bank yang sudah enam bulan belum terbayar. Pikirannya kalut, bagaimana bisa ia melunasi semua hutang-hutangnya dalam waktu kurang dari satu minggu? Belum lagi omzet laundry usaha keluarganya yang sudah turun temurun akhir-akhir ini menurun, padahal ia sengaja meminjam uang dari bank untuk renovasi dan beli mesin cuci baru yang lebih canggih. Tak lama, istrinya yang juga memasang wajah lesu masuk, lagi-lagi melempar surat peringatan dari bank.

“kita harus menjual ruko ini…”

“andwae!” ujar Tn. Song mentah-mentah.

“hya! Lalu kau mau bayar pakai apa? Apa kau mau masuk penjara? Lalu bagaimana denganku? Apalagi anak gadis kita masih harus kuliah!” ujar istrinya kesal. Tn. Song mengacak rambutnya frustasi, ia tidak ingin melepas usaha keluarganya begitu saja, apalagi ini adalah warisan peninggalan ayahnya dahulu.

“pasti ada cara lain…pasti ada, yeobo…”

“ya pikirkan caranya!”

Tn. Song tampak berpikir sejenak lalu seakan mendapat sedikit pencerahan, namun masih sedikit tidak yakin akan idenya kali ini…

***

“arah jam 9, tujuh langkah dari sini” bisik yerim sambil menyikut lengan gadis disampingnya yang tengah serius baca webtoon terbaru.

“wae?”

“dia menuju kesini…baiknya aku pergi, eo?” ujar yerim tanpa panjang lebar langsung pergi.

“ya hong yerim-“

“raemi” sosok yang dimaksud yerim tadi sudah ada dihadapan raemi, dengan senyum manis yang selalu raemi sukai.

“oh, annyeong wonho-ssi…” balasnya kikuk. Ia memang sudah cukup lama diam-diam suka dengan pria ini, namun tidak pernah ada kesempatan untuk dekat dengannya. Kalau bukan karena tugas akhir semester yang menyatukan keduanya dalam partner kerja, ia tidak akan bisa mendapatkan kesempatan emas mendekati wonho, salah satu pria tampan yang ada di jurusannya.

“ini beberapa contoh yang sudah kucari, mungkin bisa jadi tambahan di hasil bab akhir, apa kau mau lihat dulu?” jelasnya, raemi hanya diam dan mengangguk, terlalu sibuk memperhatikan tiap inch wajah wonho, apalagi bagian bibir yang menurutnya paling sensual itu. gadis mana yang tidak terpesona jika melihatnya, apalagi bisa menciumnya, khayal raemi.

“raemi?” wonho menjentikkan jemarinya didepan wajah raemi. “o-oh? Wae?” pria itu terkekeh pelan melihat respon gadis ini, “ada cafe dekat sini, enaknya kita kerjakan disana, kau mau?”

“oh, geure…” ujarnya dalam hati makin girang.

***

Menjelang malam raemi baru pulang, dan lagi-lagi merasa beruntung wonho mau mengantarnya pulang. Senyum pun tak lepas dari wajahnya sejak turun dari mobil hingga depan apate pribadi miliknya. Ia harus segera ceritakan hal ini pada yerim, pikirnya.

Namun, senyumnya hilang seketika saat baru menyadari lampu diseluruh ruangan menyala, “eomma?” panggilnya, mungkin ibunya datang tapi heran tidak bilang padanya dulu.

Tak ada jawaban, ia ambil heels yang ada di rak disampingnya dan jalan perlahan, mencari sekeliling ruangan, jaga-jaga kalau ada rampok yang masuk atau pria mesum yang akhir-akhir ini santer terdengar.

Suara gesrekan di dapur terdengar pelan, berhubung lampu didapur putus dan belum sempat ia ganti, kedua tangan makin sigap saat melihat siulet tubuh cukup besar didepan pintu kulkas. “…PENCURIIIIIIIIIIIIIII!!” teriaknya sekencang mungkin.

Orang tersebut terlonjak kaget dan berbalik, dengan cepat ia menangkis pukulan dari heels setinggi 7 senti, “siapa kau?!”

