[Part 2 of 2] Accidentally In Love

Picture1Cast:

* Song Raemi (OC)
* Son Hyunwoo aka Shownu Monsta X
* Hong Yerim (OC)
* Monsta X member

***

You know that I care about you a lot
That I get nervous even if I close my eyes for a second
When I look at you, feels like I’ll run out of breath

How are you so chillingly pretty?
(Monsta X – Stuck)

***

Tatapan mata yang begitu teduh, seakan kau merasa aman dalam dekapannya. Kecupan lembut dari bibirnya menimbulkan getaran tersendiri ditubuhmu dan kau tahu bahwa ciuman itu akan menjadi candu, jika saja kau kehilangan akal sehatmu. mungkin juga akan ada ending cerita berbeda.

Semalaman raemi sulit tidur. Berbagai cara ia lakukan agar bisa tidur pulas, namun setiap ia ingin memejamkan matanya, ingatan akan tatapan hyunwoo padanya terus muncul. Banyak hal berkrcamuk dalam hatinya. Apa maksud pria itu menciumnya? Dan bodohnya lagi ia menampar pipi hyunwoo yang notabenenya pemilik apate ini.

“Haaaaah! Ottokhae~” ujarnya gusar sambil mengacak rambut frustasi.

Digigit ibu jarinya menghilangkan rasa gugup. Tidal mungkin jika terus menghindari pria itu terus. Meski seharusnya ia patut mendapatkan penjelasan dari hyunwoo. Ia ambil ponsel bermaksud menghubungi yerim namun ia pun bingung harus jelaskan dari mana.

Ia hempaskan tubuhnya ke kasur. Jemarinya meraba bibir membuat kedua pipinya merah merona. Son hyunwoo… Batinnya memanggil nama hyunwoo.

***

@ Campus

” akhirnya selesai juga tugasnya, yah kau mau cerita apa?” yerim yang baru saja datang duduk disamping raemi dan menghabiskan iced chocolate milik sahabatnya itu.

“Yerim-ah~” rajuknya memeluk lengan yerim

“Yah wae geure? Kau bertengkar dengan wonho?”

“Tidak…”

“Lalu? Soal orang tuamu?”

“Bukan…”

“Ya lalu apa?! Ppali~ sebelum hyungwon datang”

“Itu…argh! Aku juga bingung harus mulai dari mana!” ujarnya gemas.

“Ey~ jadi masalahnya apa? Apa hyunwoo?” tanya yerim tepat sasaran. Raemi menggigit bibirnya dan mengangguk. Belum sempat ia bicara, yerim melambaikan tangan ke orang dibelakang raemi, “hyungwon-ah… Oh, itu hyunwoo juga?” ujarnya, sontak raemi menoleh kebelakang dan benar saja hyunwoo jalan dibelakang hyungwon.

“Euh… Aku ada janji dengan wonho, nanti kuceritakan lagi eo? Annyeong” ujar raemi cepat-cepat kabur sebelum hyunwoo menemuinya. Ia masih belum siap berhadapan dengan pria itu setelah insiden kemarin.

“Ya~ aneh, bukannya tadi dia bilang wonho tidak masuk?”

“Tadi sepertinya ada raemi?” ujar hyungwon,

“Entahlah… Hyunwoo-ya, kau sedang ada masalah dengannya?”

“Ne? A-aniyo…” jawab hyunwoo gugup sambil menggaruk lehernya yang tidak gatal. Membuat yerim makin penasaran.

***

Jam menunjukkan pukul 10 malam dan raemi belum juga pulang. Hyunwoo masih mencari cara bagaimana menjelaskan insiden kemarin. Meski sebenarnya ia bingung harus menjelaskan tindakan spontan yang bisa lakukan, hal itu didasarkan rasa sukanya pada raemi. Ia buka kamar gadis itu yang tertata cukup rapi. Dimeja riasnya ada beberapa foto raemi saat kecil, ulang tahun keduanya dengan wajah penuh cream kue. Lalu foto dusebelahnya saat kelulusan SMA, dengan senyum ceria memegang ijazah. Hyunwoo tersenyum kecil sambil memegang foto tersebut. Salah satu yang ia sukai dari raemi, senyum ceria dari gadis itu yang selalu ingin ia lihat.

“Berikan aku kesempatan lagi untuk bisa selalu disampingmu, raemi…” ucap hyunwoo.

Ia keluar dan mengambil jaket, bermaksud mencari raemi disekitar apate. Cuaca diluar cukup dingin sehabis hujan dari tadi sore. Hyunwoo merapatkan jaketnya dan berjalan ke arah taman dekat apate. Disana sudah ada gadis yang sedari tadi ia tunggu tengah duduk disalah satu ayunan, dengan wajah resah dan helaan nafas lesu.

“Raemi…” panggil hyunwoo pelan, raut wajah terkejut langsung terlihat dan ia bersiap kabur, meski ia tahu kali ini tidak akan bisa menghindar dari hyunwoo.

“Aku minta maaf…” ujar hyunwoo mengurungkan niat raemi untuk kabur. Ia duduk di ayunan kosong samping raemi, “tidak seharusnya aku berbuat lancang padamu kemarin…sungguh raemi…aku hanya tidak mau kau jadi makin membenciku” jelas hyunwoo sungguh-sungguh.

“Y-yang terjadi sudahlah terjadi…kumaafkan” ucap raemi sambil menunduk malu.

“Kau menghindariku sampai tidak mau pulang? Apa kau sudah makan?” tanya hyunwoo dan dibalas gelengan dari gadis itu.

Hyunwoo sonyak menarik tangan raemi, “kajja, aku juga belum makan, dan sedang ingin makan ramyeon” ucapnya masih dengan memegang tangan raemi.

Lagi-lagi jantung raemi berdegup kencang saat tangan besar hyunwoo menggenggam erat jemarinya, sadar tangannya masih mengenggam raemi segera ia lepas, “m-mianhae” ucap hyunwoo. Ia lihat raemi hanya mengenakan cardigan tipis, ia lepas jaketnya dan menyampirkan di punggung raemi.

“Hyunwoo…”

“Cuaca semakin dingin, pakailah”.

***

Perlahan raemi mulai membuka diri pada roommate-nya. Ia mulai bisa menerima kebiasaan hyunwoo, sesekali melakukan kegiatan bersama saat tengah dirumah seperti memasak contohnya.

“Ini apa keasinan?” tanya raemi sambil menyendok kimchi soup yang dibuatnya. Hyunwoo yang tengah memotong daun bawang.

“Hmmm… Coba tambahkan sedikit gula dan penyedap” balas hyunwoo. Raemi mengangguk pelan dan dengan wajah serius meracik kembali masakannya. Hyunwoo diam-diam tersenyum sambil memperhatikan gadis disampingnya. Hal sederhana yang membuat hatinya senang.

“Ayo makan~” ucap raemi antusias setelah makan malam siap.

“Jadi…keluargamu semua di Jepang?” tanya raemi memulai obrolan saat makan.

Hyunwoo memgangguk pelan, “setelah ayahku tiada, ibu memutuskan untuk menetap disana”

“Lalu kenapa kau kembali kesini?”

Hyunwoo diam sejenak lalu tersenyum, “ada yang harus kucari disini”

“Cari barang maksudmu?” tanya raemi polos membuat hyunwoo terkekeh geli, “hahaha…aniyo~ bagian dari masa lalu namun harus kurebut kembali saat ini” ucapnya,

“Whoa~ kau misterius sekali, tapi semoga kau berhasil” balas raemi.

Keberhasilanku hanya kau yang bisa menetukannya raemi… Batin hyunwoo.

***

Three days later..

“Raemi-ya” wonho mengusap pelan bahu raemi. Gadis itu mengerjap pelan melihat sekeliling menyadari kalau mobil wonho sudah ada di basement.