“arrgghh! Hentikan! Aku bukan…. hyaaa! Sakiiit” teriak pria itu makin kencang saat raemi memburunya dengan tinjuan dilengannya. Pria itu terus mencari celah menangkap kedua tangan raemi, “AKU BUKAN PENCURI!” ujarnya saat berhasil menahan kedua tangan raemi.

Dadamya berdegup kencang dan diam seketika saat menatap gadis dihadapannya kini. Bibir merah merona, hidungnya yang tirus dan kedua mata tegasnya menatap tajam, seakan menusuk jantungnya.

Begitu pun dengan raemi, jika dikatakan pria hidung belang tidak cocok dengan paras tampan pria ini. Tubuh atletis, bibir yang kiss-able, dada bidangnya yang pastinya akan nyaman jika dijadikan sandaran… Sh*t raemi hentikan fantasimu! Bantahnya dalam hati.

Ia hempas cengkraman pria itu, “hya! Siapa kau?”

“Ah~ kau pasti raemi?” ucapnya, buat raemi heran,

“Sudah kuduga ayahmu belum jelaskan apa yang terjadi”

“M-wo? Kau kenal ayahku?”

“Biar kujelaskan dengan singkat…ayahmu punya banyak hutang pada bank, dan demi melunasi hutang-hutangnya, ia menjual apate ini padaku… Dan kebetulan aku memang sedang mencari apate baru yang letaknya strategis dari kampus…”

“Hutang?! Hyaa~ tidak mungkin! Usaha laundry keluarga kami itu sukses dan banyak pelanggan!” ujar raemi tak percaya. Pria itu tersenyum kecil. Ia jalan menuju meja ruang tv dan mengambil selembar kertas, “baca ini…” ucapnya menyerahkan pada raemi.

Raemi baca dengan seksama isi surat perjanjian jual/beli apate tersebut, dan memang benar nama ayahnya sebagai penjual dan pria ini, Son Hyunwoo sebagai pihak pembeli.

“Andwae…” pikiranya seketika kalut, ia ambil ponsel dan langsung menghubungi ibunya.

“Percuma hubungi orang tuamu”

“Mwo?”

“Ini, mereka titipkan ini padamu sebelum pergi, kau mungkin tidak bisa menghubunginya dalam waktu dekat ini” jelas hyunwoo dan menyerahkan amplop berisi surat, tulisan tangan ibunya…

Raemi anakku… Saat kau baca surat ini pasti eomma dan appa sudah pergi, kau mungkin akan membenci ayahmu tapi ini untuk kebaikan keluarga kita dan usaha ayahmu, nak… Kau tahu peninggalan dari harabeoji untuk ayahmu hanya ruko laundry tua, ayahmu tidak sanggup menjualnya, makanya kami terpaksa menjual apate milikmu… Tapi eomma percaya hyunwoo pria yang baik dan bertanggung jawab, buktinya ia masih bersedia menampungmu disana. Kau harus baik padanya, dan secepatnya kami akan kembali untuk bisa mengambilmu…

Raemi menghela nafas berat dan memejamkan kedua matanya, perasaannya campur aduk, marah, kesal, sedih pada orang tuanya, termasuk ayahnya. Hal ini sama saja menjual anak sendiri pada pria asing. Apalagi ia tidak pernah tahu ayahnya punya kenalan anak muda seumuran dirinya.

“…jadi…ini rumahmu?” ucap raemi parau,

“Begitulah…”

“…mungkin banyak hal yang harus kita bicarakan, tapi tidak malam ini” balas raemi dingin dan langsung masuk ke kamar. Hyunwoo hanya diam sambil terus menatap raemi hingga masuk kamar. Senyum kecil tergambar diwajahnya, lama tak jumpa, Song raemi… Batin hyunwoo.

***

Sudah memasuki mata kuliah kedua dan tidak satu pun materi yang masuk ke otaknya. Semalaman ia tidak bisa tidur, bagaimana bisa tidur tenang kalau ada pria yang tidak kau kenal tiba-tiba tinggal bersama apalagi pria itu sekarang jadi pemilik resmi apartemen yang dua tahun lalu dibelikan ayahnya. Ia pun belum bicara lagi dengan pria itu, berkenalan secara resmi saja belum. Sengaja ia menghindari dengan pergi sejak pagi buta ke kampus.