“Oh? Sudah sampai?”

“Kajja…” wonho mengambil bungkusan belanja di jok belakang dan keluar mobil.

Ini kali pertama raemi datang ke apartemen kekasihnya itu, itu pun setelah wonho sedikit memaksanya dan berniat untuk masak makan malam ini. Raemi sendiri mulai merasa risih akhir-akhir ini dengan sikap wonho yang posesif. Ia pun belum cerita mengenai hyunwoo, karena tahu wonho tidak akan suka, meski begitu selalu ia berusaha untuk menerima sifat kekasihnya ini.

Lift berhenti di lantai 10, dimana hanya ada 5 pintu di lantai tersebut. Raemi hanya diam dan mengikuti wonho dari belakang. Ia kembali terperangah melihat ukuran apate wonho yang 1 kali lipat dari apate miliknya, ralat, milik hyunwoo. Nuansa hitam mendominasi interior, beberapa foto keluarga terpajang rapi di dekat ruang TV. Yang ia tahu wonho adalah anak tunggal, ayahnya memiliki jabatan cukup tinggi di perusahaannya bekerja.

“Kau duduk dulu, biar aku siapkan bahan masakannya” ujar wonho. Raemi hanya tersenyum dan memangguk, ia memilih berkeliling melihat isi ruangan.

Selang sepuluh menit kemudian wonho sudah siang dengan apron di tubuhnya dan sudah sibuk mengolah bahan makanan yang dibelinya tadi. satu lagi baru raemi tahu tentang wonho, ia juga pintar memasak. Sama sepeti hyunwoo…aish kenapa jadi ingat dia. Batin raemi langsung menghapus ingatan hyunwoo dalam pikirannya.

Raemi hanya tinggal duduk di island kitchen sambil memperhatikan pria itu memasak dihadapannya. “Baru sadar aku begitu tampan?” ucap wonho meski tanpa melihat wajah raemi.

“Aniyo~ hanya lihat masakanmu, aku sudah lapaaaar~” rajuknya menyembunyikan wajahnya memerah.

Hanya butuh waktu 30 menit makan malam mereka pun sudah tergidang di meja makan. Lagi-lagi raemi berdecak kagum melihatnya. “Aigo~ aku jadi malu karna tidak bisa masak, padahal tinggal sendirian juga”

“Hahaha… Ayo dimakan”

“Ne, jalmokhaeseumnida~”

Selesai makan wonho mengajak raemi ke couch depan TV dan dibelakangnya terdapat kaca dinding yang menyuguhkan pemandangan kota seoul dimalam hari. “Thank’s for the dinner” ujar raemi.

Wonho tersenyum kecil dan memberinya segelas wine. “Lalu kapan kau mengundangku ketempatmu?”

“Eh?”

“Selama ini kau hanya mau diantar sampai depan apate, apa jangan-jangan ada yang kau rahasiakan?” tanya wonho curiga,

“Aniyoo~ hahaa rahasia apa…” jawab raemi sedikit gugup, tidak mungkin ia mengajak wonho disaat ada hyunwoo didalam.

“…so?”

“…baiklah…nanti…” ucap raemi menyerah, kini ia harus pikirkan cara bagaimana bicara ke hyunwoo.

Masih menyibukkan diri mencari alasan, ia sampai tidak sadar tangan wonho mengusap pipinya lembut dan menatapnya dalam, “w-wonho…” ia tarik pelan dagu raemi dan mengecup lembut bibir raemi. Ia lepas tautan bibirnya, namun masih dengan jarak dekat hingga deru nafas keduanya terdengar, tangan wonho merengkuh leher raemi kembali mencium gadis itu lebih dalam lagi.

Degup jantung raemi berdetak kencang. Memang ini bukan kali pertama mereka berciuman, namun disaat seperti ini justru membuat raemi tidak nyaman. Wonho terus mendorong raemi hingga benar-benar tak ada ruang baginya untuk bergerak. “Hhh…w-wonho…” tahan raemi sesaat mengambil nafas. Tatapan menginginkan dari pria itu terpancar meski raemi belim yakin akan memberinya.

“C-chakkaman…”

“Wae?”

Raemi menggeleng pelan, ia benarkan posisi duduknya serta kaos yang hampir terbuka, “sudah cukup malam, aku harus pulang” ucapnya lalu berdiri memgambil tas.

“Apa ada yang salah?” ujar wonho sedikit kesal.

“Tidak…kurasa jika meneruskannya lah hubungan ini akan jadi salah…” jawab raemi sebelum membuka pintu.

***

Selama perjalanan pulang ia terus merenungkan apa yang terjadi tadi. tidak menyangkan wonho akan berbuat sejauh ini padahal hubungan mereka belum lama terjalin. Apa kau juga perlakukan gadis yang pernah jadi kekasihmu seperti tadi juga? Pertanyaan besar yang menjadi keraguan dalam hatinya. Ia hanya tidak ingin membuat luka dihatinya jika memberikan pada wonho semuanya namun setelahnya hubungan mereka berakhir begitu saja…

“Hhhh…kenapa sekarang malah aku yang jadi tak tenang” grutunya pelan.

Tiba-tiba dari atah samping, benda dingin sengaja ditempel di pipi kanannya, “omo! Hyunwoo-ya”

“Jalan melihat ke depan, bukan ke bawah, coffee?” ucapnya sambil menawarkan minuman kaleng.

“Trims… Kau baru pulang dari kampus?”

“Hmmm tidak… Hyungwon habis mengajakku cari bahan untuk tugas akhir nanti”

“Ooh…”

“Kau sendiri?”

“Ne? Aku-“

“Awas!” dengan cepat hyunwoo menarik lengan raemi kedalam dekapannya saat motor kencang dari arah berlawanan nyaris menabrak.

Gwaenchana? Nyaris saja dia menabrakmu” ujar hyunwoo khawatir. Berbeda dengan raemi yang masih diam kaku dalam rengkungan hyunwoo. Jantungnya kembali berdegup kencang, entah ia pun tak mengeti mengapa sentuhan hyunwoo selalu membuat hatinya berdebar? Dan tanpa sadar raemi memegang erat lengan hyunwoo. Pria itu makin mengeratkan pelukannya bahkan hingga masuk dalam apartemen.

“Minum” ucap hyunwoo sambil menyodorkan air putih. Raemi mengangguk kikuk.

Baru hyunwoo ingin duduk dismaping, bel berbunyi, “aku saja” ujar hyunwoo bermaksud membukakan pintu.

Tak lama ia kembali dengan raut wajah bingung, “yerim yang datang?” tanya raemi. Hyunwoo hanya diam, namun sosok yang muncul dibelakangnya cukup menjawab pertanyaannya.

“W-wonho…” ujarnya kaget, tidak mengira pria itu akan menyusulnya dan di momen yang tidak tepat, ada hyunwoo disini. Wonho mengepal kedua tangannya menahan amarah. Selepas raemi pergi ia putuskan untuk mengejarnya dan bermaksud meminta maaf atas tindakannya diluar kendali hawa nafsu, namun yang ia lihat raemi bertemu pria lain bahkan berada dalam pelukan hyunwoo.

“Aku…keluar dulu” ucap hyunwoo memecah keheningan. Ia tahu posisinya salah, meski ia sedikit ragu harus mundur dari pasangan didepannya.

***

Sekitar lima belas menit kemudian, hyunwoo masih menunggu di lobby diliputi rasa bersalah dan juga khawatir. Seperti dugaannya, raemi tidak pernah cerita bahwa ia tinggal dengan pria lain dan bisa ia tahu wonho tidak suka saat melihatnya buka pintu tadi. Ia lebih merasa bersalah pada raemi, karna ia tahu betul bagaimana rasa suka raemi pada pria itu, bisa dilihat dari wajah sumringah setiap wonho mengantarnya pulang atau habis menerima telfon. Setidaknya dengan adanya wonho, kekhawatiran raemi pada orang tuanya sedikit berkurang.