Kenapa bisa berhutang banyak ke bank? Dia bilang bulan kemarin laundry sedang penuh dan juga…appa baru ganti mesin cuci…tapi kenapa harus jual apartemen?!  Batin raemi masih memikirkan tindakan ayahnya. Ia pun khawatir apa yang sedang dilakukan orang tuanya entah dimana berada.

“Kau kenapa? Ada masalah?” celetuk wonho yang menghampirinya setelah kelas bubar.

“O-oh, wonho-ssi”

“Mau makan siang? Sambil cek lagi laporan kita kemarin” ajaknya. Sekejap beban pikirannya sedikit hilang. Wonho jadi lebih sering menghampirinya hanya untuk sekedar tanya tugas atau ikut temani makan siang, hal itu sedikit buat hatinya  terhibur, apalagi sudah lumayan lama ia menaruh perhatian pada pria ini.

“Kau biasanya selalu dengan yerim, tapi hari ini belum terlihat”

“Oh? Dia masih ada kelas…”

“Lucu juga ya…kita sering satu kelas dari semester satu, dan baru kali ini aku baru bisa dekat denganmu” celetuknya sambil memasang senyum manis, membuat raemi menghentikan kunyahannya dan menatap wonho bingung sekaligus gugup.

Wonho terkekeh kecil, “hari sabtu nanti, apa kau ada waktu kosong?”

“besok? Kurasa tidak ada janji”

“Tidak keberatan jika kuajak nonton?”

***

Bagai mimpi di siang hari, ajakan wonho tadi siang terus terngiang dibenaknya. Ini adalah progress yang cukup cepat. Mengajaknya nonton hanya berdua bisa juga disebut dating bukan? Pikir raemi. Ia raih ponsel di saku jeans dan dengan semangat menceritakan semuanya pada yerim via line.

“ekspresi wajahmu beda dengan yang semalam” suara berat dari sampingnya muncul tiba-tiba. Jemarinya berhenti mengetik layar ponsel dan menatap datar pria yang sudah masuk satu lift dengannya.

“lalu sekarang berubah lagi…” ujarnya lagi. Raemi mendengus kesal, dan beralih menatap hyunwoo. “jujur aku belum bisa terima kenyataan kau pemiliki apate ini, tapi aku pun tidak berhak mengusirmu…dan kurasa…kita juga belum berkenalan secara resmi” jelas raemi, berusaha bersikap manis pada hyunwoo.

“aku raemi…kau?” lanjut raemi sambil mengulurkan tangan. Hyunwoo masih diam beberapa detik dengan memandang tangan raemi.

“o-oh…hyunwoo, imnida”

“Karena apate ini sudah jadi milikmu…secepat mungkin aku harus pindah…”

“Andwae- uh… maksudku… ayahmu memintaku untuk memberimu tempat tinggal sementara, sampai ia bisa dapatkan tempat tinggal untukmu”

“Dia sendiri yang menyuruh anak gadisnya tinggal dengan pria asing” gerutunya pelan.

“Ne?”

“A-aniyo…geure, aku pun belum ada uang untuk sewa tempat baru, sementara kamarku akan pindah ke yang lebih kecil” jelas raemi. Hyunwoo hanya mengangguk pelan.

Sambil duduk di couch, ia terus perhatikan raemi bolak-balik memindahkan barang di kamar belakang. Sesekali senyum terurai diwajahnya saat melihat ekspresi wajah raemi. Meski ada sedikit rasa sesal dalam hatinya, gadis itu sama sekali tidak ingat dengannya. Kau benar-benar tidak ingat denganku? Atau dengan cara ini kau bisa mengingatku lagi, gadis semangka. Batin hyunwoo.

“Biar kubantu” ucap hyunwoo tiba-tiba saat raemi membawa kardus besar dan cukup berat. Gadis itu hanya mengangguk pelan.