Tak lama ia lihat sosok wonho dengan wajah marah keluar lift dan jalan tergesa-gesa. Jangan bilang hubungan mereka hancur? Haish! Tapi bukan saatnya kau senang son hyunwoo. Batin hyunwoo lalu bergerak kembali ke atas.

Ia buka pintu perlahan, dan tidak menemukan raemi di ruang tengah. Ia dekatkan telinga ke pintu kamar raemi, samar-samar terdengar suara isak tangis dari dalam. Hyunwoo mengepal tangan dan menyandarkan tubuhnya di depan pintu. Ingin rasanya ia masuk kedalam, menghapus air matanya dan jika bisa ia ingin jelaskan pada wonho yang sebenarnya terjadi. Namun lagi-lagi ia hanya bisa diam dan melihat gadis yang disayanginya menangis.

Will you take a step to me?
Will you look at me once more?
So I can give you everything
Will you open your heart?
I love you
Those are the only words I wanna say to you
But you don’t even know this yet
(Kihyun – One More Step)

***

Pagi hari yang tidak seperti biasanya. Ia kembali sarapan sendirian dan belum ada tanda-tanda raemi sudah bangun. Padahal segelas susu hangat dan Roti panggang buatannya sudah ia sajikan dimeja.

Hyunwoo terus menatap pintu kamar raemi hingga pintu itu akhirnya terbua, dan raemi keluar sudah rapi dengan backpacknya juga kacamata untuk menutupi matanya yang sembab habis menangis semalam.

“Raemi…makan lah dulu” ujarnya.

Gomawo…tapi aku ada shift di cafe pagi ini” ucapnya tanpa mau menatap hyunwoo.

Hyunwoo dengan cepat mengambil susu kotak di kulkas dan memasukkan roti di lunch box. “Chakkaman” cegahnya sebelum raemi keluar,

“Ini…jangan sampai tidak sarapan…” ucapnya sambil menyerahkan bekal ditangan raemi. Gadis itu menunduk dan hanya mengangguk pelan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. “Dan yang semalam-“

“Aku pergi” potong raemi langsung keluar tanpa memberi kesempatan hyunwoo bicara.

@ campus

Selesai mata kuliah kedua, hyunwoo cepat-cepat menuju kantin, tempat raemi biasa makan siang dengan yerim. Ia berharap gadis itu sudah bisa tersenyum lagi. Kedua matanya mencari sosok raemi namun ia hanya menemukan yerim duduk sendirian.

“hei” sapanya dan duduk didepan yerim.

“oh, dimana hyungwon?”

“masih di kelas”

“bukannya kalian satu kelas?”

“hmm… raemi tidak bersamamu?” hyunwoo balik bertanya,

“dari pagi ia tidak ada, kukira dia sakit, habis semua Line ku tidak dibaca” jawabnya. “ya, apa terjadi sesuatu diantara kalian?” tanya yerim curiga. Hyunwoo menghela nafas berat dan terpaksa menceritakan apa yang terjadi kemarin malam. Berharap yerim juga dapat membantunya.

“hyunwoo-ya, apa kau menyukai raemi?” tanya yerim setelah hyunwoo selesai menjelaskan. Hyunwoo diam sejenak, menimang-nimang apa ia harus menjawab jujur atau tidak.

“kau beli apartemen miliknya namun masih membolehkannya tinggal disana, bekali raemi sarapan hampir setiap hari dan tatapanmu padanya itu saaaaangat berbeda! Kurasa semua itu sudah cukup bagiku untuk menyimpulkan kau suka padanya…aku pun masih bertanya-tanya siapa kau? Apa memang kau sudah kenal raemi sejak lama?” papar yerim. Hyunwoo tersenyum dan mengangguk,

“semua yang kau katakan benar yerim=ah… aku hanya teman masa kecil raemi, namun semua kenangan masa kecil kami harus terkubur dalam ingatannya yang hilang” ucap hyunwoo, yerim kembali diam dan bersiap mendengarkan penjelasan hyunwoo.