Apa ayahku sudah kenal denganmu sebelumnya?” celetuk raemi saat menerima box isi buku-buku kuliahnya dan mulai menatanya di rak.

“Bisa dibilang seperti itu…”

“Oh…kau sendiri tidak merasa risih jika ada orang asing tinggal denganmu?” lanjurnya lagi. Hyunwoo diam sejenak dan memandang raemi hingga gadis itu kikuk sendiri.

“Bagiku kau bukan orang asing” jawabnya singkat dan tersenyum, membuat raemi bingung sekaligus penasaran. “Ah, apa perlu kita buat jadwal piket dan pembagian stok makanan?” tanya hyunwoo,

“geure, habis ini aku buatkan jadwalnya” balas raemi dan direspon senyum manis hyunwoo. Dan kali ini ia tidak mengelak ketampanan pria yang baru dikenalnya kemarin.

Ia perhatikan lagi postur tubuh hyunwoo yang nyaris seperti model, apalagi saat ini ia hanya pakai kaos oblong yang memperlihatkan lekukan otot tangan dan kulitnya yang berwarna kecoklatan. Tempat yang pas untuk dijadikan sandaran…

“Raemi?” hyunwoo menjentikkan jari didepan wajah raemi, “e-eh?”

“Ada tamu”

“Tamu?”

“Mungkin temanmu”

Bergegas ia menuju pintu, untungnya pria itu tidak langsung bukakan pintu,

“eyy tumben lama sekali bukanya” ujar yerim, raemi mengerjap pelan dan refleks menghadang yerim masuk.

“Wae? Aku lupa bilang menginap disini, karna hyungwon sesanh outing” ujar yerim lagi, mendorong tubuh raemi dan masuk kedalam.

Aish! Aku belum sempat cerita mengenai hyunwoo batin raemi dan berbalik mengikuti yerim. Sampai didalam yerim diam terpaku melihat pria asing didalam apate sahabatnya ini. Ia tidak ingat kapan raemi cerita punya pacar baru.

“kau siapanya raemi?”

“Aku-“

“Yerim-ah kita bicara dibawah saja eo?” potong raemi dan menarik lengan yerim keluar apate.

***

Raemi kembali membawa yerim ke atas dan memperkenalkan hyunwoo, meski sebenarnya ia cukup risih saat ini, sepenuhnya ia masih belum bisa terima kenyataan bahwa statusnya disini ‘menumpang’ dan juga ia yang harus minta izin pada hyunwoo mengenai yerim yang menginap malam ini.

“Kau itu cukup beruntung ayahmu jual apate ini pada hyunwoo” ucap yerim pelan saat keduanya ada di kamar baru raemi.

“Karena ketampanannya?”

“Hmmm…itu salah satunya, dia kaya, tampan, memiliki tubuh yang perfect, dan mau berbaik hati menampungmu, jaman sekarang susah cari pria seperti itu!”

“ya~ tetap saja dia itu pria asing dan tinggal satu atap dengan gadis polos sepertiku” ujar raemi yang langsung disambut lemparan bantal oleh yerim.

“tapi kurasa dia pria yang baik, apa dia seumuran dengan kita? Pasti dia belum punya kekasih…kau pun punya tidak mungkin mau tinggal satu atap denganmu” ujar yerim coba menganalisa.

Dalam hati raemi pun berpikir demikian. Dari mana asalnya, apa dia masih kuliah bagaimana background keluarganya… semua hal tersebut muncul dalam otaknya seketika.

***

Malam harinya yerim memesan cukup banyak makanan dan soju dalam rangka bayaran menumpang tidur disana. Tidak butuh waktu lama bagi yerim agar bisa dekat dengan hyunwoo, terlihat dari tadi hanya mereka berdua mengobrol, sedangkan raemi lebih banyak melamun sambil mengaduk lesu jjangmyeon miliknya.

“Jadi kau juga melanjutkan di Yonsei, jurusan?”

“Teknik elektro, kau dan raemi satu jurusan?”

“Yap~ kami sama-sama ambil art, dan selalu ambil kelas yang sama dari semester satu, kalau ada apa-apa kau bisa minta bantuanku atau raemi jika di kampus, ya kan raemi?”