“aku kembali dengan harapan bisa dekat dengan raemi lagi, namun saat aku kembali bersamaan dengan ayah raemi yang butuhkan uang untuk lunasi semua hutangnya pada bank. Aku ingin membantunya dengan cukup izinkan aku tinggal bersama raemi, aku ingin mengembalikan ingatannya dulu…tapi malam begini jadinya” jelas hyunwoo murung.

“pasti berat bagimu selama ini mellihat raemi dengan wonho” ucap yerim. Hyunwoo hanya mengangguk dan tersenyum miris.

“semakin lama aku tinggal bersama, makin buatku menyukainya…kuharap kau mau membantuku, yerim-ah” pinta hyunwoo. Yerim tersenyum dan mengangguk, “pasti!”

***

Menjelang malam hyunwoo baru kembali dari kampus. Lampu ruangan sudah menyala saat ia masuk, dan benar saja raemi sudah duduk di ruang tengah sambil sibuk menelfon seseorang.

“raemi…”

“o-oh? Kau sudah pulang? Euh… harusnya malam ini giliranku siapkan makan malam, tapi aku tidak lapar, tadi aku beli jjangmyeon untukmu, kau makan itu saja” jelasnya dan kembali mencoba hubungi seseorang.

Hyunwoo hanya diam dan duduk disampingnya, ekspresi khawatir, kesal dan sedih terpancar jelas diwajah raemi. “neo gwaenchana?”

“ugh! Kenapa dari tadi sibuk terus!” gerutunya kesal tidak mengidahkan pertanyaan hyunwoo.

“raemi jawab aku” hyunwoo memegang punggung tangan raemi, gadis itu kembali menunduk dan wajah yang tertutup rambut. Kedua bahunya bergetar pelan, “hubunganku dan wonho berakhir…lalu sampai sekarang aku masih belum tahu kabar kedua orang tuaku…apa yang sebenarnya mereka sedang lakukan?! Aku…aku ini anaknya! Anak satu-satunya! Tapi kenapa mereka seakan membuangku!” ujar raemi dengan isak tangis.

Hyunwoo mengusap punggung raemi pelan dan perlahan merengkuh gadis itu dalam pelukannya, membuat tangis raemi kian kencang. Ia kecup lembut puncuk rambut raemi, hal yang selama ini ingin ia lakukan. Dan menjadi sandaran gadis itu dikala raemi membutuhkan pelukan.

“menangislah…aku siap menjadi tempat keluh kesahmu” bisik hyunwoo. Dan ia terus memeluk raemi hingga gadis itu kelelahan menangis dan tidur dalam pelukannya.

***

Keesokan paginya raemi terbangun dengan kondisi kedua mata bengkak. Ia lihat sekeliling kamar dan mengingat kembali kejadian semalam. Ia menangis kencang didepan hyunwoo lalu pria itu memeluknya dan terus mengusap punggungnya untuk menenangkan hatinya, lalu ia tidak ingat lagi setelah itu.

Disamping tempat tidurnya sudah ada segelas coklat panas dan french toast diatasnya terdapat notes, ‘mianhae aku ada kelas pagi ini, tapi jangan lewatkan sarapanmu’ tulis hyunwoo dalam notes tersebut. senyum pun mengembang diwajah raemi. kenapa kau selalu ada disaat aku membutuhkan seseorang disampingku. Batin raemi. rasanya beban dihatinya sedikit terangkat karena perlakuan manis pria itu.