“…”

“Song raemi~”

“Oh? Ne” jawabnya asal, diam hyunwoo perhatikan gadis didepannya yang kembali diam. Memikirkan keadaan orang tuanya sekarang yang belum juga ada kabar.

***

Sakit kepala seketika menyerang saat ia buka mata. Efek dari tiga botol soju yang diminumnya semalam. Gadis disebelahnya masih terlelap, tidak ingat kapan yerim masuk kamar, karena semalam ia memilih tidur lebih dulu dan meninggalkan yerim dan hyunwoo.

Masih dengan mata terpejam ia jalan menuju kulkas untuk ambil minum.

“Ugh…soju sial…” ucapannya terhenti saat ujung hidungnya menempel pada benda tumpul (?) didepannya. Ia mengerjap pelan dan berusaha menjernihkan pandangannya. Warna kulit kecoklatan itulah yang dilihatnya.

Picture2“Kepalamu sakit?” ujar pemilik tubuh itu. Raemi mundur satu langkah dan memalingkan wajahnya.

“A-ahni..” jawabnya pendek dan balik ke kamar. Hyunwoo tersenyum kecil melihat tingkah raemi. Dan sebelum masuk kamar, ia curi pandang pria yang memunggunginya. Sial! Entah harus bersyukur atau tidak! Batinnya

***

Hyunwoo POV

“Sampai kapan kau akan tinggal disana?” pertanyaan yang entah keberapa kali kudengar hari ini darinya. Joehoon. Dia sidah kuanggap sebagai adik, karena orang tua kami kenal dekat. Bahkan setelah ia lulus SMA ia ikut tinggal denganku di seoul.

“Sampai kapan saja aku mau”

“Itu kan rumahmu hyung, kenapa aku tidak boleh ikut dirimu?” ujarnya lagi memaksa

“Andwae~ kau bisa merusak rencanaku” balasku. Kuambil buku yang dari tadi kucari dan segera ke kasir.

“Jinja~ memang apa yang kau rencanakan? Apa ada hubungannya dengan anak kecil difoto yang kau temukan itu?” ucapnya. Aku hanya tersenyum dan menepuk bahu joehoon pelan.

“Astaga hyung~ pengalamanmu dengan wanita itu buruk, aku tidak yakin kali ini akan berhasil” cibirnya.

Kuakui memang benar ucapan joehoon. Son hyunwoo yang dikenal paling takut dengan wanita. Selama ini aku tidak pernah bisa menjalin hubungan lama dengan wanita, kebanyakan ditolak lebih dulu sebelum berperang. Mungkin karena ukuran tubuhku yang dulu. Tapi semenjak lulus SMA, aku bertekad untuk mengubah pola hidup yang lebih sehat. Joehoon saja hampir tak percaya melihat diriku yang sekarang.

Tapi satu hal yang tidak berubah, gugup menghadapi wanita yang kusukai masih menjadi masalah bagiku. Tujuan utamaku kembali ke seoul adalah mencari raemi. Gadis yang dulu mau menjadi temanku, disaat semua orang mengejek penampilanku. Tidak sulit menemukannya lagi, dan bisa tinggal dengannya merupakan timing yang tepat, karena kedua orang tuanya meminta pinjaman padaku untuk melunasi hutang bank, aku pun hanya meminata 1 syarat, yakni ingin lagi dekat dengan raemi.

Bertahun-tahun tidak bertemu, banyak hal yang berubah darinya. hilangnya sebagian ingatannya, termasuk memori bersama diriku. Menurut Song Ahjussi, raemi kecil pernah jatuh dari 2 lantai, itulah penyebabnya. Dan kedua orang tuanya tidak berusaha membantu ingatan raemi pulih kembali saat itu. Inilah yang menjadi PR selanjutnya, selain berusaha membuatnya menyukaiku..

“Aku tidak bisa menemanimu sampai malam, sebentar lagi ada janji”

“Kau punya pacar?”

“Keuroooom~ sudah cukup aku habiskan malam minggu denganmu terus hyung” ujarnya sebelum pergi keluar cafe.

Aku kembali memikirkan raemi. Sudah hampir satu minggu kami tinggal bersama namun aku masih belum bisa dekat dengannya. Kupikir akan mudah, tapi gadis itu seakan terus menghindariku, malah ia terlihat tidak suka dengan kehadiranku. Haaah~ bagaimana caranya agar bisa dekat denganmu, raemi-ya.

Menjelang malam aku baru keluar mall dengan bawa bahan makanan dirumah. Mungkin dengan memasak untuknya bisa membuat kami lebih dekat.

Langkah kaki terhenti saat kulihat sosok familiar lima langkah didepanku, raemi jalan dengan tangan kanan digenggaman seorang pria. Keduanya berhenti dan saling memandang sesaat, senyuman terurai dibibirnya, bagiku dia begitu cantik, namun sayang senyuman itu bukan untukku.

Rasa kecewaku tidak sampai disini, pria itu mendekatkan wajahnya pada raemi dan mengecup pipi raemi sebelum pergi. Yah… Inikah yang namanya sakit hati?. Aku mengurungkan niat pulang dan memilih duduk di mini market seberang apartemen.

Yang kutahu kini raemi punya pria yang disukainya. Sedangkan aku? Hanya pria yang membeli apartemen dan memaksa tinggal disana. Apalagi yang bisa kulakukan sekarang?

***

Author POV

Suara gaduh terdengar dari dalam kamar raemi. Hyunwoo yang sudah duduk santai di meja makan hanya bisa mengira-ngira kenapa dengan gadis itu. Tak lama kemudian raemi keluar dengan kondisi rol rambut masih terpasang dikepala, alis masih setengah serta kedua tangan penuh memegang tas dan pouch make up.

“Aku pergi”

“Tunggu!”

“Wae? Aku sudah telat” ucapnya gusar sambil memakai sepatu. Dengan cepat hyunwoo mengambil tas raemi dan meraih kunci mobil dekat sana.

“Kuantar, jam segini tidak akan keburu kalau naik bus”

“T-tapi…”

“Kau lupa aku satu kampus denganmu?” ucap hyunwoo dan jalan lebih dulu.

Dalam mobil keduanya memilih untuk diam. Raemi fokus mengukir alis dan hyunwoo…baru kali ini ia sulit untuk menyetir mobil karena tingkah gadis disebelahnya.

Hanya butuh waktu 20 menit ke kampus dengan mobil hyunwoo. Ulasan terakhir, ia lepas roll rambut dan sedikit menata rambutnya, lagi-lagi membuat pria disebelahnya gemas akan tingkahnya.

Thank’s atas tumpangannya” ucap raemi sebelum keluar mobil.

“Tunggu-“

“Hm?”

“Makanlah didalam kelas” ucap hyunwoo sambil menyerahkan paper bag berisi french toast buatannya dan banana milk yang sengaja ia siapkan untuk raemi.

“O-okay…” balas raemi lalu keluar mobil. Baru beberapa kali melangkah, ia kembali berbalik pada hyunwoo. “Uh…Makan siang nanti kutunggu di cafe itu” ucap raemi sambil menunjuk cafe depan gedung.

Mendengar hal tersebut cukup membuat hyunwoo bagai melayang diawan. Setidaknya gadis itu memberi balasan atas sarapan yang ia beri tadi.

***

What kind of expression must I use
To show you my heart?
Should I take my heart out, copy it and give it to you?
(Seventeen – Pretty U)

Hyunwoo POV

Diam-diam kembali pulang ke tanah kelahiran demi mengejar cinta pertamamu tapi sampai disini orang yang kau cari tidak ingat denganmu, bahkan lebih parah lagi ia sudah memiliki kekasih. Setelah tahu semua itu kau tetap diam dan tinggal 1 atap dengannya. Mungkin aku patut dikasihani akan hal ini.