Baru satu gigitan roti masuk kedalam mulutnya, ponselnya bergetar, masuk video call dari nomor yang tak dikenalnya. “yeobseyo? EOMMA!” serunya saat melihat wajah ibunya dilayar ponsel.

raemi annyeong~ aigo~ lihat wajahmu, apa kau habis menangis?” tanya ibu raemi,

“iya! Dan karena siapa aku menangis?! Eomma bogoshipoyo~ kapan kalian akan kembali?”

sebentar lagi…ini ayahmu mau bicara” ucapnya dan kini ayah raemi muncul dilayar.

“appa…kau terlihat lebih kurus”

“kau baik-baik saja? Hyunwoo menjagamu dengan baik kan?” ujar sang ayah. Raemi mengangguk pelan dan kembali ingin menangis,

appa percaya hyunwoo bisa menjagamu sampai kami kembali…jadi akur-akurlah dengannya”

“arraseo appa…jaga diri kalian baik-baik juga, aku percaya appa sedang berusaha mencari uang lebih, tapi jangan pikirkan diriku, aku ada penghasilan dari kerja paruh waktu” jelas raemi sebelum mengakhiri video call.

Seharian penuh raemi habiskan waktu tidur. Beban di hatinya seakan menghilang saat kedua orang tuanya menelfon. Dan masalah wonho, ia putuskan untuk mengubur dalam-dalam, berakhirnya hubungan raemi dan wonho disaat seperti ini tidak begitu mengusik hatinya, atau karena ada hyunwoo yang lebih sering berada disampingnya.

“Hmmm…bosan…” ucapnya sambil duduk di ruang tv. Ia lihat kamar hyunwoo yang tertutup rapat dan entah mengapa malah membayangkan apa yang sedang dilakukan pria itu sekarang?

Ingatan saat pertama kali bertemu hyunwoo, ia yang selalu menyiapkan bekal sarapan dikala raemi telat bangun siang, masak makan malam bersama, dan insiden hyunwoo yang menciumnya saat sedang menonton film, semua hal yang dilakukan pria itu kepadanya mengapa terasa lebih manis dibanding apa yang ia alami dengan wonho, dan ia baru menyadarinya.

Lamunan raemi terusik saat suara gaduh dari depan pintu terdengar. “Raemi~” seru yerim.

Sahabatnya itu langsung memegang kedua pipi raemi, “neo gwaenchana?” ujarnya khawatir

“Aku baik-baik saja” ucapnya datar. Ia lihat kebelakang sudah ada hyungwon dan hyunwoo.

Hyunwoo tersenyum manis padanya hingga membuatnya salah tingkah, aish! Kenapa jadi gugup begini?! Batinnya.

“Malam ini kita pesta samgyupsal” ucap hyunwoo sambil menunjukkan kantung belanjaan ditangannya.

Seketika apartemen pun ramai meski hanya ada mereka berempat. Hyunwoo sedikit lega saat melihat raemi sudah tersenyum kembali. Ia sengaja meminta yerim untuk datang menghiburnya dan berhasil.

Dan setelah 10 botol soju habis, sebagian besar dihabiskan hyungwoon dan yerim sampai-sampai hyungwon kewalahan menggendong yerim yang mabuk berat saat pulang tadi, keadaan rumah dalam sekejap jadi mirip kapal pecah.

“Kalau tahu yerim maniak soju, aku tidak akan beli banyak-banyak” ucap hyunwoo saat membereskan meja makan.

“Sudah biasa dia mabuk seperti itu, dan sudah ada pawangnya, paling hyungwon tidak bisa tidur sampai pagi” canda raemi,

“Maksudmu?”

“Hahaha…kau pikirkan saja sendiri” balas raemi dan mulai cuci piring.

Hyunwoo ikut membantunya dengan mengelap piring yang sudah bersih. “Gomawo hyunwoo-ya”

“Ne?”

“Tadi pagi ayahku akhirnya menghubungiku…buatku cukup tenang keadaan mereka membaik” jelas raemi.

“Appa juga bilang kau bisa menjagaku dengan baik…dan semua itu benar adanya…” lanjut raemi. Ia matikan kran air dan berbalik menatap hyunwoo. “Aku tidak tahu perjanjian apa yang sudah ayahku dan kau lakukan, tapi…aku percaya dengan ucapan ayah…”

Hyunwoo menggenggam kedua tangan raemi, menatap gadis itu sayang, “raemi-ya…benarkah kau tidak ingat diriku?”

“maksudmu?”

Hyunwoo berbalik masuk ke dalam kamarnya dan kembali lagi dengan membawa foto, “ini…kau ingat kan?” ucapnya sambil menunjukkan foto dua anak kecil masih memakai seragam sekolah, gadis kecil senyum ceria dan disampingnya anak lelaki dengan tersipu malu menggengam tangan gadis kecil itu.

“Ini fotoku? Dan ini kau?”

“Aku tahu kau memang tidak ingat denganku karena kecelakaan saat itu, tapi aku masih berharap kau bisa mengingatku kembali…” jelas hyunwoo, ia raih kembali kedua tangan raemi dan menggenggamnya erat.

“Aku menyukaimu, song raemi teman masa kecilku” ujar hyunwoo yakin.

Raemi diam sesaat, ingatan masa kecilnya memang tak pernah bisa kembali, namun setelah mengenal hyunwoo, muncul rasa ingin hyunwoo ada disampingnya. “Meski memori itu telah hilang, aku tetap ingin kau disampingku, menceritakan kembali masa kecil kita…” balas raemi tersipu malu.

Senyum bahagia terpancar diwajah hyunwoo, ia tarik raemi dalam pelukannya. Hal yang selama ini ia impikan. “Gomawo raemi…kedatanganku kesini tidak akan sia-sia” ujar hyunwoo.

Ia lepas pelukannya dan mengusap pipi raemi, wajahnya kiat mendekat dan bisa dengan jelas menatap kedua mata coklat gadis itu, hidungnya yang tirus hingga bibir merah merona yang dimiliki raemi. Ia kecup lembut bibir raemi dan dibalas raemi dengan membuka bibirnya.

Hyunwoo melepas ciumannya sesaat, kembali tersenyum menyatukan keningnya dengan kening raemi, dalam hatinya perasaan senang seakan meluap hingga ke ujung kepala. Hyunwoo kembali memiringkan wajahnya dan mengecup kembali bibir raemi dilanjuti lumatan lembut pada bibir gadis itu. Ciuman hyunwoo benar-benar candu baginya, hingga tak sadar kedua tangannya sudah melingkar di leher hyunwoo sambil memberikan cakaran pelan efek dari sentuhan bibir hyunwoo yang mendominasi bibirnya saat ini.

“Hhh…hhh…kurasa aku harus menahannya sampai disini” ujar hyunwoo terengah-engah,

“Hn?”

Hyunwoo mengusap pipi raemi, “aku masih memegang janjiku pada ayahmu, bahwa akan menjagamu…”

“Ah…arraseo…uh…geure baiknya aku masuk kamar…” ucap raemi sedikit kecewa. Ia lepas pelukannya dan berjalan menuju kamar. Hyunwoo masih diam menatapnya dari belakang sambil berusaha mengontrol hasratnya. Namun gadis itu kembali berbalik padanya, mendaratkan ciuman kilat di bibir hyunwoo, “selamat malam” ucapnya cepat dan pangsung masuk kamar.

Hyunwoo hanya bisa tertawa dan menggelengkan kepala, “aigo~ son hyunwoo, kau harus cari apate baru jika tidak bisa tahan nafsumu” ucapnya pada diri sendiri.

The End

 

3 thoughts on “[Part 2 of 2] Accidentally In Love

  1. nanggung ya ini yaaaa, skinshipnya kurang banyak ini apakah efek publish di bulan puasa? hahaha
    aboji cocok karakternya begini, yaaa boleh lah next ff aboji lagi tapi lbh nyerempet ya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s