Tidak ada harapan bagiku agar raemi bisa ingat dengan teman masa kecilnya, apalagi melihatku sebagai seorang pria. Karena disampingnya kini sudah ada pria lain. Yang setiap malam aku hanya bisa diam melihatnya telfon berjam-jam dengan pria bernama wonho. Atau menahan rasa cemburu saat wonho yang selalu memberikan ciuman setelah mengantar raemi pulang. Benar-benar miris, bukan? Mungkin jika joehoon tahu, dia pasti sudah mengomel panjang dan menyuruhku kembali ke Jepang.

Tapi disisi lain aku ingin tetap ada untuknya disaat ia butuhkan. Seperti apa yang raemi lakukan padaku dulu. Dia membelaku didepan anak-anak nakal yang sering mengejekku, berbagi bekal sekolah dan masih banyak hal lainnya. Kini sudah hampir satu bulan kami tinggal bersama, rasa suka ini kian membesar tiap harinya, meski aku tak tahu sampai kapan aku harus menunggunya dan membuatnya benar-benar menyadari kehadiranku.

Hujan turun cukup lebat saat mobil yang kukendarai keluar pelataran parkir kampus dan lagi-lagi aku memikirkan raemi. Apa gadis itu sudah pulang atau belum, meski kutahu kekasihnya pasti sudah mengantarnya. Tapi sepertinya hari ini berbeda, tidak jauh dari gerbang masuk, kulihat dia berlari kecil menuju halte bus. Tanpa pikir panjang kutepikan mobil dan menyuruhnya masuk.

“Raemi-ssi, cepat masuk” perintahku. Ia langsung masuk mobil dan kuambil jaket baseball yang ada di jok belakang padanya. “Pakai ini, bajumu cukup basah”

“Hmm…gomawo hyunwoo-ssi”

“Kau mau pulang kan?”

“Ne…tadi mau bareng yerim tapi dia dijemput hyungwoon”

“Oh…lalu kekasihmu?”

“Wonho? Entahlah, tidak ada kabar” jawabnya pendek. Aku hanya mengangguk pelan. Menyalakan heater agar dia tidak kedinginan.

Sampai di apate, selagi ia mengeringkan tubuh kubuatkan coklat hangat dan camilan, tidak lupa juga obat penangkal flu. Aigooo~ tindakanku melebihi kekasihnya sendiri bukan?.

“Minumlah” ucapku sambil menyerahkan segelas hot chocolate. Ia duduk disampingku dan seketika situasi jadi awkward. Sial… Inilah yang selalu buatku gagal untuk dapat pacar.

“Uh… Sepertinya ada film bagus” ia memecah keheningan dan langsung menyalakan tv, yeah aku harus berterimakasih karena ada film kartun, setidaknya membuatnya untuk tetap duduk disampingku, menonton sambil habiskan minumannya.

“Tidak apa kan nonton film ini?”

“Ahni..Tidak kusangka kau masih suka nonton film ini”

“hehehe film kartun tidak pernah buatku bosan” ucapnya dan kembali fokus menonton.

Satu jam berlalu, ia sudah terlelap dengan kepala bersandar di sofa. Kudekatkan wajahku agar bisa menatapnya lebih jelas. Hidung yang tirus, pipi merah merona dan bibir pink pucat, begitu cantiknya sahabat kecilku ini. Lagi-lagi aku hanya bisa berandai-andai bisa mendapatkan hatinya. Ottokhae raemi-ya…

Sesaat kedua matanya mengerjap pelan dan terbuka. “Hyunwoo-ssi…” ucapnya pelan dan memundurkan tubuhnya, entah dorongan darimana, tanganku menahan lengannya dan dengan cepat mencium bibirnya lembut selama beberapa detik.

Kulepas tautan bibirku dan memandang wajahnya dengan ekspresi bingung bercampur marah hingga satu tamparan hinggap di pipiku, yang kutahu setelah itu ia masuk ke kamar dengan membanting pintu.

Bagus Son Hyunwoo, tindakanmu makin membuat gadis itu benci padamu…

To be continue…

**alohaaa~ author sedikit lega sekarang bisa publish ff lagi😄 dengan insiden file ff ini yang nyaris hilang hihiii… buat monbebe semoga sukaaa~ maapkeun authornya suka labil gonta-ganti bias mulu XD**

2 thoughts on “{Part 1 of 2} Accidentally In Love

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s